AJIGUNA

Semua bermula pada bulan Oktober tahun 2016. Hampir tiga tahun yang lalu, kurang sebulan. Awal mula saya mulai sering membuat ‘sampah’ berupa tulisan-tulisan. Gegara seseorang yang sangat saya hormati dan kagumi. Atas dorongan beliau, agar saya sesering mungkin ‘nyampah’. “Biar sehat.” Kata beliau.

Maka jadilah, saya kemudian sering menuliskan sampah-sampah yang memenuhi hati dan pikiran, melalui media Facebook.

Sebelumnya, sebelum pertemuan yang menjadi titik tolak itu, saya kesulitan untuk menuliskan sampah agar sedikit tertata dan menjadi sedikit layak baca. Pun saya kesulitan untuk sekadar menulis lebih dari seratus kata. Tetapi semenjak guyuran ilmu yang sungguh bermanfaat itu, paling tidak sampah dari saya kini bisa sedikit dipilah serta dipilih. Mana yang organik, mana anorganik. Mana plastik, mana sayur. Mana yang benar-benar busuk, dan mana yang belum terlampau busuk. Juga banyaknya kata, kini paling tidak bisa lebih dari lima ratus pada satu tulisan utuh.

Itu semenjak bulan Oktober tahun 2016.

Facebook menjadi media utama bagi saya untuk membuang sampah-sampah itu. Jika sebelum Oktober tahun 2016 itu sampah dari saya cenderung berantakan, setelah itu mulai sedikit tertata. Ada fungsi penggunaan paragraf, dan juga penggunaan tanda baca pada tempat semestinya.

Dua tahun saya bertahan hanya menggunakan Facebook sebagai tempat sampah. Saya tahu tidak banyak yang membaca. Saya tahu pengguna internet di Indonesia khususnya lagi pengguna media sosial saat ini lebih menyukai konten berupa video daripada tulisan. Dan andai memilih membaca atau membuka sebuah tulisan, saya yakin mereka lebih memilih membaca dari sumber-sumber atau penulis yang sudah mapan secara sosial. Kalau penulis personal paling tidak Tere Liye. Kalau dari media, mojok.co waktu itu menjadi pilihan mereka.

Saya tahu tulisan saya di Facebook tidak dibaca, bahkan oleh kawan-kawan saya yang terakhir kali saya melihat sebelum non aktif, berjumlah 536 ekor orang.

Ahahaha, sedangkan banyak orang yang bukan penulis pun, mempunyai jumlah pertemanan sampai dengan ribuan, dan mempunyai pengikut sampai dengan puluhan bahkan ratusan ribu robot orang.

Tetapi saya tetap menulis, tetap nyampah, dan terus menerus mengeluarkan kata demi kata.
Tak peduli bahwa pada akhirnya, sampah-sampah itu membusuk tanpa ada guna.

Otak dan pikiran saya terlalu bebal untuk dapat mengerti dan memahami, bahwa semestinya pada era saat ini, tak ada gunanya mengerjakan hal-hal unfaedah semacam itu. Pada posisi saya, menulis adalah hal yang sama sekali tak memiliki manfaat. Tak bisa menghasilkan uang, dan sama sekali tak menaikkan pamor serta ketenaran.

Sudah begitu, setelah dua tahun berlalu semenjak 2016, pada 2018 saya malah nekat untuk membuat sebuah blog gratisan, dari wordpress. Blog itu beralamat di https://ajiguna.wordpress.com/

Sebenarnya itu adalah blog gratisan kesekian yang pernah saya buat. Sebelumnya saya juga pernah membuatnya, baik juga dari wordpress ataupun dari blogspot. Namun kesemuanya sampai saya bosan menulis di dalamnya, hanya berisi tak lebih dari lima tulisan.

AJIGUNA berisi lebih dari lima tulisan, dan bertahan sampai dengan tiga bulan. Setelah tiga bulan sebenarnya saya berencana untuk menaikkan statusnya menjadi ajiguna(dot)com, tetapi entah kenapa nama domain tersebut sudah ada yang menggunakannya meski sampai saat ini masih berstatus moderasi.

Maka saya urung menggunakan nama ajiguna(dot)com dan kemudian memilih nama anangaji(dot)com ini.

Tulisan di dalam Ajiguna tak jauh berbeda dari tulisan-tulisan sebelumnya yang saya unggah di Facebook. Hanya berisi sampah-sampah busuk saja. Tetapi dengan sedikit kemajuan, bahwa saya bisa menuliskan kata atau kalimat dengan cetak miring, cetak tebal, atau strikethrough. Ahahaha…

Menyenangkan, dan itu tidak bisa saya lakukan ketika menulis di Facebook.

Ketika membuat Ajiguna, saya berniat untuk tak pernah menulis mengenai politik. Sederhana saja, saya tidak menyukai konflik, dan politik saya anggap adalah hal yang selalu lekat dengan konflik. Namun senyatanya, sesekali saya menuliskan tentang politik. Dan itu membuat saya menjadi muak sendiri.

Saya lebih suka menulis mengenai tempat wisata, atau kuliner dan makanan sebenarnya. Tetapi menulis ketiga hal tersebut pun ternyata juga tidak mudah. Harus menggunakan banyak modal dan biaya. Ahahaha

Oleh karena itu kemudian saya menuliskan banyak hal yang sama sekali tak penting, tak berguna, dan tak bermanfaat. Karena menuliskan hal-hal tersebut tidak memerlukan banyak modal serta biaya. Hanya butuh sedikit saja kemampuan untuk mbacot. Bwahahaha…

Meski saat ini Ajiguna sudah tidak aktif, dan saya tak pernah lagi mengunggah tulisan karena sudah berpindah pada alamat domain ini, namun saya akan terus mengingatnya sebagai sebuah titik tolak. Titik tolak dan awal keberangkatan saya untuk berani menulis, dan terus menulis.

Banyak orang berani dan mampu menulis hal-hal besar dan berguna, namun hanya sedikit orang yang bersedia menuliskan hal-hal remeh-temeh serta sepele.

Dan saya adalah sedikit orang yang bersedia menulis hal-hal remeh-temeh serta sepele itu.

*******

Disclaimer : Kesediaan menulis hal-hal remeh-temeh dan sepele adalah karena saya tak mampu menulis hal-hal yang lebih berguna dan bermanfaat. Itu!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *