Aku Menjura, Kalian Tertawa

Ilustrasi. Gambar ; Pixabay

Mungkin memang karena aku ini hina, maka kalian tertawa.

Begitulah, tak ada yang benar-benar langgeng dalam sirkus kehidupan ini. Yang cenderung awet serta sedikit langgeng adalah kelucuan, mengenai perhubungan antar manusia. Mengenai kecenderungan mereka untuk saling menghantam, meski berikrar sebagai saudara.

Demikian juga, terhadapku?

Aku hampir lupa kapan terakhir kalinya, tertawa dalam sebenar-benarnya tawa. Aku hampir memahami secara sepihak, bahwa tertawa adalah cara untuk bersembunyi. Bersembunyi dari ketidakjujuran, atau bersembunyi dari kenyataan.

Semua itu berlangsung secara alamiah saja. Mengalir, seperti kewajaran. Aku hampir memahami kerikil yang berserak sepanjang jalan adalah memang karena semestinya seperti itu. Tak sekalipun aku criga, bahwa kerikil itu memang ada yang menyebarkannya.

Dalam prinsipku, toh aku tidak terhalangi berjalan diantara kerikil itu, meski sebagian terasa tajam. Tak ada batu yang benar-benar besar kurasa, maka aku tetap melangkahkan kaki meski banyak kerikil melukai.

Ah, aku tak merasa terlukai oleh kerikil-kerikil itu. Aku merasa kerikil itu kewajaran semata. Yang tak kupahami, ternyata kerikil itu sengaja ditaburkan bagi langkah kakiku.

Namun toh aku tetap tak pernah merasa bahwa kerikil itu sengaja ada. Kerikil di jalan adalah kewajaran semata. Perihal jumlah yang sekian banyaknya, mungkin karena memang begitu adanya.

Jika ada yang patut disyukuri, adalah karena pada akhirnya aku tahu kerikil itu disediakan untukku. Aku tak mengumpat, bahkan bersyukur. Pada satu titik tertentu, kerikil itu menyehatkan kakiku.

Meski kadang terasa sakit, dan aku harus menunduk untuk mengambil kerikil tajam yang beberapa masuk ke dalam kulit dan daging kakiku, tak mengapa. Sembari menunduk, aku melihat kalian tertawa. Dan aku semakin menunduk, menjura. Dan kalian semakin tertawa.

Ada hal-hal yang tak kupahami, sampai kini. Kenapa tak sekalian batu besar kalian letakkan, alih-alih ribuan kerikil tajam. Apakah karena memang menghalangi bukanlah tujuan?
Apakah memang menyakiti yang menjadi tujuan?

Kalian mengenalku, mungkin hampir seperti kalian mengenal diri sendiri. Maka tentu kalian sudah memperhitungkan, bahwa aku takkan pernah terganggu oleh batu besar. Aku bisa menghindarinya, melompatinya, lewat disampingnya, dan itu tak menyakitkan.
Tetapi kerikil tajam, dalam jumlah ribuan, pasti kalian paham bahwa aku takkan bisa menghindarinya. Pasti juga kalian tahu, hal-hal kecil yang bisa menyakitiku.

Bolehkah sejenak aku mengambil jeda, menarik nafas, dan mencoba mengingat….kira-kira, apa salahku terhadap kalian?

Adakah?

Oooh, apakah karena aku tak sama seperti kalian?
Aku bukan dari golongan yang pantas bergaul diantara kalian, dan oleh karena itu….harus disingkirkan.

Tentu saja kalian sungkan menyingkirkanku, atau secara terang-terangan mengusirku. Ada cara-cara halus yang perlahan akan membuatku menyingkir, tersingkir, dan pergi.

Salah satunya, dengan kerikil tajam itu?

Memang tak secara terang-terangan juga kerikil itu kalian sebarkan. Sedikit demi sedikit, bahkan ketika kita berjalan bersama.

Aku takkan pernah curiga, karena telah menganggap kalian saudara.
Adakah saudara yang tega menaburkan kerikil tajam pada jalan saudaranya?

Aku selalu menjura pada kalian, dengan cara sebisa yag kumampu. Semata karena aku pun tahu diri, tentang diriku.
Yang tak kupahami, ternyata itu menjadi bahan tertawaan dan lelucon semata.

Aku selalu menduga, pada awalnya, tertawa adalah sebagai cara untuk bisa menerima keberadaanku. Untuk mereduksi perbedaanku, kekuranganku, dan kecanggunganku.
Aku sama sekali tak menduga bahwa tawa itu benar-benar menertawaiku, dengan maksud melecehkanku.

Juga aku takkan pernah bisa mengerti, bahwa ada tawa yang ditujukan untuk melecehkan. Aku hanya tahu bahwa tawa adalah ekspresi bahagia.

Ada bagian-bagian yang terasa menyesakkan ketika pada akhirnya aku tahu, bahwa kerikil itu sengaja ditaburkan untukku. Ada bagian dalam sisi hati yang terdalam, terasa sakit oleh kenyataan.

Terasa nyeri, tak terperi, sekaligus semacam perintah untuk semakin tahu diri.

Ada juga perasaan yang tergugah ketika tahu, bahwa segala canda dan tawa itu memang benar-benar untuk menertawanku. Semacam perasaan yang menegaskan bahwa selama itu….aku tak pernah benar-benar diterima berada diantara kalian.

Tentu harus ada yang disyukuri, dibalik semua tabir yang telah terkuak. Terhadap kebenaran-kebenaran yang terungkap, terhadap kenyataan yang tiba-tiba berdiri gamblang.

Sama sepertiku, seharusnya kini kalian bersyukur….bahwa tak ada lagi yang perlu disembunyikan atau dirahasiakan.
Diantara kita, tak ada lagi dusta.

Kini aku tahu apa yang kalian inginkan, dan aku sudah menerima dengan penuh kesadaran.
Aku mencoba mengabulkan, dengan susah payah dan penuh kesakitan.

Harga yang harus kubayar untuk mengetahui kebenaran itu, adalah dengan menyingkirkan semua tentang kalian, tanpa kecuali.

Aku mencoba berdamai dengan segala kemungkinan membalas dendam. Toh aku menyadari, bahwa waktu itu tak seharusnya aku memasuki alam lingkaran keberadaan kalian.

Aku harusnya menjauh, dan bukannya dengan wajah polos berusaha membaur.

Anjing sepertiku takkan pernah pantas untuk berada di tengah manusia suci seperti kalian bukan?
Selalu ada najis meski itu bukan keinginanku.

Meski aku adalah anjing kotor dengan najis yang memenuhi tubuhku, aku tak pernah berniat menggigit kalian.
Meski kalian taburkan kerikil tajam, aku takkan menggonggong mengarah pada wajah kalian.

Aku akan selalu menjura, menunduk, dan menghormati manusia suci seperti kalian.

Takkan pernah lagi aku menginjakkan kaki kotorku di hadapan kalian. Aku akan selalu berjalan untuk menghindar, menepis segala kemungkinan atas pertemuan-pertemuan.

Aku bukannya marah. Tak pantas bukan bahwa anjing mempunyai perasaan marah?

Aku mencoba tahu diri, untuk kemudian selalu mencoba mengerti, bahwa anjing hina sepertiku tak pantas berada diantara kalian.

Cukup kiranya cerita berakhir dengan ribuan kerikil tajam bersimbah darah perjalanan. Bersimbah darah dari langkah yang mencoba tabah.
Cukup kiranya….

Agar tak perlu ada lagi kerikil yang kalian taburkan….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

11 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.