Amettati, Sepetak Surga di Tanah Candi

Prambanan adalah sepetak surga, yang mempesona dengan lahan pertanian subur, atau tanah merah dan candi-candi. Prambanan adalah altar, bagi jiwa-jiwa yang mencari ketenangan, bagi pikiran yang mendamba kesunyian, bagi mata yang menginginkan surga….di dunia.

Mungkin beberapa dari anda sudah tak asing dengan Tebing Breksi, tebing alam yang setengahnya campur tangan buatan manusia, karena merupakan bekas areal pertambangan. Breksi sudah sedemikian terkenal, ramai pada media sosial, dan banyak dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai tempat dan asal muasal.

Tetapi Breksi tak hanya ramai di media sosial. Breksi sudah ramai setiap harinya, pada tebing-tebingnya yang menjulang. Bagi yang tak terlalu menyukai keramaian, ada masalah tersendiri yang hadir di sana. Breksi sudah sedemikian sulit untuk mengatupkan tangan, memejamkan mata, dan menghirup ketenangan. Kecuali pada dini hari, mungkin.

Bagi anda yang kurang menyukai keramaian, tetapi terlanjur sudah menginjakkan kaki di Breksi, tanah Prambanan, tanah para dewa dan pangkal peradaban tanah Jawa, tetaplah melaju ke atas arah Candi Ijo. Selepas Candi Ijo, pada kiri jalan anda akan menemukan….Amettati.

Sebentuk bangunan pada lokasi yang tak terlampau luas, namun menyajikan keluasan pandangan, serta kenyamanan. Sebuah resto, juga cafe.

Tempatnya menyajikan pemandangan yang mirip dengan Spot Riyadi. Spot yang sudah menjadi langganan wajib bagi pemburu pandangan mata dari seantero Indonesia.

Yaa, saya tak akan pernah bosan menyajikan Prambanan.

Amettati mempunyai dua bangunan utama, berukuran besar, dan kecil. Bangunan besar adalah resto untuk menyajikan aneka makanan. Bangunan yang lebih kecil mereka [pegawai] sebut sebagai cafe, untuk menyajikan minuman.

Minuman yang disediakan memang tak terlampau banyak, hanya sekira lima belas sampai dua puluhan. Terdiri dari teh, cokelat, kopi, dan minuman mixing semisal chocolatte, atau coffelatte.

Tetapi dari pilihan yang memang tak terlampau banyak disediakan, pengunjung, anda, justru takkan terlampau dipusingkan, dan disegerakan untuk menikmati petak surga yang terhampar.

Harga aneka minuman juga tak terlampau mahal, dua puluh sampai tiga puluh ribuan. Tak terlampau tinggi harga yang dicantumkan, dibandingkan dengan apa yang akan anda dapatkan. Saya pernah mencicip kopi Mandheling saring.

Tetapi saya rasa, tempat yang disediakan kurang bisa bersahabat dengan hujan yang terlampau deras, kecuali jika anda sedang berduaan dengan pasangan. Duduk berhimpitan, menikmati kopi dan terpaan hujan, dalam payung yang akan selalu membuat lekat dalam pelukan.

Makanan yang disajikan juga berupa masakan rumahan. Bukan makanan olahan yang banyak ditemui di kota. Makanan yang ada, merpresentasikan tempat dan juga suasananya.

Tunggu kisanak, berapa anda dibayar oleh Amettati?
Mata anda dua belum pernah dicolok ya?
Saya selalu sukarela merekomendasikan apapun yang menurut saya, patut dan pantas untuk dibagikan, dan juga kiranya patut anda coba.

Semata demi nilai-nilai obyektifitas yang selalu saya junjung tinggi, ketika berusaha memberi penilaian terhadap tempat, makanan, minuman, atau bahkan buku dan tembakau.

Bagi anda yang menyukai foto, tempat ini akan memanjakan lensa kamera anda. Dengan kamera DSLR, Mirrorless, atau hanya menggunakan kamera hape, anda akan mampu membuat tangkapan gambar yang memuaskan.
Semua foto yang saya sertakan pada tulisan ini, saya ambil dari kamera hape Xiaomi Redmi 4A.

Keheningan menjadi kekuatan utama tempat ini, untuk mengantar anda melepas penat atas hingar bingar keseharian.
Yaa, terkadang manusia membutuhkan keheningan, kesunyian, untuk mengisi kembali semangat atau motivasi yang perlahan memudar karena tekanan kehidupan.

Dengan keheningan semacam ini, anda bisa mengisi waktu dengan berkontemplasi, atau sembari menikmati kopi dan pemandangan, membaca buku.

Kisanak, menabung memang perlu. Tetapi menyisihkan sedikit saja penghasilan untuk bisa menikmati hidup, termasuk menyesap kopi dan ketenangan, saya rasa juga penting terutama bagi kesehatan.
Nanti, apa gunanya uang banyak di dalam simpanan, kalau tak membuat kita sehat dan bahagia.

Saya sarankan, kalau anda belum pernah berkunjung ke tempat ini, segera saja mengunjunginya.

Mumpung masih belum tenggelam oleh keramaian.

Ini adalah tempat yang cocok bagi anda, untuk melewati akhir pekan. Bersama kawan, sahabat, pacar, pasangan, dan terlebih….keluarga.

Sengaja tak saya sertakan peta. Tempat ini berada dalam satu lajur jalan dengan Tebing Breksi, dan Candi Ijo.
Dari Breksi, anda hanya perlu terus melaju ke atas, sampai ke Candi Ijo, dan terus saja sekira 200 meter, dan tempat ini ada di kiri jalan.

Tetapi saya rasa juga sebelumnya anda harus ke Breksi terlebih dahulu, kemudian melanjutkan ke Candi Ijo, baru kemudian Amettati menjadi muara perjalanan anda.

Kenapa?

Ikuti saja saran saya. Tak semua hal bisa dijelaskan serta dijabarkan.
Terkadang suatu saran baru bisa dimengerti perihal maksud dan maknanya, ketika sudah dilalui dan dijalani.

Selamat berakhir pekan.

Salam.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

35 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *