Antara Misuh Dan Belajar

Saya banyak menerima semacam komplain seperti ini :

“Kok misuh?”

“Kenapa bukan kata-kata yang baik?”

“Belajar misuh?”

Dan masih banyak lagi yang lain, berkait dengan tagline blog saya ini, atau berkait dengan pergaulan saya sehari-hari.

Kebanyakan menitikberatkan pada kata ‘misuh’, bukan belajarnya.

Mungkin tidak perlu saya jelaskan apakah misuh itu baik atau tidak baik, sudah banyak saya jelaskan pada tulisan-tulisan yang lain. Bahwa misuh itu tidak bisa dinilai sebagai entitas tersendiri, ia berkaitan erat dengan hal-hal lain yang mendasari atau melatarbelakangi. Tetapi kita tidak akan membahas apakah misuh itu baik atau tidak baik, mungkin akan saya ulangi lagi pada tulisan yang lain.

Yang ingin saya sampaikan, sedikit saja :

“Kenapa kebanyakan orang berfokus pada kata misuh, bukan belajar?”

Padahal tagline saya jelas :

“Misuh seperlunya, belajar selamanya.”

Misuhnya itu hanya seperlunya, pada situasi dan kondisi tertentu. Misalnya ketika kita akan membeli suatu barang, dan ternyata uang yang kita bawa kurang Rp 500,-. Hal itu patut dipisuhi, bahwa betapa ternyata sekadar nilai uang Rp 500,- bisa membuat kita berada dalam posisi dan situasi yang kurang menyenangkan. Tetapi dari sana kita bisa mengambil banyak pelajaran. Pertama, jangan menyepelekan nominal kecil dalam kehidupan kita. Nominal ini bisa berupa apapun, dan tidak mesti berupa uang. Kedua, jangan mudah mengambil keputusan hanya dengan berdasar pada persepsi diri kita sendiri. Kita mempunya persepsi bahwa uang yang kita bawa untuk membeli sesuatu itu sudah cukup, tetapi kenyataan membenturkan kita bahwa ada kekurangan Rp 500,-. Ketiga, kita belajar untuk selalu siap berada dalam kondisi kekurangan. Dalam kondisi kekurangan bahkan jika hanya Rp 500,- seperti itu, kita akan seketika belajar dan beradaptasi. Apakah kita tidak jadi membeli, ataukah kita bernegosisasi untuk utang terlebih dahulu.

Dari satu kejadian sederhana, kita mendapatkan banyak hal. Satu misuh, dan tiga pembelajaran. Hanya satu misuh. Paling seketika kita akan misuh, “Asu”, ketika tahu ternyata uang yang kita bawa kurang. Dan setelahnya, kita akan banyak belajar dan atau mengambil beberapa pembelajaran. Sebagai manusia, pembelajaran atau proses belajar pada suatu waktu tertentu, harusnya akan selalu terbawa selamanya. Harusnya…

Tetapi beberapa orang yang pernah melawat ke blog saya, sebagian besar mengambil titik kesimpulan bahwa ‘misuh’ adalah fokus saya, bukan pada belajarnya.

Tapi ya tak mengapa juga, karena memang saya suka misuh, bwahahaha…
Misuh lho ya, bukan misuhi.

Saya tidak mengejar balik kenapa beberapa orang itu menyimpulkan hanya sampai pada misuhnya, dan bukan pada belajarnya. Tentu saja setiap orang punya sudut pandang dan titik tolak keberangkatan untuk membuat suatu penilaian terhadap hal tertentu. Termasuk ketika menilai blog, atau bahkan diri saya.

Untuk apa menjelaskan panjang lebar bahwa titik berat blog ini sebenarnya ada pada belajarnya, bukan misuhnya. Toh setiap orang tetap punya pendiriannya masing-masing, yang berdasar pada analisa dan kemudian kesimpulan dari apa yang mereka lihat dan atau baca.

Termasuk ketika orang-orang menilai saya sebagai manusia macam apa. Saya tak perlu banyak berkata, atau membela diri ketika ada pandangan buruk terhadap diri saya.
Saya tidak akan mengiyakan, juga tidak akan menyangkal.
Biarkan saja orang-orang menilai saya sebagai manusia macam apa.

Satu yang penting, saya berusaha untuk tidak merugikan dan atau melecehkan harkat martabat orang lain.

Saya tidak akan mengambil tindakan yang cenderung merugikan orang lain, apalagi jika hanya berdasar persepsi diri sendiri.
Pun ketika saya mendapatkan informasi tentang sesuatu berkait dengan orang lain, saya tak akan percaya dan menelannya mentah-mentah.

Itu adalah proses belajar, belajar selamanya.

Tetapi mungkin memang sebagai besar orang risih dengan kata ‘misuh’, karena mereka sopan. Mereka tidak pernah misuh dalam kata, tetapi misuhi dalam perbuatannya.
Dan terkadang yang dipisuhi hanya bisa tersenyum saja. Karena mungkin yang misuhi dalam perbuatan itu pejabat, atau orang yang mempunyai pengaruh. Mungkin lho yaa…
Seperti kemungkinan sopan dalam ucapan, tetapi misuhi dalam perbuatan. Mungkin lho yaa….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *