Alat Musik Paling Romantis, Dan Saya Tak Bisa Memainkannya

Jika separuh saja populasi manusia di dunia diberi pertanyaan perihal alat musik yang paling romantis, saya yakin separuh lebih dari yang separuh itu akan menjawab lugas : gitar.

Ya, gitar.

Mungkin saya termasuk yang separuh lebih setuju itu, bahwa gitar adalah alat musik paling romantis di dunia, bahkan mungkin sampai di akhirat.

Dawai nada yang disampaikan oleh gitar, terkadang merasuk lebih dalam pada sanubari manusia, lebih dari nada alat musik apapun. Sehingga, kata-kata apapun yang disampaikan dengan iringan nada gitar, lebih bisa diterima manusia secara universal.

Bisa diterima, merasuk jauh ke dalam, dan akan terkenang melintasi ruang-ruang dimensi waktu. Seolah abadi.

Kebanyakan orang akan dengan sukarela selama satu jam mendengarkan alunan petikan nada gitar, daripada lima menit membaca sebuah artikel pendek.

Ya, nada gitar pada skala paling sederhana, tetap jauh lebih menarik daripada kata-kata berisi teori paling mutakhir dan revolusioner.


Maka, mungkin itu sebabnya selain setuju, saya juga bercita-cita ingin bisa memainkan dawai nada gitar. Ingin menarikan jari jemari pada senar-senarnya yang terlihat seperti petapa sedang bersenandika, sembari memeluk tabungnya dan memejamkan mata.

Memainkan nada demi nada, memetik senar-senarnya dengan penuh bahagia, melantunkan lagu demi lagu atau membaca puisi sembari menelisipkan musikalisasi. Ah, indah betul.

Cita-cita untuk bisa memainkan gitar itu, muncul semenjak kelas 1 SMP. Semenjak saya mempunyai tape recorder hadiah sunatan, dan memiliki kaset Iwan Fals pemberian kakak sepupu.

Semenjak mengenal lebih jauh lagu-lagu Iwan Fals, mendengarkan beberapa lagunya lebih dari tujuh kali dalam sehari, saya kemudian ingin juga ikut bernyanyi.

Ingin ikut bernyanyi dengan iringan musik dan nada dari gitar yang saya mainkan sendiri. Melantunkan lagu ’22 Januari’ sembari tangan kanan memetik senar, dan tangan kiri dengan lincah mengunci nada.

Perlahan keinginan itu menjadi kegusaran. Kira-kira berapa harga gitar, dan kira-kira apakah Mamak mau membelikannya. Niatan untuk meminta itu saya pendam cukup lama, dan tak berani menyampaikannya pada Mamak. Apa yang bisa saya lakukan, adalah dengan sesekali meminjam gitar milik saudara, membawanya pulang, dan mengembalikannya selang satu atau dua hari.

Begitu terus, selama beberapa bulan, dan akhirnya Mamak yang baiknya kepada saya satu level dibawah Tuhan itu, bertanya apakah saya benar-benar menginginkan gitar. Saya tak langsung menjawab ‘iya’, tetapi menjawab dengan sedikit diplomatis waktu itu :

“Aku pengen ajar gitar.” (Saya ingin belajar gitar)

Jadilah, pada suatu waktu saya dan Mamak sudah berada di toko buku Sari Ilmu, di Malioboro. Di toko buku, untuk membeli gitar.

Begitulah, karena setahu kami, selain toko buku Gramedia, toko yang menjual gitar di Jogja adalah toko buku Sari Ilmu.

Di toko buku Sari Ilmu, tak ada yang bisa kami lakukan untuk memilih gitar, selain hanya merujuk warna dan bentuk, serta jumlah senar yang harus enam. Lain, tak ada. Saya sendiri waktu itu belum bisa memainkan gitar, bahkan dengan nada dan lagu yang paling sederhana.

Gitar itu harganya murah saja, dan saya tak mempunyai keberanian untuk meminta gitar dengan harga yang lebih mahal. Selain karena saya tahu bahwa Mamak harus menyisihkan sekian rupiah demi membelikan saya gitar, saya juga yakin Mamak tidak akan mau membelikan gitar dengan harga yang lebih mahal. Sebab, Mamak tahu persis bahwa saya cepat bosan terhadap sesuatu. Dan tentu saja, membelikan saya gitar dengan harga lebih mahal adalah suatu jenis perjudian.

Seingat saya, setelah memiliki gitar itu, hari-hari setelahnya saya habiskan dengan menghapalkan kunci chord gitar. Memijat senar-senar pada neck, berpindah dari satu kunci ke kunci yang lain.

Tak butuh waktu lama bagi saya menghapal kunci-kunci gitar itu, bahkan pada kunci yang sedikit rumit.

Yang membutuhkan waktu lama bagi saya adalah, stem gitar. Stem atau setting nada pada gitar. Berulang kali saya mencoba, dan sebanyak itu pula saya tidak berhasil menghasilkan nada yang pas.

Gitar pertama saya itu begitu sulit untuk disetting demi mendapatkan nada yang pas dan merdu. Sangat sulit.

Walhasil, setiap kali saya merasa bahwa nada gitar sudah tidak lagi sesuai, saya meminta bantuan pada saudara untuk men-stem-nya. Setiap kali selalu begitu. Karena dari beberapa orang kawan dan saudara, hanya satu orang saudara saya itu yang selalu bersedia men-stem-kan gitar saya. Selain juga kenyataan, bahwa dia satu-satunya yang bisa men-stem gitar saya.

Beberapa orang lain kesulitan mendapatkan nada yang pas dan sesuai untuk gitar saya, dan kemudian menyerah.

Perlahan, sulitnya men-stem gitar itu menjadi dalih diri saya sendiri, untuk kemudian mulai tak lagi tertarik melanjutkan belajar gitar.

Saya memang hapal kunci-kunci gitar. Tetapi masalahnya adalah :

“Berpindah dari satu kunci ke kunci yang lain, dengan tekanan yang pas dan kuat, memetik senar sesuai dengan nada lagu yang dimainkan, sembari bernyanyi atau berdendang sehingga tercipta nada merdu.”

Kenyataannya, saya tak bisa melakukannya. Berpindah dari satu kunci ke kunci yang lain dengan nada yang pas, timing sesuai, sembari bernyanyi dan berdendang adalah hal sulit.

Hapal kunci gitar dan memainkan gitar adalah dua hal yang berbeda. Seperti hapal rumus kimia dan bisa mengerjakan soal kimia adalah dua hal yang berbeda.

Hapal kunci gitar belum tentu kemudian bisa memainkan gitar. Hapal rumus kimia belum tentu kemudian bisa mengerjakan soal ujiannya. Begitulah.

Tetapi saya tak kemudian menyerah begitu saja dengan gitar. Saya tak mudah menyerah. Saya mencari rumus dan cara agar bagaimana saya tetap bisa memainkan gitar, di tengah segala keterbatasan. Termasuk keterbatasan dalam hal bakat.

Saya kemudian kursus atau privat. Saya rela menyisihkan uang saku demi membayar biaya privat atau les gitar.

Hampir enam bulan saya mengikuti les itu, dengan penuh ketekunan dan keyakinan bahwa suatu saat mungkin saya akan bisa mencapai satu atau dua tingkat dibawah Balawan atau Dewa Budjana.

Kenyataannya? Ketekunan dan keyakinan itu perlahan memudar bersamaan dengan jari tangan saya yang semakin kaku, dan bukannya semakin lentur. Berbarengan pula dengan kemampuan memainkan lagu dengan nada gitar, yang sama sekali tak mengalami kemajuan.

Hal itu setidaknya tercermin ketika suatu kali saya sedang bersemangat menggenjreng gitar memainkan sebuah lagu dari band Padi (kalau tidak salah ingat yang berjudul Mahadewi), dengan nada yang saya rasa sudah pas, bahkan saya rasa sedikit merdu, tetapi adik saya kemudian bertanya : kowe ki nyanyi karo nggitar lagune sopo Mas?

Saat itu saya tak langsung berhenti, namun perlahan mulai mendengarkan dengan seksama suara dan nada dari gitar yang saya mainkan. Ternyata, pas dan sedikit merdu yang saya rasakan hanya pendapat sepihak dari akal yang mulai buntu oleh karena tak kunjung mahir dan bisa. Setelah saya dengarkan, ternyata memang itu sama sekali tidak mendekati nada dari lagu Mahadewi. Ah, parah betul.

Gitar itu pada akhirnya hanya menjadi penghias tembok kamar saya, menjadi pelengkap dari poster band idola saya, Guns N Roses dan juga Megadeth. Selebihnya, saya bisa ingat menyentuh gitar itu lagi hanya untuk memindahkannya ke gudang. Sekali lagi, hampir selalu maha benar Mamak dengan segala tebakannya terhadap diri saya yang cepat merasa bosan.

Selang beberapa tahun kemudian, keinginan untuk bisa bermain gitar itu kembali muncul. Menggoda bangkai dari cita-cita yang sudah lama saya kubur dalam-dalam untuk bangkit kembali dan menjalani kesempatan kedua. Kesempatan kedua itu saya wujudkan dengan kemudian membeli gitar yang saya rasa kualitasnya ‘lebih baik’ dari gitar pertama.

Toko buku Sari Ilmu kembali menjadi pilihan untuk menebus gitar kedua. Bedanya, saat itu saya tak lagi bersama Mamak, tetapi bersama salah seorang kakak sepupu.

Yang tak berbeda, bahwa sekali lagi hanya rupa dan bentuk yang menjadi pertimbangan saya ketika membeli gitar kedua. Ketika berada di toko, gitar itu sama sekali tidak saya coba. Saya tak ingin mempermalukan diri sendiri dengan membuka aib bahwa pada kenyataannya, saya tak bisa men-stem gitar.

Kesempatan kedua tak lagi menempatkan Balawan dan Dewa Budjana sebagai sosok yang harus saya kejar. Hampir mirip seperti gitaris Jikustik saya juga sudah terima. Bisa nggitar kayak Enda-nya Ungu saya juga sudah terima. Pokoknya asalkan merdu saja di telinga.

Hari-hari berikutnya setelah datangnya gitar baru membuat saya kembali bergairah berdansa dengan cita-cita yang bangkit dari kubur itu. Buku-buku berisi chord dan lirik lagu saya keluarkan dari kardus penyimpanan. Di kamar saya bahkan lebih banyak buku berisi chord lagu daripada buku tulis dan buku pelajaran sekolah.

Cita-cita itu sempat tumbuh sayap dan hampir mengepak untuk terbang menggapai angan.

Tetapi apa daya, sayap yang tumbuh itu dengan cepat kembali patah. Sepertinya jari-jari tangan saya yang cukup panjang ini bukan tercipta untuk menjangkau kunci dan nada gitar, tetapi lebih terbaca untuk hanya bisa memasak oseng-oseng tempe dan mencari upil saja di lubang hidung.

Selama lebih dari satu tahun menyuntuki gitar, dengan mengabaikan rumus-rumus kimia, fisika, pelajaran bahasa Indonesia, dan semua pelajaran lain di sekolah termasuk pelajaran olahraga, tetap saja saya tak bisa memainkan gitar. Tetap saja tangan saya tak bisa menghasilkan nada yang pas dan sesuai. Tak perlu merdu, bahkan sekadar pas dan sesuai saja, belum.

Akhirnya (kembali) gitar itu bernasib sama dengan gitar yang pertama. Menjadi pelengkap dari poster band idola di tembok kamar, sebelum akhirnya pecah berantakan oleh adik bungsu saya.

Apakah kemudian usai pada gitar kedua?

Belum. Masih ada gitar yang ketiga. Yang bahkan saya beli tanpa tahu maksud dan tujuan dari pembelian itu. Maksudnya, saya membeli gitar ketiga tanpa mempunyai maksud dan tujuan. Saya hanya membelinya, dan tak tahu untuk apa. Itu memang gitar, untuk gitaran. Tetapi waktu itu saya bahkan sudah tak mempunyai niat (lagi) untuk bisa memainkan gitar. Cita-cita saya untuk bisa memainkan gitar juga sudah mati kembali untuk kedua kalinya. Dan saya tak berniat untuk membangkitkannya.

Gitar itu saya beli di toko buku Gramedia, bukan lagi di toko buku Sari Ilmu seperti yang pertama dan kedua. Jika ada yang sama, sama-sama masih membeli gitar di toko buku, juga karena pada kali ketiga membeli gitar, saya juga tak mencobanya. Saya hanya (ketiga kalinya) melihat rupa dan bentuk.

Karena kali ini (saat itu) bahkan saya sudah tak mempunyai niat dan cita-cita untuk bisa bermain gitar, maka gitar yang cukup cantik dengan harga cukup lumayan itu hanya saya peluk tak lebih dari sepuluh kali. Sebelum akhirnya ia kembali masuk ke dalam tas wadahnya, dan menjadi penghuni samping lemari beberapa tahun lamanya.

Dan tempo hari, entah setan apa yang merasuki saya, gitar ketiga itu keluar lagi dari wadahnya. Baru satu hari keluar dari wadah, gitar itu sudah sukses membuat jari tangan kiri saya terasa sakit kemranyas untuk mengetik diatas keyboard laptop.

Ya ya ya, jangan pernah bercita-cita setinggi langit, nanti kesampar pesawat.
Oh, itu pesan untuk diri saya sendiri.

Kalau anda, bercita-cita setinggi langit ketujuh, kedelapan atau kesembilan juga boleh. Bercita-cita sampai langit Planet Namec atau sampai Asgard tempatnya Thor juga tak dilarang.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)