Akhir Pekan Bersama Buku : Dawuk ‘Kisah Kelabu Dari Rumbuk Randu’, Mahfud Ikhwan

Sudah hari Sabtu, sudah kembali akhir pekan, saatnya untuk kisah kelabu.

Pernahkah anda mengalami situasi ketika beragam macam prasangka serta praduga beredar berseliweran di sekitar anda?
Entah itu prasangka dan praduga mengenai orang lain, atau bahkan mengenai diri anda sendiri.

Jika anda menyukai prasangka, tentu menyenangkan. Tetapi kalau sebaliknya, tentu takkan menyenangkan.
Yang pasti, suka atau tidak suka, dua golongan akan dipersatukan oleh satu hal yang sama, penasaran.

Penasaran mengenai sumber prasangka, penasaran mengenai kebenarannya, dan tentu saja penasaran tentang bagaimana nanti akhirnya. Terkadang rasa penasaran itu mengalahkan rasa yang kurang menyenangkan.

Meski tak menyenangkan dan terasa menyakitkan, rasa penasaran akan sejenak menutupnya. Menutup untuk mencari berita-berita terkait, dan mengubah prasangka menjadi fakta.
Tentu juga fakta menurut diri kita sendiri.

Tetapi setidaknya, prasangka sudah beranjak menjadi fakta. Meski juga tak menutup kemungkinan bahwa fakta tersebut belum terkuak sepenuhnya.

Buku ini, karya dari penulis yang sangat berkualitas, —Mahfud Ikhwan— ini, akan memuaskan dahaga anda mengenai prasangka dan praduga.

Sejenak anda akan mengira bahwa cerita buku ini sedang menuju ke utara. Tetapi sejurus kemudian lewat beberapa kata dan kalimat, tiba-tiba saja prasangka anda sudah kadaluwarsa. Karena jalan cerita tiba-tiba berada di sisi paling selatan.

Atau anda menyangka bahwa cerita dalam buku ini sudah menjelang terang, dengan beberapa prasangka yang dapat anda baca dari beberapa lembar kalimat. Namun beberapa lembar itu mendadak buyar, dan prasangka anda tiba-tiba saja sudah sangat tidak berguna karena hanya dalam tak kurang dari satu halaman, cerita tak kunjung terang bahkan cenderung semakin gelap dan temaram.

Buku ini adalah peraih ‘Kusala Sastra Khatulistiwa’ tahun 2017. Bisa anda lihat dari gambar sampul yang saya ambil fotonya.
Tetapi jangan tanya saya mengenai apa itu Kusala Sastra Khatulistiwa, saya juga tidak tahu.

Yang saya tahu bahwa itu adalah penghargaan bergengsi bagi suatu karya.

Bagi saya sendiri, membaca awal buku ini cukup melelahkan. Beberapa lembar pertama saya baca dalam tempo cukup lama. Bukan tidak menarik, tetapi memahami jalan ceritanya cukup melelahkan.

Butuh waktu dan kesabaran serta pemahaman ekstra keras. Tetapi, bukankah selalu begitu perihal buku atau tulisan, atau karya apapun termasuk lukisan?
Dibutuhkan waktu untuk dapat memahami apa yang termaktub dalam kata.

Saya sendiri cukup tersiksa membaca buku ini, hahaha…

Pertanda bahwa saya ini bukan pelahap buku yang baik. Otak saya pening membaca buku yang sulit dipahami oleh kerdilnya pemahaman.

Baru beberapa lembar, dan buku ini saya letakkan di dalam rak, dalam waktu yang cukup lama.

Akhirnya saya baca lagi ketika saya sudah bosan mengulang membaca buku yang ada. Dan…….~

Begitu mulai membaca lagi, saya tak mau melepaskannya. Saya tandaskan buku ini dalam sekali baca. Bahkan seingat saya waktu itu, saya sampai tidak menulis untuk blog ini, demi menyelesaikan membaca buku. Yaaa…buku ini memang mempunyai daya pikat yang luar biasa.

Pada awalnya memang saya tak begitu tertarik untuk meneruskannya. Karena njelimetnya itu tadi.
Tetapi begitu membacanya lagi….rasanya tak ingin lepas sampai selesai pada kalimat terakhir.

Terlampau banyak prasangka yang harus dituntaskan, dan saya rasa akan terbawa dalam mimpi jika tak diselesaikan.
Cerita dalam buku ini akan membodohi kita semua. Akan menghilangkan rasa sok tahu kita. Akan menghilangkan segala prasangka kita.

Pada akhirnya kita hanya bisa pasrah dan menyerah, untuk kemudian memilih membaca buku ini tanpa menyematkan prasangka apapun selain ikut larut di dalamnya.

  • Anda akan merasa ikut duduk di warung kopi, mendengar cerita dan bual-bualan serta tawar menawar utang.
  • Anda akan ikut pergi masuk ke dalam hutan mencari kayu serta madu.
  • Anda akan tiba-tiba menjadi Mat Dawuk yang kesepian.
  • Anda sekaligus akan merasakan dada terbelah seperti yang dialami Blandong Hasan.

Penasaran?

Silahkan segera beranjak ke toko buku, mumpung masih pagi.

Selamat berakhir pekan, selamat membaca buku.

Semoga kesehatan, keselamatan, dan juga kebahagiaan selalu bersama anda.

Salam.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

916 Comments

  1. I have been exploring for a little bit for any high quality articles or blog posts
    in this sort of space . Exploring in Yahoo I ultimately stumbled upon this
    website. Studying this information So i am happy
    to convey that I’ve an incredibly just right uncanny feeling I discovered exactly what I needed.
    I most indisputably will make certain to don?t
    fail to remember this website and provides it a look regularly.

  2. I’ve been surfing online greater than three hours today,
    but I never discovered any interesting article like yours.
    It is pretty value sufficient for me. In my view, if all web owners and bloggers made excellent content as you probably
    did, the net will be much more helpful than ever before.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *