21 Tahun Cinta Untuk Nike Ardilla

gambar : tirto.id

Sungguh awalnya saya tidak tahu kalau tanggal saat ini (19/03/2019), adalah tanggal yang bersejarah. Sejarah yang berselimut duka. Duka atas meninggalnya salah satu penyanyi Indonesia penuh talenta, Nike Ardilla. Sumpah, saya tidak tahu.

Pagi ini, saya hanya sedang bingung saja akan mengisi website ini dengan tulisan macam apa. Sembari menambahkan gula pada segelas kopi dan mengaduknya, tiba-tiba saya teringat satu paras manis yang terus mengisi ruang-ruang ingatan, Nike Ardilla. Ah ya, saya akan menulis mengenai Nike, dalam persentuhannya dengan ingatan saya.

Jadilah selepas laptop siap, saya membuka halaman admin dan menulis judul, ’21 Tahun Cinta Untuk Nike Ardilla’.

Sebelum melanjutkan menulis, saya bingung untuk menambahkan gambar atau foto Nike yang bagaimana sebagai pemanis tulisan. Saya buka lagi satu tab baru, dan segera mencari gambar yang kiranya sesuai. Dapatlah satu gambar, dari Tirto yang disertai sebuah tulisan mengenai penyanyi berparas manis itu.

Ah, ternyata tanggal ini adalah tanggal tepat dimana Nike meninggalkan saya, 24 tahun yang lalu. Saya terkesiap.
Kok bisa?
Kok tiba-tiba saja tadi sembari mengaduk kopi saya teringat wajah manisnya, dan kemudian ingin menulis perkenalan dengannya?

Kok bisa….

Perkenalan serta pertemuan saya dan Nike terjadi pertama kali di kamar kaka sepupu saya, Mbak Ning. Entah tahun berapa saya lupa. Yang pasti sudah lebih dari 25 tahun yang lalu. Pertemuan dan perkenalan dengan poster-poster serta gambar Nike Ardilla, dalam berbagai pose dan gaya serta senyum yang memenjara.

Selepas pertemuan pertama, saya selalu tak bisa meluangkan waktu untuk ‘menyelinap’ masuk ke kamar Mbak Ning setiap kali bermain ke sana, sekadar sekilas melihat senyum Nike.

Hingga kemudian terdengar berita meninggalnya Nike, saya hanya bisa termangu. Namun tetap saja, senyum Nike dalam poster-poster itu tetap memesona, tak lekang waktu.

Mungkin itu untuk pertama dan terakhir kali saya mengagumi seseorang, tanpa tahu kapasitasnya. Setahu saya waktu itu, Nike adalah penyanyi. Seperti yang disampaikan Mbak Ning dan beberapa kakak sepupu yang lain. Tetapi tak ada satu pun lagunya, yang pernah saya dengar. Saya sendiri heran, lantas apa yang saya kagumi dari Nike waktu itu. Senyum? Ah, sejauh mana senyum mampu mempengaruhi dan memunculkan decak kekaguman saya yang waktu itu, sunat saja belum.

Baru ketika tahun 1998, saya mungkin benar-benar jatuh cinta pada Nike. Tiga tahun setelah kematiannya. Gegara beberapa kaset yang diberikan oleh kakak sepupu saya yang lain, Mas Nanang.

Kaset-kaset original tanpa wadah yang kesemuanya masih dalam kondisi bagus itu, diberikan sebagai hadiah ketika saya sunat. Bersamaan dengan beberapa komik Petruk-Gareng karya Tatang S, dan juga kaset lain yang berisi lagu-lagu Koes Plus.
Kaset-kaset itu kesemuanya masih tersimpan di rumah Banteran, sedang komik-komik legendaris itu, entah sekarang berada dimana.

Kaset-kaset dari album Nike Ardilla itu diberikan Mas Nanang karena dia tahu saya mempunyai tape recorder baru. Tape recorder pertama dan satu-satunya yang seumur hidup pernah saya punya. Dibeli dengan mengumpulkan hibah dari kerabat, saudara, dan juga tetangga yang ikut bersimpati karena burung saya dipersekusi sampai menimbulkan luka.

Tape recorder merk Philips itu yang dalam waktu-waktu ke depan, dengan setia melantunkan suara emas Nike untuk saya. Saya tidak tahu satu per satu judul dari lagu-lagu itu. Tetapi ketika diputar, saya akan hapal dan ikut bernyayi atau sekadar berdendang. Sampai sekarang pun, saya tidak tahu dan sekaligus tidak hapal judul lagu dari Nike, tetapi saya masih mampu untuk ikut bernyanyi ketika ada suara Nike terdengar di telinga.

Tahun 1998, 21 tahun yang lalu, pada akhirnya saya mengerti alasan kenapa menyukai senyum Nike dari poster-poster dan gambar itu. Karena suaranya. Dan karena penjiwaan dan nyawa yang ia tiupkan dalam tiap-tiap lagunya.

Selama lebih dari tiga tahun setelah pertama kali mendengar lagu Nike dari kaset pemberian itu, saya hanya membeli satu kaset lain. Album panggung dari Iwan Fals. Jadilah beberapa tahun, dari kaset saya hanya mendengar lagu Nike Ardilla dan Iwan Fals, serta Koes Plus. Bergantian ketiganya menemani saya. Hanya yang memang paling sering saya putar, adalah lagu dari Nike Ardilla.

Pagi ini sungguh saya memang tidak tahu kalau merupakan tanggal dari meninggalnya Nike. Bahkan tak pernah terpikir untuk menulis mengenai Nike, dalam persentuhannya dengan memori ingatan saya. Tiba-tiba saja terlintas, dan saya bersemangat menulisnya. Hingga ketika membaca artikel dari Tirto itu, saya termangu. Mungkinkah Nike sedang menyapa saya?

Sampai saat ini, Nike adalah satu-satunya ‘orang terkenal’ yang secara terbuka saya mengakui, bahwa saya mengidolakannya. Suaranya, caranya bernyanyi, dan tentu saja sendu tatap matanya, dan juga senyumnya.

Ah ya, boleh kan menulis sesuatu yang demikian itu terhadap orang yang sudah meninggal?

Baru berusia 19 tahun, dan ia sudah meninggal.

“Sekali berarti, kemudian mati.”

Chairil Anwar

Nike tidak meninggal dalam kesia-siaan. Ia sudah menapak jalan untuk sampai ke puncak. Jalan dan puncak yang tak pernah dicapai oleh banyak orang lain yang menginginkannya. Ia juga tak harus melewati banyak drama serta skandal khas pesohor ibukota. Nama Nike masih relatif jernih dan jujur mengisi ruang ingatan banyak orang, dan ingatan saya sendiri.

Perihal sebab kematiannya yang masih misteri?
Bukankah kematian memang misteri? Perihal sebab atau kejadiannya?

Hujan turun, semakin lama semakin deras. Seakan ikut membawa bulir-bulir senyum Nike Ardilla.

Tak terasa, rentang waktu semenjak pertama jatuh cinta pada Nike Ardilla, sudah lebih dua tahun dari usianya.

Yaaa..ya..teruslah bernyanyi dan bersuara di surga, Nike Ardilla.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

103 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.