Apakah Tuhan Alpa, Di Tempat Kerja?

Apakah Tuhan mempunyai sifat pelupa?

Ah ya, tak usah dijawab, nanti masuk ranah penistaan.

Padahal mau dipuji setinggi apapun, atau dicaci serendah apapun, Tuhan takkan terpengaruh. Ia takkan menjadi tinggi, atau menjadi rendah. Tuhan…tak membutuhkan pengakuan manusia, pun takkan ternista oleh penghinaan manusia.
Tuhan tidak butuh manusia, tak butuh ‘dijilat-jilat’ manusia. Tuhan tak butuh harta dan iman ketaqwaan manusia, juga takkan kotor oleh dosa-dosa manusia.

Jika kemudian ada ‘perintah’ bahwa manusia harus taat, harus menyembah, harus beribadah, itu adalah upaya dialektika. Upaya penyadaran tentang keterbatasan manusia, yang terkadang tak disadarinya. Ya, manusia jika tak merasa bahwa dirinya adalah makhluk yang mempunyai keterbatasan, akan cenderung ‘bersifat’ dan ingin menjadi ‘tuhan’. Maka Tuhan memerintahkan untuk menyembah, beribadah, sebagai upaya penyadaran diri manusia sendiri, agar tak kebablasan, supaya ingat bahwa ia ada bukan tanpa sebab yang melatarbelakanginya.
Dialektika sembah-menyembah itu, untuk membatasi naluri manusia yang cenderung tak terbatas. Sudah menjadi panglima, ingin menjadi raja. Sudah menjadi raja, ingin menjadi maha diraja. Sudah maha diraja, masih ingin menjadi tuhan yang maha berkuasa.

Fir’aun adalah contoh yang tak lekang oleh jaman.

Sayangnya, peribadahan manusia kepada Tuhan itu, semakin lama hanya menjadi semacam ritual, bukan upaya penyadaran, bukan upaya untuk sadar akan keterbatasan diri dan kemampuan.

Bahkan terkadang, diadakan semacam pembatasan, untuk memisahkan Tuhan, dengan ‘urusan’ manusia. Gamblangnya, memisahkan Tuhan, dengan urusan duniawi manusia. Pemahaman manusia dalam peribadahan dan penyembahan Tuhan, secara tekstual dibatasi hanya dalam lingkup ritual dan di dalam rumah-rumah ibadah. Sedangkan urusan dunia, seakan Tuhan dibatasi untuk tak terlalu banyak ikut campur.

Maksudnya begini, mungkin anda sering mendengar kalimat berikut :

“Sholat dulu, ibadah dulu, jangan kerja terus. Dunia terus, kapan akhiratnya?”

Sering kan ya mendengar atau membaca kalimat yang demikian?
Baik dari saudara, teman, atau atasan?
Baik langsung maupun tak langsung, dari media apapun. Mulai dari media konvensional berupa cetakan pada kertas yang ditempel di dinding kantor sampai dinding WC, maupun media daring terkini yang banyak berseliweran.

Sering kita saat ini mendengar atau membaca nasihat, yang intinya seakan memisahkan urusan dunia dan akhirat. Seolah pekerjaan di dunia tak akan menopang kehidupan di akhirat.

Pemisahan frasa ‘sholat, ibadah’ dan ‘kerja’ adalah contohnya.
Bukankah kerja, bekerja juga adalah bernilai ibadah?
Dalam konteksnya bahwa mencari penghidupan [yang halal dan baik] adalah fitrah manusia ketika diturunkan ke dunia.

Maka bekerja itu sendiri juga adalah, ibadah.
Ibadah ghairu mahdhah, ibadah yang tak bersangkut paut secara langsung dengan Tuhan, tetapi bernilai ibadah. Tetap juga bernilai penyembahan, penghambaan manusia yang takkan bisa hidup tanpa mencari penghidupan.
Maka seyogyanya bahwa bekerja pun, tak bisa dan tak boleh dipisahkan dari nilai-nilai ketuhanan.

Dalam kaitannya dengan ‘sholat dulu, bekerja belakangan’, maka harus ditelaah pada konteks kejadiannya. Paling umum, seruan itu lantang digaungkan tepat ketika setelah mendengar adzan. Maka lantas berbondong-bondong mengajak meninggalkan pekerjaan, untuk lekas menunaikan sholat.

Haruskah demikian itu?

Maka kembali lagi pada konteks peristiwa atau kejadiannya. Jika ketika adzan berkumandang pekerjaan sudah selesai, segera beranjak saja untuk sholat.
Tetapi ketika adzan berkumandang pekerjaan masih meninggalkan ganjalan, selesaikan dahulu. Waktu sholat wajib adalah dari satu adzan, ke adzan berikutnya. Bukan hanya di awal setelah adzan dikumandangkan. Apalagi jika pekerjaan yang harus segera diselesaikan, memuat nasib dan hajat hidup orang lain, atau masyarakat luas.

Sholat tepat waktu, adalah sholat yang dikerjakan tepat pada waktunya. Dhuhur ya di waktu Dhuhur, bukan di waktu Ashar. Waktu sholat Dhuhur adalah, dari adzan Dhuhur sampai nanti adzan Ashar.

Tuhan sendiri memberi kemudahan dan kemurahan, maka menjadi manusia jangan lantas membuat sulit dan menyusahkan.

Terus menerus menyebarkan kalimat dan jargon semacam itu, lama kelamaan akan benar-benar memisahkan ranah pekerjaan, dan ranah kekuasaan Tuhan. Nantinya akan terstigma, bekerja adalah satu hal, dan Tuhan serta beribadah adalah hal lainnya. Berbeda, dan tak saling berkaitan. Itu jelas, berbahaya. Kalau dalam bahasa modern katanya, sekuler.

Kalau sekulernya memisahkan proyek-proyek dan praktik korupsi, itu bagus.
Tetapi kalau sekulernya memisahkan Tuhan dan urusan duniawi manusia, itu….

Padahal, Tuhan harusnya selalu hadir, bahkan dalam tiap-tiap pekerjaan yang dilakukan.
Tuhan tak hanya hadir di dalam masjid, apalagi hanya berdiri menunggu di pintu atau di mimbar.

  • Tuhan hadir di balik komputer, duduk di sebelah.
  • Tuhan hadir di pematang, menunggu petani bersawah.
  • Tuhan hadir di atas forklift, menunggu buruh pabrik bekerja.
  • Tuhan hadir di antara siswa, menunggu guru bekerja.
  • Tuhan hadir di atas sepeda motor, menunggu tukang parkir bekerja.

Tuhan ada dimana-mana, menunggu pekerjaan kita, tetapi kita yang tak mengindahkannya.

Kita?
Kali ini, mungkin hanya saya saja.

Saya yang terlalu banyak abai terhadap keberadaan Tuhan dalam lingkup pekerjaan yang dilakukan. Bukannya sadar bahwa Tuhan terus ada menunggui, bahkan saya tak merasa Ia ada di sebelah saya, melihat saya bekerja.
Sehingga, terkadang saya menjadi ‘sak geleme dewe’ dalam bekerja.

Seolah jika sudah sholat, gugur semua kesalahan yang saya lakukan dalam bekerja.
Seolah jika sudah sujud dalam-dalam, gugur semua jejak yang menghitam.
Seolah jika sudah umroh atau berhaji, gugur semua dosa korupsi….

Ah, saya belum pernah umroh atau haji, apalagi korupsi….

Tetapi jika ada pertanyaan yang menggelisahkan, adalah perihal ‘kealpaan’ Tuhan, ataukah kesengajaan manusia.
Apakah Tuhan memang tak hadir pada pekerjaan kita, ataukah kita yang menyuruh Tuhan tak hadir?

Apakah sebenarnya Tuhan ingin hadir, tetapi kita yang ‘menyuruh’ Tuhan untuk tak turut campur. Lantas kita batasi Tuhan untuk tak keluar dari masjid, atau dari rumah-rumah ibadah.
Kita kunci Tuhan disana, dan mengunjunginya hanya dalam waktu-waktu tertentu, ketika kita membutuhkannya.

Ah ya siapa juga yang mengharuskan Tuhan untuk hadir di dalam pekerjaan-pekerjaan kita?
Toh kita sudah ber-Pancasila, dengan ketuhanan yang gagah pada sila pertama.

Tentu segala gerak-gerik dan sikap dalam kita bekerja, sudah mengakomodir sifat-sifat ketuhanan. Sikap welas asih, kejujuran, tanpa pamrih, ulet, dan tentu saja jauh dari perilaku menyimpang.
Iya, kan?

Iya, tentu saja.

Mungkin ini hanya kegelisahan saya, yang heran melihat melihat etos kerja masyarakat China. Padahal mereka berideologi komunis, secara gamblang menolak kehadiran Tuhan dalam ranah pekerjaan-pekerjaan.

Ah sudahi saja tulisan ini….lama-lama kok melantur….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

12 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *