Akhir Pekan Bersama Buku : Aleppo, Rusdi Mathari

Sudah akhir pekan, dan sudah saatnya kembali bersama buku. Setelah berjalan tiga kali, Tuhan Pun Berpuasa,Surat Kepada Kanjeng Nabi,
dan yang ketiga Bumi Manusia,
maka ini adalah yang keempat :

Aleppo, Rusdi Mathari.

Buku yang saya ambil fotonya itu bertahun cetak 2016, diterbitkan oleh EA Books. Buku ini mempunyai dimensi panjang x lebar yang tidak seperti umumnya buku. Lebih kecil. Sehingga terlihat lebih simpel dan mudah untuk masuk ke dalam tas ketika ikut bepergian. Lebih terasa nyaman juga berada dalam pelukan jari-jari ketika membacanya. Dengan tebal 295 halaman namun menggunakan jenis kertas cokelat berkualitas baik, buku ini tidak intimidatif. Tidak terlihat terlampau tebal, hanya sekira 1,5 sentimeter saja.

Saya akan sangat merasa bersalah kalau sampai tidak menyarankan buku ini kepada anda. Subyektif tentu saja, tetapi sampai saat ini subyektifitas saya dalam menilai sesuatu tak sampai pada level goblog. Goblog dalam arti, subyektifitas buta tanpa dasar.

Ini adalah buku pertama Cak Rusdi, begitu Rusdi Mathari lebih akrab dipanggil. Buku yang berisi kisah serta sejarah kehidupannya sehari-hari. Mirip dengan autobiografi, tetapi dengan sudut pandang dan gaya kepenulisan yang berbeda.

Begini, meski buku ini berisi sejarah dan kisah perjalanan hidup Cak Rusdi secara pribadi, tetapi dari tulisan-tulisan serta kisahnya, kita seakan menemui diri kita sendiri, kisah kita sendiri. Kita tak akan merasa berjarak, atau merasa sebagai orang kedua ketika membaca. Kita akan merasa sebagai orang pertama, orang yang menulis kisah dan cerita itu, dan sedang kembali membacanya.

Cak Rusdi mampu menuturkan kisah-kisahnya, meski sangat bersifat personal, tetapi dengan cara dan bahasa universal. Sehingga, pembaca akan merasa bahwa mereka juga kadangkala mengalami hal-hal atau kejadian-kejadian tersebut.

Saya akan menukilkan beberapa paragraf dari buku ini, pada tulisan yang diberi judul, Simbok.

***

Beberapa orang memegangi tangan saya sebelum saya melompat ke lubang sedalam lebih kurang dua meter. Bapak dan Paklik yang sudah lebih dulu berada dalam lubang membantu memegangi kaki saya. Saya turun ke lubang dan segera berdiri di samping Bapak dengan perasaan tak keruan.

Di belakang saya dinding tanah. Di depan dinding tanah. Di kiri kanan juga dinding tanah. Udara senja menjelang magrib yang lembab di musim hujan membuat keringat di badan terasa seperti embun. Dingin.

Di lubang itu saya merasa, lebar lubang kira-kira hanya semeter. Mungkin kurang. Panjangnya sekitar dua meter.

Beberapa orang telah menggalinya beberapa jam yang lalu persis di bawah pohon mahoni yang besar. Itulah liang kubur buat Simbok yang meninggal selepas asar.

Dia pengasuh saya sejak masih saya balita hingga SMP. Simbok yang setia.

Perempuan yang selalu mendongeng tentang si kancil dan buaya setiap kali saya hendak tidur. Perempuan tanpa anak yang selalu mengajak saya menonton tari topeng, ludruk, atau tayub di musim giling tebu di pabrik gula. Perempuan yang pagi-pagi buta sering membangunkan saya untuk sembahyang subuh. Pengasuh yang bahkan tidak terima bila Ibu atau Bapak memarahi saya. Bagi dia, saya adalah anak kandungnya. Darah daging yang segalanya.

Ketika sudah sakit-sakitan dan payah berjalan, hampir setiap pagi dia menyempatkan diri duduk di teras rumah hanya untuk melihat saya yang berseragam SMP berangkat ke sekolah. Lalu menyelipkan ke saku baju beberapa lembar uang yang entah dia dapat dari mana. “Mudah-mudahan aku bisa melihat istri dan anak-anakmu.”

***

Seseorang yang oleh Cak Rusdi disebut sebagai, Simbok, ‘hanyalah’ pengasuhnya. Bukan ibu kandung, meski Cak Rusdi tak menerangkan lebih lanjut apakah masih mempunyai perhubungan ikatan darah dengan ‘Simbok’ ataukah tidak.

Yang jelas, pada paragraf selanjutnya, Cak Rusdi menceritakan, bahwa ia sangat berduka ketika Simbok meninggal dunia. Sangat menyesal karena pada saat terakhir tidak bisa menemani Simbok yang sangat menyayanginya, dan begitu juga Cak Rusdi sangat menyayanginya. Bukan ibu kandung, dan juga bukan anak kandung.

Sampai disini saja, Cak Rusdi sudah banyak memberikan pelajaran berharga, tanpa bahasa menggurui. Cinta, dan kasih sayang, tidak terbatas pada hubungan darah. Cinta dan kasih sayang semestinya memang ada, pada dan antar sesama manusia. Tulisan berjudul Simbok ini, baru berada pada awal buku. Tulisan kedua, dan saya sudah terhenyak serta menitikkan air mata ketika membacanya. Kelak, saya menitikkan air mata bahkan ketika hanya melihat sampul buku ini.

Buku ini dibagi menjadi beberapa bagian. Hanya sekadar untuk mengaleniasi serta memudahkan pembaca untuk melihat ruang waktu dan sejarah kehidupan Cak Rusdi. Mulai dari masa kecil dan masa sekolah serta kuliah. Masa pubertas, kebelet nikah, dan masa-masa ketika ia mengadu idealismenya dalam menekuni pekerjaan sebagai wartawan.

Jika anda sedang belajar menulis, maka buku ini wajib untuk anda miliki, dan anda baca secara rutin.
Jika anda ingin mengerti bagaimana sebaiknya idealisme terus dijaga dalam hidup, termasuk ketika bekerja, maka buku ini juga wajib anda miliki, dan anda baca.
Jika anda merasa hidup ini tak menyenangkan, maka buku ini wajib anda baca, sebagai bahan referensi kenapa sebaiknya anda mensyukuri hidup dan kehidupan.

Akhir kata, akhir pekan bersama buku kali ini saya akhiri dengan kalimat, permohonan, yang sedikit memaksa :

“Tolong doakan Cak Rusdi, Rusdi Mathari, agar terus bahagia bersama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, di alam keabadian.”

Cak Rusdi sudah meninggal dunia. Beliau guru saya. Dari beliau saya belajar menulis. Dan karena beliau saya tetap dan akan selalu menulis, meski semenjak mendapat wejangan dari beliau sampai saat ini, tulisan-tulisan saya tak kunjung membaik.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

34 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *