Bagi-bagi Rokok

Jika ada yang harus sedikit saya sesali karena sedang berpuasa media sosial, itu adalah karena tak lagi tangan saya lekat dengan hape untuk mengambil foto. Pada momen-momen tertentu yang biasanya saya abadikan gambarnya menjadi foto, kini tak lagi seperti itu. Ketika sudah lewat acara, biasanya saya baru sadar kalau tak ada foto.

Seperti kemarin [01/05/2019], ketika saya membagi-bagi rokok, di kuburan.

Sebenarnya saya ingin mengabadikan momen tersebut, momen membagi-bagi rokok itu. Tetapi lupa, dan baru menyesalinya ketika sudah kembali lagi ke rumah.

Memang tetap selalu ada kekurangan maupun kelebihan, dari tiap-tiap pilihan. Selalu paket lengkapnya seperti itu. Kita tak bisa memilih untuk mengambil keuntungannya saja, dan meninggalkan kekurangannya. Harus selalu kekurangan dan kelebihan menjadi satu paket lengkap di dalam suatu pilihan.

Termasuk ketika saat ini saya memilih berpuasa media sosial, kekurangannya adalah tangan saya tak lagi fotoable. Tak lagi banyak mengambil foto dari kejadian atau kegiatan, dan lantas menyesalinya.

Ketika kemarin sedang berziarah ke kuburan, saya pun sedikit menyesalinya karena lupa untuk mengambil gambar.

Setiap kali menjelang bulan Ramadhan, saya mengikuti ada istiadat untuk berkunjung ke kuburan. Dalam istilah Jawa, ruwahan. Adat perayaan atau monumentasinya, nyadran.
Saya tak pernah atau jarang ikut nyadran, yang terkadang diselingi dengan sebuah pengajian sebelum bersama-sama membersihkan makam.

Tetapi saya selalu berkunjung ke kuburan. Mendoakan leluhur, juga saudara-saudara yang sudah terlebih dahulu meninggal. Juga menjadi yang paling akhir membersihkan nisan, atau areal seputar nisan leluhur, yang terlewat dibersihkan ketika nyadran. Atau karena rumput sudah tumbuh kembali setelah dibersihkan.

Saya selalu mengambil waktu paling akhir untuk berkunjung ke makam. Biasanya tepat satu atau dua hari sebelum hari pertama Ramadhan. Tetapi, tahun ini saya mengambil waktu kurang dari 5 hari sebelum Ramadahan [01/05/2019].

Selain karena waktu-waktu akhir seperti itu sudah sepi, saya juga selalu menyukai berbicara dengan batu nisan.

Musyrik?
Silahkan saja anggap demikian itu.

Kalau anda menganggap saya musyrik ketika berbicara di depan batu nisan, lantas apa yang sebagian dari anda lakukan dengan menangis di depan Ka’bah?

Smiileeeeee…..

Selalu ada perasaan terhubung ketika dalam suasana hening dan sepi saya berdoa serta berbicara di depan batu nisan, di areal makam. Sepertinya, mereka yang sudah meninggal itu, duduk dan berhadapan dengan saya, sembari manatap dan mengulas senyuman. Maka, hati saya selalu tergetar tiap kali berjongkok dan berdoa di depan makam seseorang.

Selalu saja ada perasaan tenang dan tenteram ketika mengunjungi mereka yang sudah meninggal, ke makamnya. Seolah ada kepastian tentang suatu tujuan, kelak. Di tengah segala ketidakpastian mengenai hidup, kuburan memberikan satu kejelasan dan kepastian mengenai tujuan.

Maka, kuburan selalu memberikan ketenangan. Tak ada gusar dan rasa penasaran berlebih terhadap hidup yang serba tak pasti dan terkadang memberi kejutan tak menyenangkan. Kuburan mengembalikan segala kegusaran untuk kembali lagi pada titik koordinat nol. Menjadi penawar dari segala macam hal yang serupa racun di dalam kehidupan.

Ada tiga makam yang kemarin saya kunjungi. Empat makam sebenarnya, selama bulan Sya’ban atau Ruwah. Tetapi yang satu makam, di Wonogiri, saya kunjungi bebarengan dengan takziah ketika salah satu saudara meninggal.

Di Giritontro, Wonogiri, saya meninggalkan sebatang rokok di atas gundukan tanah yang masih baru dengan aneka macam bunga segar berwarna-warni. Itu adalah makam Pakdhe Warno, —begitu saya memanggilnya—, ketika saya dan Bapak bertakziah kesana. Kami tidak bisa menghadiri pemakamannya yang dilangsungkan pada pagi hari. Maka pada siang menjelag sore ketika sampai disana, kami langsung ke makamnya terlebih dahulu. Saya tinggalkan sebatang rokok Djarum Super untuk Pakdhe Warno. Dahulu dia juga perokok.

Hanya yang saya sesali juga, di makam Mbah Kakung Wonogiri, saya lupa tak meninggalkan sebatang rokok. Padahal biasanya saya juga meninggalkan sebatang rokok untuk bapaknya Bapak saya itu ketika mengunjungi makamnya.

Makam kedua, adalah makam Plemburan. Tempat leluhur atau mbah-mbah dari istri saya. Saya letakkan satu di makam Mbah Kakung, bapak dari Bapak mertua. Mbah Kakung ini, dulu tiga belas tahun yang lalu ketika saya belum menikah, pernah ‘menemui’ saya ketika lebaran. Padahal, beliau sudah meninggal bertahun-tahun sebelumnya. Ceritanya lengkapnya akan saya tulis kapan-kapan.

Saya letakkan satu batang rokok di batu nisan Mbah Kakung sembari ‘membercandainya’.

“Kok ra tau nemoni aku meneh, Mbah?” [kok ga pernah menemui saya lagi, Mbah?]

Tentu saja saya bercanda.

Nisan kedua yang saya beri sebatang rokok di areal pemakaman Plemburan adalah kuburan salah seorang saudara sepupu, yang meninggal beberapa bulan yang lalu. Kebetulan rokoknya dulu, seingat saya adalah juga Djarum Super. Maka saya tinggalkan sebatang rokok sembari berkata juga,

“Ngrokok sik Wan panas-panas ngene hawane. Karo pesen es teh.” [Ngrokok dulu Wan panas begini suasananya. Sembari pesan es teh].

Namanya Wawan, tahun kelahiran kami hanya berselang setahun, dia lebih tua. Dulu kalau kami bercanda, bisa sampai asu-asunan.

Dari makam Plemburan, makam berikutnya ada di Banteran. Calon kuburan saya kelak, andai tak jadi beli kapling di Piyungan.

Nisan pertama yang saya beri rokok adalah nisan pada makam Pak Tuwo. Pak Tuwo dulu perokok, bahkan menurut Bapak, Pak Tuwo dulu mempunyai semacam resep untuk membuat ramuan tembakau, yang diperam pada bumbung bambu. Ramuan itu yang tak sempat berpindah generasi. Padahal menurut Bapak juga, rasa dari tembakau hasil racikan Pak Tuwo itu, sangat sedap rasanya.

Ah yaa, menyesal juga rasanya tak sempat memetik ilmu yang sangat berguna.

Nisan berikutnya yang saya tinggalkan rokok di kuburan Banteran, adalah makam Mbah Karso. Masih saudara jauh, tetapi tempat tinggalnya dulu bersebelahan dengan rumah Banteran.

Dulu sampai usianya hampir seratus tahun, Mbah Karso masih merokok dengan melinting tembakau. Baunya khas, segar, dengan campuran cengkeh, klembak, juga kemenyan. Dulu ketika Mbah Karso sudah meninggal, masih sering tercium aroma rokoknya di sekitar rumah, pada waktu-waktu tertentu. Saya sering melihat Mbah Karso menikmati linting tembakaunya, di lincak depan rumahnya. Sembari melihat kami [anak-anak], bermain sepakbola di halaman rumahnya yang cukup luas.

Makam keempat yang saya datangi adalah makam Jetis, tempat Mbah Buyut. Saya tak meninggalkan rokok disana, karena tidak tahu dulu Mbah Buyut merokok atau tidak.

Yaaa semacam sungkan saja jika ternyata salah memberi.

Mendoakan orang yang sudah meninggal, bagi saya sifatnya wajib, dan takkan terputus. Dunia dan akhirat bagi saya berupa satu kesatuan yang bersifat dialektis, berhubungan, dan sekaligus tak terpisahkan. Kematian hanya pintu, yang menghubungkan, oleh karena itu tidak memisahkan.

Maka saya selalu mendoakan leluhur, atau saudara yang sudah meninggal. Jika makamnya terjangkau untuk saya datangi, maka saya akan mengunjungi makam mereka.

Saya malah jarang membawa bunga, untuk diletakkan pada makam-makam atau nisan yang saya kunjungi. Bukan karena tak suka membawa bunga, tetapi karena sulit menemukan penjual bunga.

Maka sebagai gantinya, saya membawakan rokok.

Pada ziarah yang lalu di makam Simbok Banteran, saya bawakan juga kesukaan beliau. Sirih pinang, injet [kapur sirih], dan juga tembakau.

Saya hanya berusaha memberikan yang terbaik bagi leluhur saya yang sudah meninggal, juga pada saudara-saudara. Selain doa, saya berusaha membawakan apa yang dulu mereka suka.

Beberapa orang mungkin menganggapnya hal atau perbuatan yang sia-sia. Tak mengapa, toh masing-masing orang mempunyai pendapat dan penafsirannya masing-masing mengenai kehidupan dan kematian.

Bagi saya, tak pernah ada hal atau perbuatan yang sia-sia, selama itu bukan hal atau perbuatan yang menyakiti sesama makhluk Tuhan.

Oh iya, sering ke kuburan?

5 Comments

  1. Viagra Ohne Rezept Stuttgart Buy Ciprodex Levitra Gebrauchsinformation Generics Med Indian Comprar Cialis Internet Foro Secure Cheapeast Provera Worldwide Medication Overnight Amex

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *