APAKAH KHOTBAH JUMAT (TELAH) KALAH MELAWAN HAPE?

Yang saya maksud tentu saja hape jaman kiwari dengan isi berbagai macam aplikasi internet dan serta media sosial. Bukan hanya sekadar hape yang bisa dipakai untuk telepon atau berbalas pesan. Meski sebenarnya, hape dengan jenis yang disebut belakangan, jauh lebih ‘aman‘.

Tadi, ketika pertama kali memasuki masjid untuk mengikuti rangkaian sholat Jumat, hal pertama yang menarik perhatian adalah beberapa gambar yang ditempel pada tembok masjid, berupa ilustrasi hape dengan disertai tulisan. Tentu anda mengerti maksud saya, tanda peringatan untuk me’mode‘ diamkan hape, atau mematikannya ketika berada di dalam masjid.

Sebenarnya tulisan atau gambar seperti dimaksud sudah cukup lama menjadi penghias utama tembok-tembok masjid, tetapi entah kenapa baru tadi saya memperhatikannya, bergantian dengan memperhatikan khotib yang sedang berkhotbah. Ketika saya perhatikan gambar, sayup-sayup suara khotib terdengar. Dan ketika saya memperhatikan khotib, gambar-gambar yang berderet itu terlihat samar.

Tentu saja, saya menjadi tidak berkonsentrasi pada keduanya. Menurut saya, kedua-duanya sama-sama menarik, sekaligus sama-sama tidak menarik.
Khotib menjadi (masih) menarik karena tanpanya rangkaian ibadah sholat Jumat akan menjadi tidak sah. Sedang gambar menjadi menarik karena menghiasi tembok masjid yang nyaris polos, tanpa hiasan.
Keduanya menjadi tidak menarik, karena khotib tadi hampir sama dengan khotib-khotib lain yang berkhotbah normatif, sedang gambar-gambar itu menjadi tidak menarik karena harusnya ada hiasan yang lebih bagus dan indah daripada sekadar gambar hape dengan diberi tanda silang.

Mungkin, ini hanya mungkin, hanya perkiraan dan pendapat pribadi, bahwa sebenarnya ada kekhawatiran perihal khotbah, yang (sudah) mulai kalah oleh keberadaan hape. Saat ini, bahkan tak perlu beranjak menuju masjid, mengikuti ceramah atau khotbah (apalagi khotbah Jumat), untuk mendapat ‘siraman‘ rohani yang nyaris stagnan tanpa variasi dan modifikasi.

Sebagian besar masjid (dan juga para khatib) seakan tidak mempunyai agenda, rencana, cara, strategi untuk mampu menarik minat dari para jamaah untuk sejenak lebih memperhatikan mereka daripada layar-layar hape.
Mungkin, karena hape memberi kesinambungan, sedang khotbah-khotbah hanya menguar, hilang, menguap bersamaan dengan langkah kaki yang keluar dari masjid.

Sekira dua puluh lima tahun yang lalu, saya pernah mendengar sebuah potongan isi khotbah yang kira-kira (seingat saya) begini :
Saudara-saudara saya seiman yang selalu di rahmati oleh Allah. Marilah kita terus berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah, meminta pertolongan hanya kepada Allah, menjauhi segala larangannya dan mengerjakan semua perintahnya.

Demi Allah, potongan isi khotbah seperti itu sampai saat ini masih saya dengar dalam rangkaian khotbah-khotbah Jumat, dua puluh lima tahun berselang.
Mungkin karena memang khatib berkewajiban untuk selalu mengingatkan juga mengajak jamaahnya untuk bertauhid kepada Allah, sehingga potongan kalimat yang demikian memang harus ada. Tetapi sampai saat ini, hampir tak ada variasi serta modifikasi dalam aspek kata, maupun tindakan nyata serta tuntunan riil bagaimana cara terus mendekatkan diri kepada Allah, menjauhi segala laranganNya serta menjalankan segala perintahNya.

Apakah menunda ibadah umrah yang kesepuluh kalinya demi membantu anak tetangga putus sekolah adalah juga termasuk menjalankan perintahNya?
Apakah menunda ibadah haji yang kelima kalinya demi membantu pembangunan jembatan kampung yang putus akibat banjir adalah juga menjalankan perintahNya?
Bagaimana jika suatu saat menjelang iqomah sholat Jumat, dijalan kita menemui seekor kucing yang sekarat. Apakah kita mengejar sholat, ataukah menolong si kucing agar selamat?
Bagaimana juga langkah-langkah nyata agar masjid, khotbah-khotbah, ceramah, tidak dipandang sebelah mata, tidak dipandang hanya sebagai kegiatan artifisial tanpa pemaknaan yang mendalam?

Khotbah Jumat, sebatas apa yang saya alami selama ini, hanya sekadar menjadi rangkaian ibadah wajib yang harus dipenuhi oleh setiap muslim, tanpa keinginan untuk memaknainya jauh lebih mendalam.
Tak pernah berkembang, cenderung stagnan, dan nasibnya mulai sama dengan ibadah-ibadah wajib umat Islam lainnya yang sebatas menjadi ritual tanpa nyawa.

Berapa banyak kasus korupsi menjerat politikus yang lekat dengan gerakan-gerakan agama?
Tempo hari terungkap, Gubernur Jambi non-aktif yang diindikasikan melakukan korupsi senilai 44 milyar rupiah, bahkan ‘meminta’ uang dari suatu proyek untuk membiayai ibadah umrah dirinya beserta keluarga. Nilainya hampir 1 milyar rupiah.

Uang korupsi diminta secara terang-terangan untuk membiayai suatu ibadah suci.

Lalu, dimanakah letak khotbah Jumat yang harusnya bisa menjadi benteng utama melakukan syiar tentang larangan serta perintah Tuhan?
Apa yang harus dilakukan, sementara meski tanpa hape, melamun terkadang lebih menyenangkan daripada mendengarkan khotbah yang sama dan terus berulang.

Tadi, saya berniat mendengarkan khotbah Jumat. Hape saya matikan, saya sudah duduk rapi setelah sebelumnya melakukan sholat penghormatan kepada masjid. Begitu tahu siapa yang menjadi khatibnya, kedua tangan saya terasa otomatis menyangga dagu, melamun.
Meski pepatah mengatakan :
“Dengar dan perhatikan apa yang disampaikan, bukan tentang siapa yang menyampaikan.”

Tetap saja, serasa mendengarkan Setya Novanto, atau Zumi Zola memberi kuliah umum atau ceramah mengenai anti korupsi dan bagaimana agar tak melakukannya.

*****

Gambar : Google

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

10 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.