Assesment, Assudahlah

Gambar ilustrasi. Pixabay

Pagi-pagi tadi seorang kawan mengirimkan tautan dari sebuah web. Web dari salah satu kementerian, yang berisi sebuah tulisan opini. Temanya adalah mengenai assesment.

Hash, pagi-pagi kok temanya sudah berat. Tak ada keinginan untuk membacanya. Tetapi karena itu tulisan dari sebuah web pemerintah, dari suatu kementerian, saya terpancing juga untuk membuka dan kemudian membacanya. Tulisan pada web kementerian biasanya berasal dari pejabat setempat. Pejabat dari kementerian tersebut maksudnya. Maka selalu menarik untuk membacanya. Paling tidak menelaah seberapa luas lingkar batok kepala penulis, dan seberapa dalam ilmunya mengendap. Uh….

Saya baca sekilas, cepat-cepat. Bukan karena temanya tidak menarik, bukan. Bagi saya temanya sangat menarik. Tetapi mohon maaf, isinya sangat normatif, dan bahkan hanya cenderung menyalin dari beberapa teori psikologi.

Setelah sampai pada paragraf terakhir, baru saya mahfum. Ternyata penulisnya memang seorang pejabat yang merangkap sebagai pengajar atau dosen psikologi. Pantas saja, isi tulisannya teoretis gitu.

Kata si penulis, assesment [khususnya assesment Pegawai Negeri Sipil] tidak hanya digunakan atau diperlukan semata sebagai suatu mekanisme yang harus ditempuh untuk menempati jabatan tertentu. Dalam arti yang lebih mudah, assesment tak hanya digunakan sebagai media promosi jabatan.

Tetapi ia digunakan sebagai media penelahaan, bagi penempatan pegawai pada tempat dan bidang kerja sesuai kompetensi atau kemampuannya. Ditelaah baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya.
Diharapkan, dengan diketahui secara persis diatas kertas mengenai ‘teori’ kemampuan si pegawai, dan dengan dicocokkan pada kenyataan kerja sehari-hari, akan didapatkan pemetaan kemampuan pegawai secara gamblang, terukur, proporsional, dan profesional.

Tetapi, benarkah?

Begini, apa yang disampaikan oleh penulis itu sangat-sangat teoretis, seperti yang sudah saya sampaikan diatas. Tulisannya berada pada tataran ideal, konseptual, dan kurang mengena pada tataran riil atau kenyataan.

Pada kenyataannya, dalam dunia persilatan yang keras dan penuh intrik licik birokrasi, tak sesederhana dan seindah itu…Portisio…..

Saya sendiri mengalaminya, seperti yang sudah berkali saya sampaikan dalam blog ini pada tulisan-tulisan terdahulu. Misalnya saja pada tulisan saya yang disini.

Saya sendiri mengalami bahwa tak selamanya penempatan pegawai itu sesuai kompetensi, dan sesuai dengan kenyataan kerja sehari-hari. Saya tak pernah merasa sangat baik atau luar biasa dalam bekerja, atau menyelesaikan pekerjaan. Tetapi bukti dan kenyataan kerja sehari-hari menyatakan bahwa hasil kerja dan kemampuan saya tak bisa dikatakan buruk. Bahkan dalam beberapa aspek, hasil pekerjaan saya baik cenderung diatas rata-rata.

Lantas, kenapa saya mendapatkan perlakuan yang demikian itu?

Jawabannya adalah, karena saya tidak bisa melakukan kagebunshin no jutsu seperti Naruto ada like&dislike pada lingkungan kerja saya yang terdahulu.

Apa yang diutamakan adalah suka atau tidak suka dari para pemegang jabatan atau kekuasaan. Bukan karena pertimbangan riil kompetensi dan pengukuran kinerja serta hasil kerja sehari-hari. Suka dan tidak suka terhadap para pegawai, serta pemilihandan penempatannya pada suatu formasi pekerjaan.

Berkaitan dengan tulisan yang tadi saya baca, dengan assesment tadi?

Ah ya mosok harus saya jelaskan? Sebagai pembaca setia dan pengikut blog ini, seharusnya anda sudah sedikit ketularan dengan metode jawab dan cara pandang saya, donk….
Bercanda dink…..

Begini, mengapa para pejabat pada tingkat pusat, tidak terlebih dahulu melakukan reformasi birokrasi, pada tiap-tiap jabatan minimal pada eselon tiga?

Reformasi dalam bidang apa?

Ah bertanya lagi, Portisio…..

Itu yang kemarin tertangkap karena suap jabatan, kenapa tak diusut tuntas dan dijadikan sebuah menara panjat untuk mencari berbagai pelanggaran lain yang serupa. Katakanlah seperti itu….
Kenapa?

Karena pada akhirnya, baik buruk kinerja suatu lembaga birokrasi atau pemerintah —kementerian dan lembaga—, berada dalam tangan-tangan pejabatnya. Setidaknya pada mereka yang mempunyai kuasa untuk menandatangani Surat Keputusan, dan mempunyai keleluasaan melakukukan penataan pegawai.

Sebaik apapun seorang pegawai —kelas pekerja— menunjukkan kualitasnya, ketika atasan langsung atau pejabat diatasnya lebih mengutamakan like&dislike, maka tak berguna itu semua.

Apalagi jika sudah mendasarkan pada kepentingan ormas, golongan, dan apalagi politik.

Kita akui saja, bahwa lembaga birokrasi di Indonesia saat ini, tak bisa lepas dari kepentingan politik. Secara langsung ataupun tidak. Banyak kebijakan yang ditetaskan, terjadi karena tekanan politik. Baik politik secara luas maupun sempit yang dilakukan oleh para pelakunya demi kepentingan-kepentingan tertentu.

Jadi bagi saya, tulisan mengenai assessment yang demikian itu [saya tak berani mencantumkan tautannya], adalah omong kosong belaka. Kalau anda menghubungi kontak yang tertera, saya akan berikan tautan termaksud, dan silahkan anda baca sendiri.

Pada tingkat pusat, dan apalagi para pejabatnya, menurut saya akan lebih baik jika menuliskan sebuah ide atau opini yang progresif. Jangan hanya menuliskan sesuatu yang cenderung normatif dan semua orang sudah mengetahui teori serta tataran idealnya.

Jika hanya sebatas menyampaikan tataran ideal, maka tak harus sekelas pejabat pun bisa, apalagi dimuat dalam sebuah situs web kementerian.

Akan lebih baik jika pejabat dengan posisi yang tinggi menuliskan ide, opini, atau catatan progresif berkait dengan tema yang dimaksudkannya. Jika berkaitan dengan assesment atau penataan pegawai, maka akan lebih berguna jika dituliskan langkah-langkah yang ditempuh untuk mereduksi like&dislike berlebihan.

Saya katakan berlebihan karena hal semacam itu memang tak bisa dihilangkan. Tetapi meski tak dapat dihilangkan, minimal bisa untuk dikurangi, direduksi. Untuk sedikit saja bergerak maju menuju ranah profesionalitas dan integritas seperti yang selama ini digaungkan.

Tetapi jika sampai saat ini saja parameter tolok ukur yang dipakai untuk menempatkan pegawai adalah karena unsur kedekatan kekerabatan, pertemanan, organisasi massa, dan bahkan berkait dengan politik, yaa omong kosong semua teori dan landasan hukum yang berada dibelakangnya.

Saya menuliskan ini bukan sebagai seorang pegawai yang kecewa lho ya, tetapi sebagai seorang pegawai yang peduli terhadap keberlangsungan kesehatan birokrasi di Indonesia.

Sebab lambat laun, dampak yang ditimbulkan jika model-model manusia yang menjadi pejabat masih mengedepankan faktor-faktor tai kambing kedekatan kekerabatan semacam itu dalam melakukan penataan serta penempatan pegawai, bukan hanya tidak baik, tetapi sangat-sangat busuk.

Betul….? Portisio…..

7 Comments

  1. I do believe all the concepts you’ve presented to your post. They are very convincing and can definitely work. Nonetheless, the posts are too quick for novices. Could you please lengthen them a little from next time? Thank you for the post.

  2. Attractive section of content. I just stumbled upon your blog and in accession capital to assert that I acquire actually enjoyed account your blog posts. Any way I’ll be subscribing to your augment and even I achievement you access consistently rapidly.

  3. Thanks for sharing superb informations. Your web site is so cool. I’m impressed by the details that you have on this blog. It reveals how nicely you perceive this subject. Bookmarked this web page, will come back for more articles. You, my friend, ROCK! I found simply the info I already searched all over the place and simply couldn’t come across. What an ideal website.

  4. My spouse and i were very fulfilled John could deal with his research by way of the ideas he gained through your web site. It is now and again perplexing to simply happen to be giving out ideas which others have been making money from. We really fully grasp we have the blog owner to thank for this. Most of the explanations you made, the straightforward blog navigation, the friendships you will make it possible to create – it’s got all astounding, and it is aiding our son in addition to us imagine that the theme is amusing, which is certainly wonderfully fundamental. Thanks for all!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *