BEBERAPA KEJADIAN, DALAM SEBUAH CATATAN

“Bu..Bu, mrene sik. Jenenge lengkap nak wedok sopo?”

Dini Hari
Hening, hanya terdengar laju beberapa kendaraan di jalan raya, tepat di seberang. Hanya berbatas sebuah bahu jalan, yang sudah rapuh sedikit berlubang.
Deru suara AC bahkan jelas terdengar, di selingi beberapa canda dari sebuah obrolan ringan, dengan suara yang terdengar sebisa mungkin, ditahan.

Semua serba jelas dalam hening yang rapat dari waktu ke waktu. Hanya saja, tak dapat terekam lengkap, dan tak teringat.

Kecuali satu hal yang kemudian akan membuat terbahak siapapun yang melihat serta mendengarnya

“Bu..Bu, mrene sik. Jenenge lengkap nak wedok sopo?”

Seorang laki-laki dengan usia belum lebih empat puluh, terlihat gusar memanggil seorang perempuan yang juga tak kalah gusar, dengan seorang anak kecil menangis di gendongan.

Seseorang yang dipanggil ‘Bu’ sejenak nampak bingung, apakah ia harus meredakan tangis anak dalam gendongannya, atau meredakan tanya si laki-laki dengan sebuah jawaban.

Tak lama, si ibu nampak menguasai keadaan. Dengan masih sabar meredakan tangis si anak, ia hampiri laki-laki yang ternyata suaminya, dan menyebut sebuah nama yang lengkap dan cukup panjang.
Si laki-laki nampak lega.

Kini, saya yang mengernyit dan tersumpal suatu ganjalan.
Hmmm, mungkin saja karena membuat anak tidak sepaket dengan membuat nama.

Pagi hari
Beberapa waktu terakhir sinar matahari seperti enggan bersahabat. Belum juga ia merangkak terlalu tinggi, sudah panas saja. Hampir tak ada kesegaran yang tersisa setelah fajar yang cukup singkat terlewat.
Hampir saya mencuci muka dengan Listerine, agar segar terasa.

Beberapa orang duduk pada bangku panjang. Beberapa terlihat gelisah, beberapa terlihat tenang, sebagian terlihat mengantuk. Sepagi ini.

Beberapa orang terlihat menyapu. Di kejauhan, seorang berjaket membawa sebuah cangkir yang terlihat mengepul, sembari menatap layar hape. Beberapa lagi terlihat berjalan, ada yang pelan, ada yang tergesa, ada yang nampak tak bertujuan.

Menjelang siang
Ramai. Deret kursi panjang yang pada pagi hari hanya nampak terisi oleh beberapa orang, kini nampak penuh.
Beberapa orang berbadan tegap, nampak berdiri, seakan bersiaga. Beberapa orang berpenampilan klimis, nampak berlalu lalang. Beberapa orang bermuka kusut, nampak linglung berjalan.

Saya sendiri, hampir tak jelas termasuk golongan mana. Beberapa orang menilai saya berbadan tegap, namun saya tak bersiaga. Saya berlalu lalang, namun jangankan klimis, mandi saja jarang. Tentu saya berwajah kusut pagi itu, namun juga tak linglung.
Ah, manusia macam apa.

Matahari semakin meninggi, semoga ia tak lekas berlari meninggalkan tempatnya.

Siang hari
Panas, yaa tentu saja panas. Kecuali bagi yang sedang berada didalam ruangan ber-AC, atau sayur-sayuran macam wortel, tomat dan kobis yang asyik mendengkur di dalam kulkas. Bahagianya mereka. Tenang, dingin, sejuk, tanpa kewajiban apapun selain tunduk pada fitrah dariNya.

Tapi hei, bukankah harusnya saya juga tunduk pada fitrah dariNya jika ingin sejuk, segar, dan dingin. Persis seperti tomat, wortel dan kobis. Tak pernah membantah takdir dan kodrat. Jalani saja.

Pernah suatu kali saya merasa tak ubahnya seperti kobis. Dengan beberapa ulat, menjadi santapan ayam, atau berakhir di meja makan bersama bakmi dan nasi.

Beberapa orang masih duduk di bangku panjang. Beberapa orang berbadan tegap masih terlihat siaga. Beberapa orang klimis tak lagi nampak. Beberapa orang bermuka kusut tak lagi terlihat, kecuali ketika saya berhadapan dengan kaca.

“Sekian ini, Pak.”

“Ooh, iya, terima kasih mas.”

Seseorang memanggil saya Pak. Kenapa saya tak balas memanggilnya Nak?
Ah…

Menjelang sore
Ruang yang mirip, hampir sama dengan ruang pada dini hari. Namun tanpa suara kendaraan, suara AC tak begitu terdengar, dan tak ada seorang bapak yang lupa nama lengkap anaknya.

Nampak beberapa kesibukan, pada beberapa ranjang, dengan banyak orang berlalu lalang.

“Besok tolong dilengkapi ya Pak.”

“Iya mbak.”

Kembali, seorang berusia lebih muda memanggil saya Pak, kenapa saya tak balas memanggilnya Nak.
Sungguh manusia kurang belajar pada pengalamannya.

Sebuah mobil melaju, kencang, berhenti, menurunkan penumpang. Gaduh.
Tirai ditutup, namun tak penuh.
Seorang laki-laki paruh baya telentang, seorang laki-laki muda diatasnya dengan kedua tangan menekan.
Tangis pecah kemudian.

Sore hari
Nyamuk mulai nakal. Kenapa tak tenang saja kau duduk dalam lirik lagu ciptaan Papa T Bob, cukup nyaring saja dalam suara Enno Lerian, tak usah terbang kesana kemari, hinggap sana sini. Bukan karena saya takut donor darah, lantas kau benarkan secara sepihak mengambil darahku. Tak coblos balik purun? Muk, nyamuk?

Hampir senja, matahari sudah bertengger di cakrawala. Ooh, ini memang sudah senja, langit mulai berwarna jingga. Entah apakah warna jingga sedikit saja berkenan membasuh muka ini agar tak lagi kusut.

Ramai, tak lagi gaduh, tangis tak lagi terdengar.

Masih ruang yang sama, deret ranjang dan tirai-tirai lebar, serta orang-orang berlalu-lalang.

“Masih lama?”

“Belum tahu Pak.”

Sungguh pada sepenggal senja sore itu, saya merasa begitu tua.

Malam hari
Kamar cukup besar, bersih, AC, televisi, dan kamar mandi dengan wastafel dan kaca. Cuci muka, sejenak berkaca, ah…ternyata saya masih muda, sedikit botak saja.
Kurang ajar anak-anak itu memanggil saya Pak.

Sepi, sedikit dingin, dengan banyak penat yang terbawa.

Tak lagi gaduh, tak lagi riuh rendah percakapan dan lalu lalang manusia. Tak ada lagi drama, tak ada lagi suara-suara. Hanya percakapan-percakapan kecil, tentang yang lalu, dan kemungkinan esok yang akan datang.

Penat masih melekat, mandi, siapa tahu penat tak lagi rekat.
Ah, sama saja. Selesai mandi, berkaca, tak ada yang berubah. Tak bertambah tampan, atau juga tak terlihat berbeda dari sebelumnya, kecuali rambut yang basah oleh keramas. Lalu, mengapa manusia mengagungkan mandi yang nyaris tanpa manfaat.

Hampir tengah malam
Tidur, mungkin solusi agar esok sedikit segar, tak lagi kusut, dan tak lagi dipanggil Pak.

Tapi, kenapa sangat dingin. Kenapa tak sedikit hangat seperti menjelang siang tadi. Mendadak saya mengumpat kenapa sempat iri terhadap kobis, wortel dan tomat. Bagaimana mereka pada malam sedingin ini. Apakah menggigil, dan memakai selimut di dalam kulkas?

Ah, manusia aneh.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *