APAKAH SEHARUSNYA KITA MEMAAFKAN (PARA) PELAKU KEJAHATAN, SETELAH MEREKA MENJALANI HUKUMAN?

Bagi anda yang bertempat tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta, tentu tak asing dengan istilah klitih yang akhir-akhir ini banyak diperbincangkan.
Tak salah, klitih yang berupa perilaku tidak terpuji, dengan menyakiti orang lain, bahkan tanpa sebab dan alasan. Beberapa kejadian yang terungkap, dengan beberapa pelaku yang tertangkap, mencatatkan satu fakta miris, bahwa para pelaku masih berusia muda, bahkan masih di bawah umur untuk dapat dijerat pasal hukum pidana.

Tanggapan masyarakat atas tertangkapnya beberapa pelaku, mengisyaratkan serta menginginkan adanya hukuman setimpal, bahkan cenderung berat terhadap para pelaku. Tak dapat dipungkiri, masyarakat, utamanya warga yang tinggal di seputar beberapa tempat kejadian perkara, merasa bahwa tindakan para pelaku mengancam dan juga mengganggu ketertiban masyarakat.

Bagi anda yang belum tahu, pelaku klithih ini memang bertindak di luar nalar dan batas pemikiran manusia sewajarnya. Tanpa sebab, tanpa alasan, tanpa peringatan, mereka bisa saja tiba-tiba melakukan penganiayaan, dan mengakibatkan beberapa korban meninggal dunia. Mungkin memang ada sebab yang melatarbelakangi sehingga pelaku bisa berlaku demikian keji, ada andil keluarga, masyarakat, serta juga institusi pendidikan dalam tumbuhnya kejadian tersebut. Sehingga, memang tak layak menyematkan kesalahan hanya pada para pelaku. Sampai disini, kiranya hal itu bisa menjadi semacam koreksi, perbaikan, instrospeksi diri, serta muhasabah bagi semua pihak yang terlibat.

Tetapi, membatasi gerak wacana tulisan ini di dalam kejadian, akibat, pelaku, serta timbulnya korban, apakah kita lantas harus memaafkan para pelaku, karena kita juga adalah pihak yang ikut andil secara tidak langsung terhadap tumbuhnya perilaku klitih?

Apakah mereka layak dimaafkan?
Ataukah ada hukuman-hukuman yang memang harus diberikan, paling tidak untuk memberikan efek jera, dan memperbaiki kelakuan mereka pada waktu-waktu ke depan?
Jika mereka sudah menjalani serangkaian proses hukuman, apakah kita harus memaafkannya? Karena secara hukum, mereka sudah mendapat balasan setimpal.
Bagaimana dengan korban, dan keluarganya? Serta akibat yang harus ditanggung.

Tahan..tahan dulu, jangan terburu dijawab, dan coba kita bawa pada permasalahan lain yang secara mendasar hampir sama, korupsi.

Sebelum berlanjut, andai diantara pembaca tidak setuju perilaku korupsi mempunyai sifat dasar yang hampir sama dengan perilaku klithih, saya mohon jangan lanjutkan membaca.
Tetapi, jika anda setuju bahwa perilaku klithih sama dengan perilaku korupsi, pada sifat dasarnya yang merusak, merugikan pihak lain, dan membuatnya seperti hampir tak termaafkan, maka silahkan untuk melanjutkan membaca.

Korupsi, dengan alasan dan tujuan apapun, adalah perbuatan yang tidak menggunakan akal, berbalut keserakahan. Beberapa pelaku mungkin menggunakan uang hasil korupsi untuk membangun tempat ibadah, menyantuni fakir miskin, menaungi lembaga sosial, atau membiayai pendidikan generasi bangsa. Tetapi, adakah yang 100% digunakan untuk kegiatan-kegiatan tersebut, tanpa sepeserpun masuk untuk digunakan pada kepentingan pribadi?

Lalu, kemudian jika para pelaku itu tertangkap, diadili, kemudian menjalani hukuman, apakah setelahnya kita harus memberi permaafan?

Sebenarnya, menjawabnya pun tak gampang juga, meski juga tak susah. Nantinya, jawaban yang diutarakan, akan mempunyai implikasi-implikasi lanjutan, terhadap hal-hal dan perbuatan setelah prosesi maaf-memaafkan.

Sebagai contoh, ketika kita memaafkan para pelaku klithih, maka kita juga harus siap dengan akibat selanjutnya dari tindakan kita memberi maaf.
Misalnya saja, ketika suatu ketika salah seorang pelaku datang kepada anda untuk meminta pekerjaan, maka anda harus memberikannya. Tanpa perasaan khawatir mengenai rekam jejaknya yang telah lampau. Toh ia sudah menjalani hukuman sesuai aturan perundangan dan melalui proses peradilan yang ditetapkan.

Menjalani hukuman melalui proses peradilan, maka pelaku tindak kejahatan menjalani suatu sanksi hukum secara sah dihadapan negara. Dan ketika pada akhirnya masyarakat memaafkan, maka ia juga bebas dari sanksi sosial yang disandang. Karena menjalani hukuman sesuai peraturan perundangan, dan oleh karena itu sanksi hukum di hadapan negara sah dilaksanakan ketika bebas kemudian, tak mesti juga membebaskannya dari saksi sosial.

Ah, muter-muter. Sok paham perkara.
(Bajilak, cen Iyo)

Langsung wae ah!

Begini,
Memaafkan para pelaku klithih, berarti kita juga harus berbesar hati untuk mengembalikan semua hak-haknya, termasuk hak untuk mencari penghidupan, ketika mereka datang kepada kita mencari pekerjaan.

Di sisi lain, jika kita memaafkan para pelaku korupsi, maka kita juga harus mengembalikan hak-hak mereka, termasuk hak untuk kembali berpolitik. Hak mereka untuk dipilih sebagai anggota legislatif (lagi).

Sampai disini, sepertinya perilaku klithih dan perilaku korupsi bukanlah suatu perilaku yang serupa, sama sekali berbeda, dan harus mendapatkan perlakukan yang tak sama.
Menurut saya, perilaku mereka tetap serupa, seperti yang dikemukakan diatas. Hanya saja, sampai saat ini, mekanisme pemberian hukuman terhadap dua jenis perilaku tersebut, tidak mengena untuk mereduksi tindakan mereka yang cenderung merusak.

Mana bisa pelaku korupsi memperbaiki diri, bermuhasabah, introspeksi, jika mereka ditempatkan dalam lembaga pemasyarakatan yang berisi sesama pelaku korupsi?
Penjara tidak akan serta merta bisa merubah perilaku seseorang dari buruk, menjadi baik.

Akan lebih bermanfaat jika mekanisme, cara, dan proses menjalani hukuman para pelaku tindak kekerasan seperti klithih, dan juga korupsi, dikedepankan untuk menyentuh hati, jiwa, serta perasaan mereka, mengantar kepada kesadaran tentang betapa merusaknya tindakan yang mereka lakukan.

Sebagai contoh ;
Pertama, untuk pelaku klithih.
Bisa dibuat semacam hukuman dengan lebih banyak melibatkan mereka bersama masyarakat, di tengah banyak orang. Mereka tetap tidur di penjara, tetapi aktifitas mereka dilakukan di luar penjara. Bisa dipilih panti jompo, panti asuhan, atau lembaga-lembaga yang berkonsentrasi kepada misi kemanusiaan.
Tempatkan para pelaku klithih untuk merawat dan mengurus orang tua di panti jompo, setelah sebelumnya mendapatkan pelatihan mengenai cara-cara dasar merawat manusia usia lanjut (manula). Bersentuhan dengan para manula, merawat mereka, terlibat langsung dalam kegiatan untuk memperpanjang umur, mungkin akan mengetuk hati dan perasaan mereka, bahwa nyawa manusia, nilai kasih sayang terhadap sesama manusia, jauh lebih berharga dari tindakan-tindakan serampangan yang pernah mereka lakukan.

Tempatkan mereka pada panti asuhan, baik yang merawat anak-anak yatim piatu, atau merawat anak dengan kebutuhan khusus.
Dekatkan mereka terhadap kenyataan-kenyataan pahit, bahwa di tempat lain, di luar pergaulan mereka yang mengarah kepada klitih, kemanusiaan dirawat dengan sedemikian rupa, dengan segenap cinta dan kasih sayang.
Jika masih bernama manusia, takkan ada yang mampu menolak sentuhan halus tepat pada hari dan perasaan.

Selepas dari masa hukuman, tentu kita berharap bahwa mereka akan berubah menjadi manusia-manusia yang penuh dengan cinta kasih dan kasih sayang terhadap hidup, kehidupan, manusia, serta nilai kemanusiaan.

Kedua, untuk pelaku korupsi.
Bawa mereka untuk bekerja keras, bukan duduk manis di penjara.
Bekerja keras dimana?
Di daerah-daerah terpencil, pada daerah perbatasan yang belum banyak tersentuh pembangunan, pada daerah-daerah dimana manusia lebih banyak berinteraksi dengan sesama manusia, daripada dengan harta benda.

Sebanyak mungkin bawa mereka untuk berkontribusi secara nyata pada daerah-daerah tertinggal yang belum banyak tersentuh pembangunan. Sentuh hati dan perasaan mereka, bahwa tak selayaknya anggaran negara di korupsi, karena pada kenyataannya masih banyak tempat, daerah, dan masyarakat yang membutuhkannya.

Bawa mereka untuk secara nyata menebus kesalahan dengan ikut berpartisipasi membangun bangsa dan negara, secara fisik terutama, ikut mengaspal jalan, membantu petani di sawah, membantu pedagang kecil mengangkut dagangan mereka, ikut nelayan melaut, memperbaiki jaringan dan kapal, serta masih banyak yang lainnya.

Tentu pada paragraf terakhir, anda setuju bahwa hal tersebut jauh lebih berguna dan mengena daripada menghukum koruptor untuk duduk manis di penjara, bukan?

*****
Selesai, sudahi saja, saya lelah, mau makan malam dan malam mingguan dahulu.

Oh iya, untuk kontes politik tahun depan, karena mekanisme hukuman bagi koruptor belum sesuai dengan saran saya, jangan pilih parpol yang mengusung caleg terlibat kasus korupsi.
Yha..kecuali anda ingin berkonstribusi merusak bangsa dan negara.

Sekian, selamat malam mingguan.
*****
Gambar : tribunnews.com

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

10 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *