Akhir Pekan Bersama Buku : Para Bajingan Yang Menyenangkan, Puthut EA

Saya tak pernah habis pikir, kenapa ada buku seperti ini. Lebih heran lagi, buku seperti ini kok ga ada produser film yang tertarik mengangkatnya ke layar lebar?

Tak habis pikirnya saya ini, yaa lebih karena cara penuturan tulis di dalam buku ini, seperti orang bercerita secara langsung, sembari ngopi dan makan kudapan. Nyamleng.

Kita tak harus berpikir keras ketika membaca buku ini, tetapi mendapat banyak pelajaran daripadanya.

Anda harus baca. Harus.

Buku yang saya ambil fotonya itu, sebenarnya berwarna hijau muda. Tetapi mohon dimaapken, karena kualitas kamera hape saya jauh dari kata bagus, jadinya kelihatan berwarna kuning. Kurang cahaya juga mungkin, karena saya mengambil foto itu di dapur, sebelum menuliskan ini.

Buku yang sedang dipangku laptop tua saya itu, cetakan pertama. Tertulis bulan Desember 2016.

Tipis saja, hanya 178 halaman.
Jadinya berapa lembar?

Buku ini menceritakan kisah persahabatan, sekaligus kekonyolan yang terjadi diantara para tokoh-tokohnya, termasuk penulis.

Mas Puthut EA, penulis yang juga narator cerita buku ini, rupa-rupanya sedang mengalami kegalauan yang sangat perihal kerinduan masa muda bersama kawan-kawannya. Lihat saja, sudah berlalu sekira 20 tahun, tetapi masih juga menggebu kemudian ditulis serta diterbitkan.

Wajar adanya, sahabat, adalah satu dari sekian banyak hal yang takkan bisa dicari penggantinya. Dicari pada toko online manapun, tidak ada.

Apalagi teman, kawan, sahabat, yang asu-asunan. Dalam artian, ya memang asu.

Seperti Bagor yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Kisah bersama Bagor banyak diulas serta diceritakan ulang melalui buku ini. Kalau saya sampai mempunyai kawan seperti Bagor ini, sudah saya lelang di Bukalapak.

Buku ini diawali dengan halaman persembahan yang akan membuat siapapun pembacanya, terenyuh. Simak :

Iya kan?
Apalagi, salah satu diantara mereka sudah ada yang pergi mendahului.
Rasanya kemudian, seperti kita ikut kehilangan sahabat dekat.

Tetapi ya lantas ndak usah ambil tissu lalu mimbik-mimbik mengusap air mata. Bukunya berjudul Para Bajingan Yang Menyenangkan. Tentu saja penulisnya juga adalah bagian dari bajingan yang menyenangkan itu. Halaman persembahan seperti hanya menjadi semacam halaman anomali bagi keseluruhan buku ini, beserta juga halaman terakhir. Dua halaman itu, anomali yang bajingan betul.

Saya kutipkan salah satu adegan dan percakapan yang ada dalam buku ini, yang terjadi antara penulis dan kawannya yang sudah almarhum, dan tokoh-tokoh yang lain. Kemudian, simpulkan sendiri bagaimana kedekatan mereka sebagai sahabat.

***

Suatu saat saya dikasih tahu almarhum teman saya bahwa nanti malam kami akan main judi. Tugas saya memberi tahu Bagor. Siang itu juga saya ke wartel, menelepon Bagor.

“Tapi aku dijemput ya, Bung….”

“Lha kenapa?”

“Sepeda motorku rusak.”

“Kalau rusak dibawa ke bengkel, Bung.”

“Kalau soal itu, enggak usah nasihati aku, goblok!”

“Ya nanti aku nelpon Proton, aku suruh jemput kamu.”

“Itu juga enggak usah kamu kasih tahu. Aku ya bisa nelpon dia.”

“Lha terus kenapa enggak ditelpon?”

“Asal kamu ngerti ya, sekarang bulan Ramadan. Proton itu kalau datang ke rumahku, langsung klepas-klepus, ngrokok.”

“Lha salahnya di mana?”

“Lha ya bapakku nanti mengira aku enggak puasa….Terus mesti mengira aku mbeling.”

“Hei, goblok, kamu kan memang enggak puasa. Dan kamu itu bukan cuma mbeling, tapi mbeling banget.”

“O asu! Pokoknya aku dijemput!”

“Ya!”

Telepon saya tutup. Kemudian saya memencet telepon rumah Proton.

“Bung, habis Magrib nanti kita judi di Mataram. Tolong kamu jemput Bagor ya, soalnya sepeda motornya sedang rusak.”

“Jam berapa?”

“Ya kalau bisa sekarang. Nanti kamu ajak dia ke rumah Kunthet. Ini aku langsung meluncur ke rumah Kunthet.”

“Oke. Beres!”

Telepon saya tutup. Saya meluncur ke rumah Kunthet. Sampai di sana sudah ada Almarhum dan Kunthet. Saya ceritakan apa yang barusan saya lakukan. Kami bertiga cekikikan.

Dua jam kemudian terlihat Proton memboncengkan Bagor. Muka Bagor mecucu. Mulutnya umak-umik melafalkan kata ‘asu’ berkali-kali tanpa terdengar. Kami bertiga pura-pura tidak ada masalah.

Setelah mereka berdua masuk kamar Kunthet, saya tanya, “Eh, aku lupa, bapaknya Bagor nanya kamu, Ton….”

“Lha aku tadi ketemu. Pas sampai, Bagor itu mandi aja belum. Jadi aku ngobrol sama bapaknya agak lama.”

“Iya. Kata bapaknya Bagor, kamu itu menyenangkan kalau diajak diskusi.”

“Ya tadi lumayan menyenangkan. Tapi bapaknya Bagor kok berhenti merokok ya? Aku tawari, dia enggak mau….”

Kontan tawa kami meledak. Proton dengan muka heran bertanya, “Ada apa?”

“Tanyalah si Bagor….”

Bagor yang mukanya merah langsung bilang, “Ton, bapakku itu Islam dan pengurus Muhammadiyah….”

“Pak likku juga Muhammadiyah, tapi ya ngrokok kok….”

“Wooo… bajingan… kamu ngerti enggak sekarang bulan puasa?”

Proton dengan muka datar menjawab, “O iya ding….”

***

Saya sendiri ketika membaca bagian tersebut, serasa ikut larut di dalam percakapan. Serasa ikut di dalam ruang dan waktu yang sama. Ikut tertawa, dan ikut misuh-misuh sekerasnya….

Dan itu hanyalah satu adegan dan percakapan diantara puluhan adegan dan percakapan lain di dalam buku. Saya berani memberi garansi, meski gaji anda awal bulan ini sudah habis untuk membayar kasbon maupun angsuran hutang seperti saya, dan tidak bisa berakhir pekan dengan jalan-jalan, saya jamin anda akan cerah ceria membaca buku ini.

Sebelum membaca, jangan lupa siapkan teh, kopi, atau cemilan. Ngutang dulu ke tetangga atau ke warung juga boleh.

Melalui buku ini, anda akan temukan kenyataan kalau nasihat dan pelajaran serta motivasi dalam hidup, tak melulu bisa ditemui dalam bahan bacaan yang ndakik-ndakik berkhotbah mengenai surga-neraka.

Pelajaran dan motivasi hidup itu terhampar luas di dalam keseharian tuan dan puan, termasuk ketika menghadiri acara kondangan. Percayalah.

Saya lupa harga buku ini. Tetapi masih banyak tersedia pada toko-toko buku, offline maupun online.

Kalau pada akhir pekan anda tetap tak terhibur dengan buku yang saya sarankan ini, bolehlah anda melancarkan protes keras dalam bentuk apapun. Tetapi sebelumnya, silahkan dulu kunjungi dokter jiwa atau dokter saraf. Siapa tahu anda mengalami gangguan, atau ada beberapa saraf anda yang putus dan memerlukan sambungan….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

35 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *