Akhir Pekan Bersama Buku : Pasar, Kuntowijoyo

Buku ini belum lama saya miliki, dan baru selesai saya baca beberapa pekan yang lalu. Sebuah novel, dari Pak Kuntowijoyo.

Novel dengan pilihan kata serta tata letak kalimat yang sederhana, mudah dipahami, namun sarat makna.

Berlatar pada sebuah kondisi pasar, pasar tradisional, buku ini mampu menyentuh hampir semua sisi kehidupan, dalam pengkisahan ceritanya.

Pak Kunto ini sangat jenius, dengan segala ilmu dan latar belakang keilmuan beliau, tak ada kata-kata yang berasal dari galaksi lain. Semua pilihan katanya mudah dipahami bahkan oleh mereka yang tidak menyukai buku dan aktifitas membaca.
Selain itu, jenaka adalah bagian yang tak lepas dari keseluruhan isi novel ini.

Kisah di dalamnya merupakan gabungan antara tamasya, dan tertawa bahagia.

Terkadang ketika membaca suatu buku, atau tulisan, kita akan merasa lelah. Seperti menempuh perjalanan jauh tanpa mengambil jeda istirahat di tengahnya. Tetapi tidak ketika membaca buku ini. Yang ada adalah kita memang tetap berjalan, melihat suasana Pasar, namun dengan riang gembira serta banyak tertawa. Sehingga takkan ada lelah yang terasa.

Kalau tak membaca buku ini, mungkin anda takkan pernah menyadari kalau burung dara atau burung merpati, bisa menjadi obyek utama dalam sebuah novel tebal. Obyek utama yang begitu memukau dalam pengkisahannya. Menyadarkan kita bahwa burung dara bukan sekadar burung yang lucu serta menggemaskan. Bukan sekadar burung yang akhir-akhir ini menjadi berharga mahal karena dijadikan aktifitas hobi.

Burung dara bisa mengantar menuju perselisihan antar manusia, bahkan mempengaruhi suatu pergaulan serta komunikasi sosial masyarakat. Burung dara bisa mengantarkan pada puncak pertikaian, menjaganya tetap berada di puncak sementara tokoh-tokoh utamanya terus bertikai dan lupa terhadap sebab musabab pertikaian.

Oh ya anda tahu? Kuntowijoyo adalah dosen sekaligus guru besar pada tempat saya pernah menempuh pendidikan sarjana. Sayangnya, saya tak pernah mendapatkan ilmu dari beliau secara langsung. Karena ketika saya masuk kuliah, beliau sedang sakit, dan meninggal dunia tak lama kemudian.

Buku ini adalah salah satu media yang (kembali) mendekatkan saya dengan beliau. Mendekat melalui ilmu dan pengalaman. Tentang bagaimana menulis yang selayaknya bercerita secara verbal. Menulis yang seolah pembacanya ikut mendengar secara langsung, bahkan larut masuk di dalam cerita yang dituliskan.

Di dalam buku ini anda akan menemui Pak Mantri Pasar yang digambarkan sudah berusia lanjut, hidup di tiga jaman, serta penuh retorika dan filsafat hidup. Sangat menjengkelkan, namun juga sekaligus sangat menyenangkan membayangkan tingkahnya secara langsung.

Saya sendiri dengan sepenuh hati ingin misuhi Pak Mantri Pasar andai berkesempatan bertemu muka, namun sekaligus juga ingin mencium tangannya dan berguru mengenai kearifan hidup dan bagaimana bertengkar yang baik dan benar dengan kehidupan.

Sudah cukup lama saya tidak menikmati membaca novel seperti ini. Kalau bukan karena bekerja, seharian saya akan membacanya. Rasanya seperti tak ingin lepas dari huruf per huruf, sampai tandas selesai pada tanda baca terakhir. Buku ini saya selesaikan dalam waktu satu setengah hari. Kalau waktu efektifnya, berapa jam saya lupa. Sampai lewat tengah malam ketika akhirnya saya selesai, dan bisa tidur dengan nyenyak.

Rasanya, puas.

Hanya beberapa buku atau novel yang membuat saya tak ingin melepas sampai tandas. Bahkan beberapa buku membuat saya mengantuk, dan lebih serasa seperti obat tidur.
Buku ini, lebih serasa seperti air yang membasuh muka. Menyegarkan sekaligus membersihkan. Menyegarkan pikiran sekaligus membersihkan segala keruwetan perihal kata atau kalimat dalam tulisan-tulisan.

Selepas membaca buku ini, saya sendiri berusaha untuk juga kemudian lepas dari gaya menulis yang menggunakan kata terlalu ndakik-ndakik. Terpesona oleh rangkain huruf, kata, kalimat yang sederhana, namun mampu mengantarkan maksud dan tujuan secara sempurna dan paripurna.

Gampangnya, ‘tak usah ada basa-basi diantara kita’.

Saya rasa, buku ini cocok untuk menemani akhir pekan anda. Agar akhir pekan anda yang kurang bahagia, menjadi bahagia. Jika akhir pekan anda sudah bahagia, maka akan bertambah ceria. Jika akhir pekan anda sudah bahagia dan ceria, maka buku ini akan menambah segala rasa, menjadi bumbu paripurna.

Saya tak sedang promosi, tetapi hanya menyarankan kepada anda agar tak melewatkan satu buku yang demikian bagusnya.

Selamat berakhir pekan, selamat mencari buku, selamat membaca.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

39 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *