Akhir Pekan Bersama Buku : Surat Kepada Kanjeng Nabi, Emha Ainun Nadjib

Akhir pekan bersama buku, dan ini adalah kali kedua ANG akan memberikan sedikit gambaran serta ulasan untuk anda.

Akhir pekan tak harus terlewat dengan menghambur banyak uang. Bisa saja anda melewatkannya untuk menulis surat, kepada Kanjeng Nabi.

Masih buku dari Emha Ainun Nadjib. Salah satu penulis yang pada beliau saya banyak belajar, dan oleh karenanya secara subyektif saya menyarankan beberapa bukunya untuk anda.

Setelah buku pertama yang saya sarankan, https://anangaji.com/akhir-pekan-bersama-buku-tuhan-pun-berpuasa-emha-ainun-nadjib/,
saya sarankan buku kedua yang saya rasa, wajib anda ketahui dan juga wajib anda baca.

Buku yang sampulnya saya ambil sebagai gambar utama, adalah buku dari Edisi Kedua, cetakan kedua.
Edisi Kesatu, naik cetak pada kurun waktu tahun 1996-1998, dalam tiga cetakan.

Buku ini memuat 499 halaman, dengan ketebalan buku sekira 3,5 sentimeter.

Buku ini, seperti halnya buku ‘Tuhan Pun Berpuasa’, juga mengambil perspektif dan sudut pandang dari agama Islam. Agama dan keyakinan dari penulis, dan mempengaruhi setiap buku dari beliau.
Meski begitu, buku ini juga bisa dan layak dibaca oleh orang-orang lintas agama, karena secara umum menggambarkan ekspresi cinta kepada ‘Yang Terkasih’.

”Surat Kepada Kanjeng Nabi’ adalah perwujudan ekspresi kekaguman, kedekatan, kecintaan, rasa sayang, sekaligus rasa sungkan karena hari ini segala rasa cinta itu seakan hanya menjadi omong kosong dan hiasan bibir belaka.
Hari ini umat Islam menyatakan bahwa Muhammad adalah kekasih tercinta, namun sekaligus mereka melakukan hal-hal yang tidak disukai kekasihnya.
Saling menghujat, saling menghina, saling curiga, terpecah belah, dan tak menyayangi sesama manusia.

Padahal, Muhammad adalah manusia yang mempunyai rasa cinta, welas asih, bahkan kepada umat generasi setelahnya. Bisa dikatakan, bahwa Muhammad adalah perwujudan cinta dan kasih sayang itu sendiri.

Tak berlebihan, Muhammad tak pernah membalas setiap tindak aniaya terhadap dirinya, bahkan selalu berusaha tersenyum serta terus mendoakan mereka yang berbuat tidak baik kepadanya.

Buku ini secara reflektif menyampaikan, bahwa hari ini, manusia terlalu banyak berbasa-basi dengan agama, serta melupakan esensi serta substansi.

Saya kutipkan salah satu bagian, secara utuh :

Sebab kami masih bisa menjual iman dengan harga beberapa ribu rupiah. Kami bisa menggadaikan Islam seharga emblem nama dan segumpal kekuasaan. Kami bisa memperdagangkan nilai Tuhan seharga jabatan kecil yang masa berlakunya sangat sementara. Kami bisa memukul saudara kami sendiri, bisa menipu, meliciki, mencurangi, menindas, dan mengisap, hanya untuk beberapa lembar uang.

Padahal, kami mengaku sebagai pengikutnya, ya Muhammad. Padahal, engkau adalah pekerja amat keras dibanding kepemalasan kami. Padahal, engkau adalah negarawan agung dibanding ketikusan politik kami. Padahal engkau adalah ilmuwan ulung dibanding kepandaian semu kami. Padahal, engkau adalah seniman anggun dibanding vulgar-nya kebudayaan kami.
(Hal. 31)

Buku ini membelejeti perasaan cinta, kekaguman, yang terkadang tak lebih hanya sekadar manifestasi dari segala kepengecutan karena tak berusaha untuk membahagiakan.

Bukankah ekspresi dari kata cinta, adalah perwujudan melalui tindakan nyata?

Menyatakan cinta kepada Muhammad, adalah tidak mengkhianatinya dengan segala hal yang bertentangan pada nilai-nilai ajaran serta teladan yang sudah disampaikan.

Muhammad bukan pemarah, lantas mengapa kita adalah pemarah ulung untuk setiap hal yang seharusnya bisa diselesaikan dengan senyuman?

Buku ini akan mengajak anda untuk bertamasya, jauh ke dalam relung hati terdalam, memaknai kembali arti kata cinta, perwujudannya, dan mengapa kita selama ini sering merasa hampa —meski bibir tak henti melafalkan cinta—.

Ya, karena cinta kita selama ini, terutama kepada Muhammad, hanya berhenti dan sekadar menjadi pemanis bibir belaka.

Buku ini masih bisa anda dapatkan pada toko-toko buku offline maupun online.

Ketika saya dulu membelinya, harganya masih jauh lebih murah dari satu buah kemeja di toko modern.

Selamat berakhir pekan, selamat menggali kembali makna cinta.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

13 Comments

  1. Hello! I understand this is somewhat off-topic however I needed
    to ask. Does running a well-established website
    like yours require a massive amount work? I am completely new to blogging however I do write in my diary every day.
    I’d like to start a blog so I will be able to share my experience and
    thoughts online. Please let me know if you have any kind of recommendations or tips for
    new aspiring bloggers. Thankyou!

  2. Howdy! This article could not be written much better!
    Reading through this article reminds me of my previous roommate!
    He constantly kept preaching about this. I most certainly will forward
    this information to him. Pretty sure he’s going to have a
    very good read. Thanks for sharing!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.