BAGAIMANA JIKA DIAJAK KENALAN MBAK KUNTI?

Berkenalan dengan orang baru, bertambah teman baru, menambah pergaulan seluas-luasnya, memupuk iklim pergaulan sosial yang baik dengan sebanyak mungkin mengenal dekat orang dari berbagai macam golongan, ras, suku maupun agama tentunya baik dan bahkan sangat dianjurkan dalam kita menjalani kehidupan.
Tak seorang pun –sebenarnya–, yang ingin menambah musuh. Kecenderungan manusia dalam bergaul adalah untuk sebanyak mungkin mengenal dan berteman dengan orang lain. Bahkan pepatah Jawa yang cukup populer menekankan betapa pentingnya mengenal sebanyak mungkin orang untuk kemudian berserikat dan berkumpul :
Mangan ra mangan waton ngumpul.

Hal tersebut didasari suatu kenyataan bahwa sebenarnya manusia menyukai kondisi dengan banyak teman, berkumpul, dan beraktifitas bersama-sama.

Tetapi, bagaimana jadinya ketika ada makhluk dari —sementara ini kita yakini berasal dari : dunia lain—, yang mengajak berkenalan, dan selalu ingin berinteraksi. Makhluk itu adalah…..Donald Trump Bebek.
Hehe, maaf, bercanda.

Makhluk itu selalu mencoba berinteraksi dengan perwujudan perempuan. Paling sering, suaranya menyapa kami pada keheningan malam…
Ia…
******
Suatu malam, tetangga sebelah rumah saya, sebut saja Mbak Arni (bukan nama sebenarnya), pergi ke warung dengan mengendarai sepeda kayuh. Ia pergi mengambil rute ke arah timur. Rute arah timur, pada akses jalan di depan deret rumah kami yang bersambung, berbatasan langsung dengan sebuah kebun luas dengan banyak pepohonan besar. Satu deret yang terdiri dari tujuh rumah, hanya tiga deret paling barat yang selalu ditinggali dan berpenghuni. Sedang empat deret bersambung ke arah timur, lebih banyak kosong. Rumah saya terletak paling barat, rumah mbak Arni tepat bersambung di arah timur, lalu sebuah rumah lagi milik tetangga di samping sebelah timur rumah mbak Arni. Satu rumah disebelah lagi ke arah timur, ditinggali oleh seorang gadis yang masih kuliah, dan lebih banyak tinggal pada malam hari. Sebelah rumah dari gadis yang masih kuliah itu adalah sebuah rumah kosong, sedianya akan dijual. Sebelahnya lagi sebuah rumah yang ditinggali oleh kakak beradik yang juga masih kuliah. Rumah itu juga lebih banyak terlihat sepi. Sedang satu rumah yang berada paling ujung timur, hanya sesekali saja dalam dua atau tiga Minggu dikunjungi oleh pemiliknya.

Malam itu, lampu teras rumah dari gadis yang masih kuliah masih belum menyala, pertanda ia belum pulang dan belum berada dirumah. Nyala lampu teras pada rumah kosong, redup. Dengan hanya satu yang menyala redup dan harus berhadapan dengan rimbun pepohonan dari kebun tepat di depannya, membuat nyala redup itu bahkan hampir tak bisa menerangi gelap di sekitarnya.

Mbak Arni mengayuh sepedanya perlahan, selain karena memang tak tergesa, malam itu juga belum terlampau larut, baru sekira jam delapan lewat sedikit.
Mbak Arni bercerita, tak ada yang aneh waktu ia mulai keluar dan mengayuh sepeda ke arah timur. Sampai kemudian pada kayuh kesekian yang belum terlampau banyak, beberapa meter menjelang rumah kosong, Mbak Arni tetiba merasa ingin mengarahkan pandangannya pada tembok pembatas rumah kosong dan rumah sebelah barat milik si gadis yang masih kuliah. Pandangan Mbak Arni terus lekat ke arah kiri, arah deret rumah-rumah sepi. Hingga kemudian dibawah temaram sinar lampu, di bawah pohon pepaya yang tumbuh liar di depan rumah kosong, Mbak Arni terkesiap.
Dilihatnya sesosok perempuan dengan wajah menunduk namun dengan sekelebat terlihat pandangannya mengarah pada Mbak Arni, berdiri mengawasi Mbak Arni yang sedang mengayuh pelan sepedanya. Sosok itu hampir seperti patung, tak bergerak, namun seolah pandangannya lekat mengikuti. Tak ada suara, mendadak ranting pepohonan yang biasa berderik terkena angin pun, diam. Sepi, sampai kemudian ketika Mbak Arni sudah melewati sosok itu, suara tawa kecil melengking terdengar.

Saya tertawa saja mendengar cerita itu pada suatu kali ketika kami berkumpul di depan rumah. Kami yang bertetangga di ‘pojokan‘ (istilah kami sendiri untuk menyebut rumah kami yang berada di pojok perumahan), sering berkumpul di jalan depan rumah saya untuk sekadar memasak makanan sederhana dan kemudian santap bersama. Atau kalau tidak, sekadar duduk berbincang sembari menikmati segelas teh.
Rumah dan pohon pepaya itu terlihat jelas dari tempat kami biasa berkumpul.

Ketika Mbak Arni bercerita mengenai pengalamannya bertemu ‘mbak itu‘, saya tertawa paling keras, namun mau tak mau kemudian melihat ke arah pohon pepaya tersebut. Mendadak, saya merinding.

Suatu kali setelah cerita itu, sepulang dari mengambil jimpitan ronda, mau tak mau saya harus melewati tempat tersebut, daripada memutar lewat belakang, pikir saya.
Dari arah timur, saya berjalan pelan. Sebuah senter dengan nyala cukup terang saya arahkan bergantian ke arah kebun dan ke arah deretan rumah. Sampai di depan pohon pepaya, saya memberanikan diri untuk berhenti, menoleh, dan mengarahkan tubuh menghadap ke rumah kosong itu.

Rumah itu sewajarnya rumah biasa. Dengan beberapa jendela tanpa tirai, dan terlihat gelap di dalamnya. Saya melangkahkan kaki menuju teras rumah, setelah sebelumnya senter saya arahkan untuk menerangi semua bagian di sekitar pohon pepaya yang memang terlihat gelap.
Tepat di depan jendela utama, senter saya arahkan ke dalam rumah. Pandangan saya menyapu seluruh isi bangunan rumah berukuran tak lebih dari empat puluh meter persegi tersebut. Tak ada apa-apa, saya membalikkan badan, melangkah turun di samping pohon pepaya, meliriknya, angin dari arah kebun terasa keras menerpa wajah saya, dingin, dan………

memang tak ada apa-apa.

Saya melanjutkan langkah untuk pulang.

Ternyata, kejadian pertama ketika Mbak Arni mendapat salam perkenalan dari ‘mbak itu‘, seolah menjadi semacam pemicu. Pemicu untuk beberapa kejadian setelahnya yang dialami oleh beberapa tetangga lain.
Seorang tetangga pada suatu waktu menjelang Maghrib, pernah mendapatkan sebuah sapaan berupa tawa keras yang melengking dari sebentuk suara perempuan.

Tetangga saya yang lain, pernah suatu waktu sekira pukul sepuluh malam, sepulang dari rumah temannya, juga mendapat sapaan dari ‘mbak itu‘. Lagi-lagi suara tawa keras yang melengking. Jelas terdengar dalam suasana yang sepi.

Demi mendengar cerita-cerita tersebut, saya hanya nyengir saja.
“Tak ada apa-apa, saya pernah membuktikannya.” demikian batin saya.

Hingga beberapa hari yang lalu, ketika selama beberapa hari sebelumnya kami di pojokan mengadakan semacam kerja bakti untuk menghias seputar tempat tinggal untuk ikut menyemarakkan hari kemerdekaan, saya memasang rangkaian kawat untuk meletakkan hiasan, pada tiang lampu yang berada disisi kebun, tepat didepan rumah kosong dan rumah si gadis yang masih kuliah.

Saya memanjat sebuah tangga lipat, melilitkan kawat pada tiang lampu, dan berkonsentrasi agar tidak terjatuh. Saya takut ketinggian, dan malam itu saya sudah merasa sangat lelah karena sedari selepas Isya sudah ikut membantu memasang aneka hiasan. Tak terpikir mengenai cerita-cerita seram sebelumnya, begitu juga saya tidak merasa takut. Lagipula waktu itu banyak orang sedang berkumpul, tak jauh dari tempat saya memasang kawat.
Ketika saya masih berkonsentrasi dengan kawat, tiba-tiba terdengar suara perempuan tertawa keras dari dalam rumah Febi (si gadis yang masih kuliah). Tawanya jelas, keras, seperti sedang menyaksikan sebuah adegan lucu berulang-ulang.

“Hihi..hihihihi..hihihi…….hihihihihihihi..hihihi..”

Demikian berulang terus sampai beberapa kali. Saya sempat menghentikan pekerjaan sejenak, dan berpikir,
“Febi ki gek yo nonton opo tengah wengi ngene nganti ngikik.” (Febi tu melihat apa tengah malam begini sampai tertawa cekikikan).
Saya tak merasa bergidik, tak merasa aneh, dan semata yakin itu suara tawa Febi.

Sejurus kemudian Mas Ardi (bukan nama sebenarnya), suami Mbak Arni, datang ke tempat saya melilitkan kawat untuk membantu. Tetapi saya sudah selesai, dan saya tinggalkan Mas Ardi untuk mengambil beberapa hiasan yang dibuat para ibu di depan rumah. Namun tak berapa lama Mas Ardi menyusul, saya bertanya padanya :
“Mas, Febi ki nonton apa ya kok sampai tertawa cekikikan begitu?”

“Njenengan juga dengar po mas?” Mas Ardi balik bertanya.

“Ya dengar, jelas keras begitu.” Saya menjawab cepat.

“Tapi tadi saya perhatikan rumah Febi ki sepi Mas.” kata Mas Ardi, “dan saya panggil-panggil juga ga menjawab.”

Saya terkesiap.

Mas Ardi melanjutkan, “Kalau dia ada di rumah, belum tidur dan sedang menonton, tentu akan menjawab ketika dipanggil. Tadi pas njenengan sudah pergi, ada suara tertawa lagi dan jelas terdengar, cukup keras. Tetapi saya lihat-lihat rumahnya memang sepi.”

“Iya ya.” dan kemudian saya terdiam.

Bajigur, saya membatin. Berani-beraninya mengerjai.

Tempo hari, Pak Yanto (juga bukan nama sebenarnya), tetangga saya yang lain bertanya kepada saya.

“Kemarin Jalu sama Intan menginap ya Mas?”
Jalu adalah adik saya, sedangkan Intan adalah adik istri saya.

“Hanya Jalu Pak, Intan enggak.”

“Lhoh, kok kayaknya ada seorang lagi perempuan di depan teras?” kata Pak Yanto kebingungan.

Saya lebih kebingungan.

“Mungkin saya hanya salah lihat Mas.” Pak Yanto berusaha menenangkan.

“Hanya di depan rumah kan Pak?” Saya mencoba memastikan.

“Iya, di situ.” Sembari tangannya menunjuk tempat di belakang saya, ketika kami berbincang.

Tempat itu adalah jalan depan rumah, tepat di depan saya ketika menulis ini.

Ya, komplek perumahan kami memang terkenal ‘ramai‘. Akan saya ceritakan satu per satu, kelak…

******

Foto ilustrasi : Google

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

12 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.