Akhir Pekan Bersama Buku : Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer

Kembali akhir pekan, dan kembali bersama buku.
Sudahlah, sejenak lupakan berbagai hedonisme akhir pekan, belanja, dan konsumtivisme yang berujung pada kegamangan isi dompet dan rekening pasca kejadian.

Duduk di rumah, baca buku.

Akhir pekan adalah untuk istirahat, bukan untuk kesana kemari. Percaya saja, tapi kalau tidak percaya, ya sudah.

Setelah pekan pertama bersama Emha menyelami hakikat puasa
dan pekan kedua masih bersama Emha untuk menulis surat Kepada Kanjeng Nabi
maka kali ini kita akan ‘melompat’ sejenak pada novel terbaik dari Indonesia. (terbaik menurut saya tentu saja)

Akhir pekan kali ini, saya menyarankan anda untuk lebih memahami awal pergerakan nasional, melalui Pramoedya.

Bagi beberapa orang, mungkin Pramoedya jauh lebih familiar baginya, daripada semua orang yang pernah dikenalnya.
Bagi anda yang belum mengenal, saya sampaikan :
Pramoedya adalah penulis yang sangat baik, dengan isi tulisan yang sangat baik.

Sebatas itu juga saya mengenal Pram. Maka saya tidak akan ndakik-ndakik merasa sok kenal Pram, beserta isi kepala serta pemikirannya.

Bumi Manusia adalah satu dari kuartet yang lebih luas dikenal dengan ‘Tetralogi Pulau Buru’.
Semua ada, karena Pram sempat dipenjara dan diasingkan di Pulau Buru. Pulau tempat pembuangan para napol dan tapol.

Apakah kemudian Pram memang bersalah?
Tidak usah dibahas. Saya hanya akan merekomendasikan anda untuk membaca Bumi Manusia.

Kenapa?
Ya karena sangat bagus.
Saya tidak akan merekomendasikan sesuatu yang tidak bagus, atau bagusnya biasa-biasa saja. Ini bagusnya keterlaluan. Bahkan istri saya yang tidak suka membaca, begitu membacanya, buku itu tidak lepas sampai selesai halaman terakhir.

Bumi Manusia dan persoalannya

“Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan segala persoalannya.”

Cuplikan dialog itu terjadi antara Minke, tokoh utama dalam novel, dengan ayahnya yang seorang pejabat setingkat bupati pada masa kolonial.

Buku yang ditulis pada tahun 1975, dan dicetak terbit pertama pada tahun 1980, membelejeti segala kesia-siaan yang banyak dikejar oleh manusia. Relevan sampai saat ini, empat puluh tahun setelahnya, bahwa manusia lebih banyak mengejar jabatan, pangkat, gaji, dengan disertai kecurangan. Kecurangan yang terkadang tersamar bersama dalih negosiasi, dan ‘cara-cara’ yang memang harus ditempuh untuk meraihnya.
Kecurangan yang dimaklumi sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Hanya manusia hening dan jernih yang mampu melihat kecurangan itu, dan manusia berhati baja yang mampu menolaknya.

Buku ini tebalnya sekalian bisa untuk dijadikan bantal ketika mendadak mengantuk ketika membaca.
Sudah menjadi rahasia umum, kalau membaca buku adalah obat tidur alami yang efektif dan efisien.

Tetapi sekali lagi, saya jamin anda akan menolak untuk mengantuk ketika membaca buku ini. Kekayaan tokoh dengan ragam pemikirannya, serta cerita yang mendalam saling berkait berkelindan, akan membuat anda penasaran sampai huruf dan titik penghabisan.

Kita akan dibawa melawat, masuk ke dalam alam kehidupan masa kolonial, pada awal pergerakan nasional.
Kita akan bersyukur tak harus hidup di masa itu. Pada masa ketika Minke harus menghadapi berbagai macam cobaan serta ujian, bahkan sekadar untuk mencintai seseorang.

Hey, tunggu dulu Bung!!!

Katamu ini novel?

Betul.

Fiksi?

Iya.

Lalu kenapa harus dicari relevansi dengan masa kini?

Karena buku itu ditulis dengan studi sejarah, berdasar pada kondisi dan situasi sosial masyarakat saat itu.
Istilahnya, apa itu, saya agak lupa, Fiksi Sejarah.
Begitu ya?

Perihal penambahan suatu kata atau kalimat yang sastrawi, tentu saja itu adalah keniscayaan. Namanya juga novel, dan penulisnya romantis pula.

Yang terpenting dari buku ini, juga penyikapan kita terhadap buku-buku lain yang berkualitas tinggi, adalah bagaimana kita belajar darinya. Taddabur dalam bahasa agama, mencari manfaat dari buku yang kita baca.

Bumi Manusia mengajak kita untuk melawat pada sempitnya cara pandang kita sendiri di dalam memandang luas kehidupan, juga betapa sempitnya pikiran kita dalam melakukan penilaian terhadap suatu kejadian.

Adil sejak dalam pikiran

Terkadang, kita terlalu mudah memaksakan pendapat atau pandangan kita terhadap suatu hal, tanpa pernah berkenan memandang dari sudut pandang orang lain.

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.”

Kata Jean Marais, sahabat Minke. Pada suatu kali ketika Minke berkeluh kesah, dan meminta pendapat.

Terpelajar tak hanya mencakup pada mereka yang belajar pada lembaga pendidikan formal. Terpelajar lebih merujuk pada setiap diri manusia, karena mereka adalah pelaku dan pembelajar dari kehidupan.

Pram seolah berpesan, bahwa setiap manusia harus berhati-hati dalam pebuatannya, dengan terlebih dahulu menimbang baik-buruk serta takaran keadilan, di dalam pikiran.
Sebelum menjadi suatu perbuatan, hendaknya manusia menimbang segala sesuatunya semenjak dalam pikiran.

Apa yang terjadi saat ini, tajamnya gesekan di dalam masyarakat hanya karena perbedaan pandangan serta pilihan politik, adalah karena kurangnya pertimbangan di dalam akal pikiran. Kurangnya menimbang rasa keadilan terhadap perbuatan yang akan dilakukan.

Pada akhirnya, buku ini harus anda baca untuk menemani akhir pekan. Percayalah, buku tak pernah berkhianat. Yang berkhianat adalah mereka yang membenci buku, tanpa pernah membaca dan tahu isinya.

“Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan.” Pramoedya Ananta Toer, melalui Minke.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

16 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.