Akhir Pekan Bersama Buku : Sarapan Pagi Penuh Dusta, Puthut EA

Sudah akhir pekan lagi, Sabtu pagi, menjelang malam minggu, saatnya bersama buku.

Judulnya hampir mirip dengan judul sebuah novel. Buku anggitan Puthut EA, salah satu penulis favorit saya. Tapi ini bukan novel, melainkan kumpulan cerpen [kucer]. Berisi lima belas tulisan, kesemuanya cerpen [enggak dink, ada daftar isi juga], cerpen dalam buku ini akan menyunggingkan bibir anda, tersenyum, getir, dan mengerutkan dahi sekaligus dalam satu waktu.

Cerpen-cerpen yang sangat menyenangkan untuk dibaca pada hari Sabtu pagi, sembari sarapan dan berdoa untuk kebaikan selama akhir pekan. Buku yang sangat layak bahkan untuk anda bawa bepergian. Ukurannya ringkas, tak terlalu tebal.

Buku yang sampulnya terlampir di atas, adalah cetakan keempat. Cetakan pertama mempunyai angka tahun 2004. Sudah cukup lama, namun cerita-cerita di dalamnya masih terus relevan sampai saat ini. Seolah melintas batas-batas dan sekat waktu. Mungkin karena dalam tema dan cerita yang spesifik itu, penulis menggunakan bahasa dan pilihan kalimat serta kata yang universal. Sehingga ia tidak membatasi cerpennya untuk hanya hadir dalam sepenggal waktu tertentu.

Saya tidak sedang membual, silahkan beli dan baca sendiri.

Penulis menarasikan kejadian, suasana, situasi, dengan kalimat-kalimat dan pilihan kata yang sederhana, namun mendalam dan menjejakkan ingatan yang takkan lekas hilang. Terkadang bahkan, seakan kita menemui diri kita sendiri dalam cerita. Lalu kita akan terbengong, tersadar, dan sejurus kemudian menutup buku untuk menguak-nguak ingatan serta kejadian.

Ketika membaca, terkadang kita akan merasa menjadi orang ketiga yang melihat langsung kejadian. Terkadang, kita akan menjadi dan berada dalam sudut orang kedua yang ikut ada di dalam cerita. Anehnya, kita juga akan merasa bahwa kita adalah orang pertama, tokoh utama di dalam cerita.

“Jujur, aku selalu membandingkanmu dengan kekasihku. Aku tahu itu salah, kekasihku orang yang sangat baik. Tapi kebaikan sering tidak berbanding lurus dengan rasa suka. Kebaikan, mungkin berbanding lurus dengan kapling surga, tapi rasa suka adalah sebuah keganjilan yang tidak butuh pengantar apapun.”

Sebuah Kisah Sedih

Itu adalah satu paragraf dari salah satu cerpen di dalam buku dengan judul ‘Sebuah Kisah Sedih’. Masih banyak lagi paragraf-paragraf lain yang isinya dang goreng seperti itu.

Kalau membaca buku ini, saya sarankan sudah sarapan terlebih dahulu. Persis setelah sarapan juga tak mengapa. Semata agar anda tak berpikir bahwa sarapan yang tersaji di depan anda adalah dusta-dusta.

Saya sarankan juga anda sudah menyapu, membersihkan rumah, mandi, gosok gigi, dan juga keramas kalau memang harus keramas. Sebab buku ini akan sejenak mengalihkan dunia anda, dan membuat anda enggan mengerjakan hal lain sebelum tandas sampai halaman terakhir. Tentu yang terpenting kenapa anda harus mengerjakan hal-hal tersebut sebelum membaca buku, adalah agar anda tak kelabakan jika tetiba ada tamu datang bertandang.
Mosok ya ada tamu tetapi muka anda masih tak berbeda rupa dengan bantal di kamar.

Saya kira cukup sampai di sini saja saran yang bisa dituliskan. Saya tak pandai memberi saran, terlebih lagi saya tak pandai menulis. Takutnya, saran dan atau tulisan saya malah akan membuat buku ini tak lagi menarik.

Sayang kan kalau sesuatu yang sebenarnya bagus dan menarik tiba-tiba saja berbalik menjadi suatu yang terlihat tidak bagus, hanya karena seseorang menyampaikannya tidak secara indah, dan cenderung menjengkelkan.

Sudah ya, selamat berakhir pekan.

Semoga berbahagia.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

17 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *