Akhir Pekan Bersama Buku : Yang Menyublim Di Sela Hujan, Fawaz

Kalau anda belum pernah mendengar judul buku ini, belum juga membaca, belum mengenal juga penulisnya. Jangan gusar. Ini buku kumpulan puisi.

Setidaknya begitu ketika dulu, pertama kali saya membaca judul buku ini. Saya kira ini adalah buku kumpulan puisi. Tetapi ternyata, ini buku yang jauh lebih mulia, jauh lebih menggetarkan, dan karena itu layak untuk di sarankan.

Ini adalah buku mengenai kumpulan catatan, dari penulis buku, mengenai pengalamannya menjalani proses belajar mengajar di Papua. Di Mumugu Batas Batu tepatnya.

Di tulis oleh Fawaz, volunteer Sokola, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di dunia pendidikan.

Sebelumnya saya meminta maaf, saya tidak akan mengutip satu kata atau pun kalimat juga paragraf dari buku ini.
Sebab saya belum membacanya.

Belum membaca kok berani menyarankan?
Goblog atau bagaimana?

Begini, saran buku pada akhir pekan kali ini lebih mirip dengan situasi :
“Ketika anda menyarankan anak, saudara, teman, untuk sekolah atau kuliah di kampus A, B, C, sedang anda tidak pernah kuliah, atau tidak pernah sekolah di kampus-kampus itu.”

atau,

“Ketika anda menyarankan adik anda untuk lebih baik jangan menikah dengan si A, atau si B, dengan pertimbangan kebaikan yang tentu saja subyektif dari diri anda sendiri.”

atau,

“Ketika anda menyarankan murid anda agar rajin beribadah agar mendapat banyak pahala, disayangi Tuhan, dan kelak masuk surga. Padahal anda sendiri belum pernah melihat surga. Tetapi anda yakin bahwa beribadah itu baik, berbuat baik itu wajib, dan surga itu nyata adanya.”

Begitulah….

Saya mempunyai alasan kenapa belum membaca buku ini. Alasan sebenarnya, saya mempunyai masalah dengan penulis buku. Alasan yang tidak sebenarnya, buku ini tebal.

Buku ini terdiri dari 314 halaman. Buku yang berada di tangan saya ini cetakan tahun 2017, cetakan pertama. Saya membelinya tahun itu juga. Berarti sudah dua tahun, dan saya belum membacanya kecuali bagian prolog yang ditulis oleh Butet Manurung.

Papua

Buku ini menarik, kata salah satu kawan yang pernah membacanya sampai tuntas. Inspiratif, lanjutnya.

Buku ini mendekatkan Papua kepada kita, langsung dari nadi-nadinya, dan bukan hanya dari kabar berita pihak ketiga, kata kawan yang lain.

Dan sepertinya, buku ini memang layak untuk anda baca di akhir pekan.

Selama ini kita seringkali menghakimi atau memberi nilai kepada Papua, tanpa pernah mengujinya sendiri. Dengan hidup di tengah masyarakatnya, dan atau juga memahami adat istiadat serta budayanya.

Pada satu sisi, kita mendaku diri sebagai manusia baik dan modern yang mengedepankan nalar serta akal sehat dalam menjalani kehidupan. Tetapi ketika membicarakan Papua, mendadak kita hanya setara dengan mesin-mesin, modern namun tanpa akal dan nurani.

Dan buku ini, akan mengantarkan anda kepada Papua, pada salah satu bagian dalam tubuhnya, pada nadi kehidupannya. Bagaimana mereka hidup dan mencoba untuk terus selaras dengan alam, bagaimana mereka menghargai sesama makhluk dan juga manusia, serta bagaimana mereka mengolah perbedaan menjadi kekayaan.

Menurut berbagai sumber yang valid dan terpercaya, buku ini kini menjadi semacam rujukan atau buku sumber pada berbagai universitas, khususnya pada jurusan sosial, terutama antropologi. Tak lain karena studi yang tertulis di dalam buku ini merupakan pengalaman empiris penulis. Subyektif tentu saja, tetapi mengedepankan obyektifitas. Kalau tidak obyektif, tentu buku ini akan mendapat sambutan negatif. Nyatanya, sambutan pada buku ini begitu positif.

Buku ini bisa anda dapatkan pada toko buku offline, maupun online, dengan sampul yang berbeda. Karena sudah memasuki cetakan kedua [ralat : buku ini sudah memasuki cetakan ketiga], namun dengan judul yang sama. Saya tidak tahu apakah ada penambahan atau pengurangan pada cetakan kedua. Tetapi sepertinya, isinya takkan banyak berubah dari cetakan pertama yang foto sampulnya saya sertakan dalam tulisan ini.

Taddabur ilmu

Salah seorang guru kehidupan saya, pernah berkata secara tak langsung :

“Tak semua hal dalam kehidupan harus engkau tafsirkan. Sebagian besar, cukup kamu taddaburi, kamu ambil manfaat dan belajar daripadanya. Karena tafsir membutuhkan perangkat intelektualitas yang tidak sederhana, sedang taddabur cukup menggunakan akal dan hatimu saja.”

Saya setuju, tafsir-tafsir terlalu rumit. Apalagi ketika sudah menginjak pada perbedaan penafsiran terhadap suatu hal. Rentan terhadap perselisihan.

Saya lebih setuju untuk banyak-banyak mencari apa yang dirasa sama-sama baik, kemudian bersama-sama mengamalkannya.
Termasuk mengenai buku ini.

Lepaskan semua peerbedaan penafsiran mengenai dunia pendidikan, juga Papua, untuk kemudian melangkah dalam irama yang sama. Apa saja yang dirasa baik, lakukan. Pertentangan tentu adalah keniscayaan. Utamanya ketika mencari metode belajar mengajar yang harus dipakai serta diterapkan.

Tetapi ketika anda membaca buku ini, anda akan mengerti bahwa metode pembelajaran hanyalah sekadar alat, tak lebih. Ia tak harus juga sama serta seragam. Yang terpenting, bagaimana tujuan pendidikan itu dapat tercapai. Utamanya tujuan pendidikan untuk generasi muda, di seluruh wilayah Indonesia.

Secara garis besar, isi buku ini bisa menjadi rujukan bagi metode pembelajaran lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal.

Ketika metode pembelajaran pada lembaga pendidikan formal terbentur pada penyeragaman pola dan kurikulum, kita bisa mengambil sisi humanis dari buku ini untuk diterapkan. Misalnya, bagaimana memperlakukan murid, orang per orang, sebagai entitas mandiri yang memiliki keunikan.

Sehingga kita tak lantas menyematkan kata bodoh, pada murid yang misalnya saja sulit mendapat nilai baik pada kelas-kelas dan pelajaran tertentu. Mungkin, potensinya ada suatu bidang lain. Dan tugas kita adalah, menggali serta memoles potensi itu, alih-alih mengecamnya sebagai seorang murid yang sulit berkembang.

Buku ini lebih dari layak untuk dapat diakses secara luas, ditempatkan pada rak-rak terdepan di perpustakaan semua sekolah atau madrasah.

Akhirnya, selamat membaca buku, dan selamat berakhir pekan.

Salam.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

33 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *