HANYA INGIN MEMBUAT ALAMAT EMAIL DAN KAOS (DOT) COM

 

Suatu waktu pada sekira sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, ketika Facebook belum merajai media sosial, Friendster lumayan kondang tetapi tak cukup familiar, email masih menjadi media yang sangat prestisius bagi saya untuk berhubungan dengan orang atau pihak lain melalui internet. Saat itu, jangankan menggunakan WhatsApp, hape saya masih Nokia dengan fitur paling istimewa adalah ringtone polyphonic.

Sehingga email, menjadi media yang sangat berguna bagi saya untuk bertukar kirim gambar atau dokumen. Waktu itu, saya masih menggunakan email dari Yahoo. Email yang saat ini masih saya gunakan untuk mengakses Facebook. Tetapi password-nya saya sudah lupa. Duh.

Saat itu, seorang saudara sepupu, mas Bambang namanya, anak dari Budhe yang tinggal di Medan, datang sowan Simbok dan Pak Tuwo di Sleman. Karena rumah orangtua saya berdekatan dengan rumah Simbok, maka saya dan mas Bambang bisa sering bertemu selama hampir dua Minggu ketika dia menginap di rumah Simbok. Dari pertemuan itu kami banyak mengobrol, meski kebanyakan juga hanya basa-basi, dan kami sepakat nantinya akan banyak bertukar serta berkirim gambar via email.

Gambar apa yang kami tukar kirim, tentu adalah rahasia besar diantara kami berdua saja.

Singkatnya, suatu waktu mas Bambang mengirim SMS kepada saya, memberitahukan bahwa dia baru saja mengirimkan gambar pada alamat email saya. Tentu saya semringah, dan segera menuju warung kopi dengan fasilitas WiFi warnet untuk membuka kiriman email tersebut.

Setelah membuka dan mencermati kiriman gambar satu per satu, saya memutuskan untuk mengirim balik koleksi gambar masjid yang saya punya. Ketika mengetik alamat email milik mas Bambang, saya mengernyitkan dahi. Kok email-nya bukan dari Yahoo, atau dari Gmail.

Emailnya waktu itu merupakan gabungan dari akronim namanya, dan perusahaan tempatnya bekerja. Kalau tak salah ingat, email-nya adalah (namanya)@traknus.com.

Sebagai tambahan informasi, saudara sepupu saya itu bekerja di perusahaan Traktor Nusantara. Perusahaan penyedia alat berat untuk pertanian, perkebunan, maupun pertambangan.

Demi melihat alamat emailnya, saya heran ada alamat email yang seperti itu. Semakin heran karena dalam setiap email-nya (saya ketahui setelah beberapa kali kami berbalas pesan), ada semacam tanda tangan atau signature berupa nama dan kata (salam hangat, atau terima kasih), saya agak lupa.

Dahi saya yang saat itu sudah merintis jalan untuk menjadi lebar, berkerut dengan banyak lipatan. Saat itu, bagi saya alamat email ya dari Yahoo, atau google dengan Gmail. Tak ada yang lain lagi. Selain dua penyedia itu, saya anggap sebagai bid’ah keanehan.

Bertahun-tahun setelah kirim mengirim gambar yang membuat saya bergairah keheranan tersebut, tepatnya beberapa hari yang lalu, baru saya tahu kalau alamat email tersebut merupakan sebuah webmail. Email yang didapat karena mempunyai website (benar atau salah?).

Saya tahu karena beberapa hari yang lalu membeli sebuah domain dan web hosting sederhana. Saya membelinya setelah membuka ulasan-ulasan, bahwa ada alamat email gratis yang bisa dibuat jika membeli sebuah domain dan layanan web hosting.

Atas nama rasa penasaran akan sebuah alamat email selain dari Yahoo dan Gmail, yang sudah terpendam sekian tahun lamanya, maka saya membeli sebuah domain beserta layanan web hosting.

Hal pertama yang saya lakukan bukan membuat situs web melalui layanan hosting tersebut, melainkan membuat sebuah alamat email. Setelah selesai membuatnya, segera saya kirim pesan ke alamat itu dari akun Gmail milik saya. Bergantian saya balas membalas pesan sendirian sampai beberapa kali, dari Gmail ke webmail, berulang-ulang. Dan entah mengapa saya merasa sedang senyum-senyum sendiri.

Saya merasa dendam sudah lunas dan tuntas. Saya mempunyai alamat email yang tidak memakai embel-embel Yahoo maupun Gmail. Tentu saja dalam waktu-waktu ke depan saya akan banyak menggunakan email dari webmail anangaji.com tersebut.

Jadi sebenarnya, website anangaji.com ini hanya saya anggap bonus saja karena mampu menyediakan alamat email seperti yang saya inginkan. Tetapi juga agar tidak sia-sia dan mubadzir, maka tulisan-tulisan yang biasanya saya unggah pada ajiguna.wordpress.com, akan saya alihkan ke website ini. Haa bayar je.

Terakhir, saya membeli domain ini dikarenakan satu hal penting. Lebih penting dari semua hal atau tulisan yang saya unggah di dalamnya. Saya ingin membuat kaos. Serius.

Saya hanya ingin membuat sebuah kaos dengan embel-embel (dot) com. Kebetulan lagi domain tersebut masih tersedia dengan nama saya. Sebenarnya, saya ingin membuat ajiguna.com. Tetapi ternyata alamat tersebut sudah ada yang akan menggunakannya, dan tak lagi tersedia ketika dicari pada semua web host atau penyedia jasa hosting website. Semenjak beberapa tahun lalu, dimulai ketika internet semakin familiar di masyarakat, saya sering melihat orang-orang memakai kaos dengan tulisan sebuah alamat situs web. Beberapa benar-benar sebuah alamat situs, beberapa lagi hanya sekadar gaya-gayaan. Seperti misalnya kakeanutang.com, mumet.com, ndhasmupeyang.com, dan masih banyak lagi.

Jujur, saya ingin membuat kaos dengan tulisan sebuah alamat situs web milik saya sendiri. Dan sebentar lagi keinginan itu akan terpenuhi. Bwahahaha.

Masih sama seperti ketika saya menulis pada ajiguna.wordpress.com, nantinya apa yang saya tulis dan unggah di anangaji.com tak lebih dari sekadar basa-basi dan omong kosong. Bahkan saya membuat sebuah kategori untuk tulisan atau unggahan saya dengan nama Wani (Waton Muni). Dengan berdasar pada kenyataan bahwa apa yang saya tuliskan kebanyakan hanya bermodal keberanian untuk bersuara. Bukan karena kuatnya suatu landasan teori atau pengetahuan.

Nantinya, saya tak menjamin website saya akan mampu menyenangkan siapapun yang membacanya, termasuk anda. Selain bahwa saya bukan penulis, saya baru tahu bahwa mengelola sebuah situs web demikian rumit dan melelahkan. Sedang saya ini hanya lulusan SMA yang sama sekali tak mempunyai bakat pada hal-hal berbau IT seperti itu. Kemarin, bahkan hanya untuk men-setting awal web tersebut, saya sudah pusing dan muntah-muntah. Beruntung salah satu kawan baik bersedia membantu secara cuma-cuma. Kalau tidak, mungkin saya sudah masuk IGD rumah sakit karena otak yang mendadak kopyor.

Jika hanya sekadar mengelolanya saja saya sudah pusing, apalagi menyediakan konten yang bermanfaat sekaligus menghibur dan menyenangkan. Saya sudah yakin kalau tidak akan mampu. Situs web ini hanya sarana saya untuk terus belajar. Paling tidak, agar tak mati terlindas jaman. Dan semenjak dahulu, ketika belajar, saya akan banyak misuh atau mengumpat ketika menemui kesulitan.

Maka dari itu, situs web ini juga membawa sebuah tag :

“Misuh Seperlunya, Belajar Selamanya.”

Demikian.

 

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

18 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.