Bekerja Keras Atau Bekerja Cerdas?

Sekira sepuluh tahun yang lalu, saya sempat terpesona oleh suatu jargon. Tentang bekerja, tentang kehidupan, dan tentu saja….tentang uang.

“Bekerja cerdas, biarkan uang bekerja untuk kita.”

Saya begitu terpesona, dan larut dalam propaganda mengenai ‘bekerja cerdas’.

Jangan sampai hidup kita sia-sia untuk mencari uang. Biarkan uang yang mencari kita. Nah kan, sangat menggiurkan.

Siapa dari kita, pada era seperti saat ini, yang tak ingin dicari oleh makhluk bernama uang?
Selain orang dengan status ‘ODGJ’, tentu semua berharap akan disambangi oleh uang. Apalagi dengan jumlah besar, tanpa usaha maksimal atau optimal.

Maka saya kemudian mulai mengikuti berbagai ‘kelas’ dan seminar, untuk mengetahui bagaimana caranya agar uang bisa terpesona kepada saya, dan kemudian kemanthil-manthil mengikuti kemana saya pergi serta berada.

Seminar pertama yang saya ikuti, berakhir dengan sangat sehat dan sentausa. Karena ternyata seminar yang dalam selebaran dan pengumumannya akan mengajak untuk berangkat sejahtera bersama-sama itu, adalah seminar jualan jamu. Benar-benar jamu, obat-obatan, yang dibungkus dengan frasa herbal.

Lebih tepatnya, MLM jualan jamu dan obat, juga berbagai kopi sachetan yang diklaim bisa meningkatkan derajat kesehatan.

“Setelah seminar ini, berusahalah untuk mencari satu atau dua orang untuk diajak bergabung, untuk menjadi anak buah anda, dan dengan itu anda sudah merintis jalan sebagai seorang pimpinan.” kata pengisi acara dengan sangat berapi-api.

Selepas acara, apa yang membuat saya bersemangat bukanlah mencari ‘anak buah’ atau ‘downline’, tetapi membeli satu box kopi sachetan seharga dua puluh lima ribu rupiah.

Ternyata, mencari ilmu ‘pelet’ untuk memikat uang itu….tidak mudah.

Bekerja cerdas agar uang yang bekerja untuk kita, ternyata tak semudah yang dibayangkan. Selepas berbagai seminar yang tak jauh-jauh dari jual beli obat, saya masih mencoba mencari cara agar uang mau bekerja untuk saya.

Pokoknya asal uang bekerja untuk saya, dan menghasilkan uang lain atau malah beranak pinak. Tak usah memakai lamaran pekerjaan, saya akan terima uang yang bersedia bekerja untuk saya.
Tetapi sampai akhirnya jenggot saya tumbuh, belum juga ada uang yang mau bekerja untuk saya.

Akhirnya saya masih terus dan terus bekerja keras, dan sementara waktu melupakan perihal bekerja cerdas.

Sampai kemudian saya kembali terpesona, oleh konsep ‘bekerja cerdas’ dalam bentuk lain. Kali ini bukan jual beli jamu, tetapi investasi.

Disampaikan oleh beberapa sumber dan ‘ahli’, bahwa investasi adalah kuntji.

Investasikan sebagian dari penghasilan kita saat ini, melalui suatu perhitungan tertentu, dan biarkan penghasilan yang kita sisihkan itu kelak akan bekerja dan membalas jasa kepada kita.

Nah kan, saya kemudian sangat tertarik. Baru kali ini ada makhluk yang disisihkan, tetapi malah akan membalas jasa di kemudian hari. Tak ada makhluk selain uang yang bisa bersikap semacam itu, termasuk manusia.

Karena tertarik dengan cara dan ‘perhitungan tertentu’ yang dimaksudkan, saya mulai mencari informasi.
Bagaimana tidak tertarik, bahkan disampaikan dengan penghasilan tiga juta rupiah, tetap akan bisa berinvestasi, bahkan membeli beberapa rumah dalam jangka waktu tak lebih dari lima tahun.

Tentu saja, ada rumus dan perhitungan tertentu itu tadi.
Dan ya tentu saja, rumus dan perhitungan tertentunya ada dalam berbagai modul, seminar, yang bisa ditebus atau dibayar dengan sekian rupiah….bonus VCD motivasi jika pesan sekarang.

“Penawaran terbatas, besok biaya seminar kembali ke harga normal.”

Pernah suatu kali saya ingin ikut salah satu seminar itu. Yang katanya berisi rahasia untuk bisa memiliki banyak rumah, dalam kurun waktu yang tak lama. Dalam hitungan tahun, bahkan ada yang dijanjikan dalam beberapa bulan.

Pernah sudah akan mendaftar, tetapi saya urungkan. Biayanya sebesar sepertiga dari penghasilan saya selama satu bulan. Hah….

Setelah saya pikir-pikir, kok rasanya juga mustahil ada cara-cara semacam itu, tanpa usaha dan kerja keras.

Biaya untuk ikut seminar saja, sudah merujuk pada suatu usaha lebih.

Belum lagi, konon, menurut mereka yang sudah pernah ikut seminar itu, cara ‘rahasia’ yang dibongkar juga tak lantas merujuk pada suatu kerja cerdas.

Begini misalnya. Andai kita sudah mempunyai satu rumah beserta sertifikatnya, kita disarankan untuk menjadikan sertifikat itu sebagai agunan pinjaman di bank, lantas kita mengambil kredit rumah. Rumah kedua yang kita dapatkan dari menjaminkan rumah pertama itu, lantas kita kontrakkan, atau sewakan. Nah, itulah yang ‘mereka’ maksud sebagai kerja cerdas.

Kita tetap harus mempunyai mosal awal berupa uang, harta, yang sayangnya juga harus dalam jumlah atau nominal cukup besar. Harus ada modal besar yang akan digunakan untuk menopang langkah-langkah besar kita ke depan.
Kalau tidak punya modal?
Yaaa…..sudah ikut seminarnya saja. Dengerin orang bicara, sama dapat kacang bawang buat klethikan.

Tetapi menurut saya, yang cerdas ya tetap yang menyelenggarakan seminar. Tanpa menjaminkan sertifikat atau apapun di bank, mereka sudah mendapatkan banyak uang, dari para peserta yang ikut seminar mereka. Kalikan saja misalnya lima ratus ribu rupiah, dengan seratus peserta, dua kali seminggu, pada lima kota dalam sebulan.

Sugih sugih cuuukkkk….

Padahal apa yang disampaikan, tetap saja mengenai ‘kerja keras’. Seperti ketika saya pernah ikut seminar jualan jamu dan obat itu. Kata kunci pertama tetaplah kerja keras. Mencari downline sebanyak-banyaknya. Baru setelah itu bisa ongkang-ongkang kaki.

Tak pernah benar-benar ada cara-cara ‘bekerja cerdas’, jika yang dimaksudkan adalah menunggu uang datang dengan sendirinya, tanpa modal dan usaha keras.

Selalu ada modal besar dan usaha keras di awal.

Maka, akhirnya saya memilih untuk ongkang-ongkang kaki. Bukan menunggu uang datang dan bekerja untuk saya. Tetapi menunggu dapat undian berhadiah dari bank.

Nah kan, itu yang namanya kerja cerdas. Tunggu saja hadiah dari bank, atau darimanapun. Kata kuncinya mudah :

“Ikut undian berhadiah sebanyak mungkin.”

Salam.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

12 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.