Akhir Pekan Bersama Buku : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, Yusi Avianto Pareanom

Dari kiri ke kanan, atas ke bawah, Raden Mandasia berturut-turut akan meletakkan potongan lamusir rusuk keempat sampai kedua belas lunak berlemak yang sangat enak jika dibakar atau dibuat sup, daging tanjung dari tulang punggung belakang yang nikmat jika dipanggang atau digoreng bumbu taosi, daging paha depan dengan potongan segi empat setebal dua sampai tiga ruas yang enak diolah setelah dicincang, beberapa potong daging iga — jumlahnya tak pasti karena kadang ia kepengin mencicipi sepotong dua — yang selain gurih dan empuk jika dibakar juga sedap jika dibuat sup atau semur, daging penutup atau paha belakang sapi dekat pantat yang sangat kurang lemak sehingga terlalu liat jika dibakar atau dipanggang tetapi cukup sedap jika dijadikan campuran makanan olahan lain atau ditumpuk menjadi daging lapis bakar setelah dicincang terlebih dahulu, daging punuk dengan serat-serat kasarnya yang cocok dikukus atau dimasak asap, daging leher atau sampil yang bisa dibakar atau direbus dengan santan dan gula, daging sampil kecil dari bahu atas dan bawah yang dipotong segi empat dan cocok dimasak kari atau oseng-oseng, daging kijen berbentuk kerucut yang lumayan empuk dengan lapisan kulit tipisnya yang gurih jika dibakar, sandung lamur atau daging agak berlemak dari dada bawah sekitar ketiak yang paling mengundang selera jika dipanggang lama setidaknya setengah hari atau dimasak dengan cabai hijau atau diolah menjadi masakan asam pedas manis lainnya, daging gandik atau bagian paha belakang terluar yang selain sedap digulai juga cocok dibuat abon atau dendeng, daging kelapa atau daging yang berasal dari paha belakang bagian atas yang bisa dipanggang, daging sancan atau daging otot perut yang panjang datar liat yang setelah dipukul-pukul bisa dibakar atau diiris tipis-tipis untuk tumisan dengan campuran berbagai sayur, daging sengkel dari bagian depan atas kaki sapi yang bisa dimasak sup atau soto atau bola-bola daging, daging buntut yang sudah pasti mantap bila dijadikan sup, potongan kaki yang tak terlalu jika dijadikan sup bersantan, dan terakhir — atau di bagian kanan bawah — jeroan yang terdiri atas jantung, paru, limpa, ginjal, babat, dan usus yang pas untuk gorengan, baceman, gulai, atau soto. Tapi, ia jarang memotong-motong jeroan, biasanya ia membiarkan perut sapi utuh karena ia tak mau kecipratan kotoran. Yang juga malas ia lakukan adalah memotong cingur, membelah kepala, mengeluarkan otak dan lidah, serta meloloskan tetelan dan kikil.

Raden Mandasia selalu membawa bagian lulur atau daging yang tepat berada di kiri-kanan punggung tengah, yang terdiri atas has dalam, has luar, dan daging yang menempel pada tulang yang berbentuk beliung kecil. Semua daging ini sangat lunak karena otot-otot di sekitarnya jarang digerakkan sapi. Daging-daging yang cukup ditaburi sedikit garam, bubuk merica biasa atau hitam – terserah selera, tanpa perlu bawang putih atau bumbu lain ; daging-daging yang cukup dibakar dua sisi sebentar saja sampai setengah matang supaya keempukannya terjaga sehingga lumer saat digigit ; daging-daging yang bakal membuat penikmatnya merasai kedamaian yang sampai tahap tertentu adikodrati antara ia dan penciptanya atau setidaknya sangat bersyukur bahwa dirinya bukanlah orang-orang salah arah yang berpantang daging.

*****

Raden Mandasia bisa ditemui dalam lembar-lembar kertas setebal 450 halaman ini. Bisa juga ia ditemui dalam diri kita sendiri, yang mewujud dalam ekspresi kebebasan dan khayalan mengenai kemerdekaan. Merdeka dalam hal apapun, termasuk merdeka dari tuntutan keharusan. Keharusan berbuat baik yang terselubung, kebaikan dengan syarat dan ketentuan.

Berbuat baik tak mesti dan tak tentu berharap imbal balas. Cukup lah ia terhenti pada perbuatan kita, dan tak usah berlanjut dalam pengharapan untuk mendapatkan balasan.

Buku ini, akan membuat akhir pekan anda penuh dengan tawa, senyum, sekaligus tangis dan gundah gelisah, dalam satu rangkaian tak terpisahkan.

Tak ada tawa yang abadi, begitu juga tak ada tangis yang abadi. Semua akan menjalani hidup sesuai dengan kehendak kehidupan terhadap diri kita, seperti ketika kehidupan mendatangi Raden Mandasia dengan seribu wajah dan sisi. Sisi yang terlihat berseberangan, namun sebenarnya saling berkait berhubungan.

Ini adalah buku tentang bagaimana seharusnya menerima kehidupan, sekaligus bagaimana untuk tak lekas menyerah terhadapnya.

Ini adalah tentang bagaimana, menikmati kehidupan dengan makanan, minuman, perjalanan, dan juga makian.

Ini adalah buku yang menegaskan, bahwa misuh adalah nikmat bagi jiwa-jiwa yang merdeka.

Anda tak perlu membaca buku tebal ini, sungguh tak perlu. Namun itu berarti, anda akan melewatkan satu peristiwa penting, yang tak seharusnya terlewatkan.

Karena sekali terlewat, hanya akan ada penyesalan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

17.736 Comments

  1. Hey! I know this is kinda off topic but I was
    wondering which blog platform are you using
    for this website? I’m getting sick and tired of WordPress
    because I’ve had problems with hackers and I’m looking at options for another platform.
    I would be awesome if you could point me in the direction of a good
    platform.

  2. Hi there just wanted to give you a quick heads up and let you know a few of the pictures aren’t loading properly.

    I’m not sure why but I think its a linking issue.
    I’ve tried it in two different web browsers and both show
    the same outcome.

  3. Do you have a spam issue on this website; I also am a blogger, and I was curious about your situation; we have developed some
    nice procedures and we are looking to swap solutions with others, please shoot me an e-mail if interested.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *