351 [Tigaratus Lima Puluh Satu]

Hari ini saya ingin menulis, tapi bingung mau menuliskan tentang apa. Sangat-sangat ingin menulis, tetapi tidak tahu apa yang hendak dituliskan. Semacam orang yang sangat kelaparan, tetapi justru bingung hendak memakan apa.

Akhirnya saya menuliskan ini. 351 [Tiga ratus lima puluh satu]. Itu adalah jumlah tulisan saya di blog ini. Tulisan yang anda baca ini adalah tulisan ke 352.

Saya harus berdarah-darah untuk sampai pada tulisan ke 352 ini. Saya harus naik sampai ke puncak pegunungan, turun sampai ke dasar lembah, menyusur tepi-tepi pantai, bahkan berpindah pekerjaan.

Bwahahaha, lebay….

Senyatanya memang saya kesulitan untuk sampai pada jumlah ini. Tulisan saya yang ke lima puluh, sudah saya unggah semenjak hampir satu setengah tahun yang lalu. Berarti dalam satu setengah tahun kurang sedikit, saya hanya mampu menyelesaikan tiga ratus tulisan. Saya mengkhianati komitmen terhadap diri sendiri untuk menulis paling tidak satu tulisan dalam satu hari.

Pernah sampai pada suatu titik, ketika saya jenuh untuk menulis. Jangankan menulis, bahkan melihat dan membuka blog saya ini saja, saya enggan melakukannya. Sejauh yang bisa saya ingat ketika sampai pada titik jenuh itu adalah : apa yang saya dapatkan dari menulis?

Apa yang saya dapatkan dari menghidupi blog ini?

Pertanyaan itu, ketika terus menerus membentur dinding kesanggupan saya dalam menulis, akhirnya membuat saya menyerah. Menyerah dalam artian, saya jenuh.

Saya tak mendapatkan apapun dari menulis, pun juga tak mendapatkan apapun dari menghidupi blog ini. Secara garis besar, itu yang dapat saya simpulkan. Bahkan sekadar pengunjung atau pembaca, saya tak mendapatkannya.
Lantas, apa yang bisa didapatkan dari menulis?

Karena hakekat dari menulis adalah agar ide, tulisan, ataupun hal-hal apapun yang tertuang dalam tulisan dapat dibaca oleh orang lain.
Sampai disini, lantas jika tulisan saya tak ada yang membacanya, untuk apa saya menulis?

Pernah sampai dengan beberapa minggu, hampir satu bulan lamanya, saya tidak menulis. Benar-benar tidak menulis. Membuka dan melihat blog ini saja hanya saya lakukan seminggu sekali. Sebenarnya saya sudah memaksa diri untuk tetap menulis ketika sampai pada titik jenuh itu. Tetapi selalu gagal. Baru sampai pada dua atau tiga paragraf saya sudah berhenti dan enggan melanjutkannya lagi.

Maka saya sedikit heran ketika sore tadi membuka blog ini, dan mendapati jumlah 351 arsip tulisan. Cukup lumayan. Meski jumlah 351 itu saya dapatkan selama satu setengah tahun lebih. Semenjak saya masih menggunakan blog gratisan AJIGUNA.

Mungkin karena saya memang tak berbakat menulis. Bakat saya dalam tulis menulis hanya sebatas menulis permohonan utang di bank. Hwahahaha…

Padahal saya sudah membagi beberapa kategori dalam blog ini, untuk mengakomodir keterbatasan saya dalam menulis. Terkadang saya menulis Catatan, yang berisi catatan dari pengalaman yang terjadi dalam hidup saya. Seharusnya mudah, karena saya tinggal memindahkan apa yangterendap dalam ingatan ke dalam huruf dan tulisan. Senyatanya, itu pun tidak mudah.

Terkadang saya menulis Wani [Waton Muni], yang berisi tumpahan ide dan pendapat ngawur saya terhadap hal atau kejadian apapun. Senyatanya, itu juga tidak mudah. Padahal seharusnya mudah saja, karena setiap kali menulis dalam kategori Wani, saya sama sekali mengabaikan kaidah ilmiah. Asal tulis saja, bahkan terkadang tidak saya sertai dengan data. Begitupun sulitnya masih minta ampun.

Terkadang saya menulis mengenai Buku, yang berisi pendapat atau kesan saya terhadap suatu buku tertentu. Tetapi ini juga tidak mudah, karena saya bukan pembaca yang baik. Saya hanya akan membaca buku yang benar-benar ingin saya baca. Bahkan jika banyak orang mengatakan bahwa buku ‘A’ sangat bagus, belum tentu lantas saya akan membacanya. Maka dalam kategori Buku pada blog ini, hanya ada beberapa tulisan saja.

Meski begitu, saya ingin terus menulis. Sampai kelak, entah esok kapan. Kenapa? Karena saat ini saya sedang bersemangat (lagi) untuk menulis. Maka saya bisa mempunyai keyakinan seperti itu. Entah saja kalau besok-besok saya kembali (lagi) pada titik jenuh tersebut. Pasti sudah akan berbeda apa yang saya sampaikan. Begitulah hakekat manusia, mencla-mencle….

Padahal saya juga pernah berjanji untuk menuliskan banyak hal mengenai pengalaman-pengalaman baru ketika pindah ke Semarang. Dan jujur saja, sebenarnya banyak hal yang bisa saya tuliskan mengenai Semarang. Entah kotanya, suasananya, atau bahkan kultur dan masyarakat serta orang-orangnya. Tetapi….

Mungkin besok akan saya tuliskan.

Sekarang saya hanya ingin menuliskan ini, sekadar untuk monumentasi….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *