Belajar Cuek Bin Ndableg

Ndableg dulu ~yha…biar nga gila….

Ndableg itu padanan kata yang hampir sama, ya cuek itu. Tidak peduli terhadap sesuatu, atau tidak mendengarkan sesuatu pendapat yang berlaku mainstream karena mempunyai pendapat sendiri.

Misalnya saja para ahli kesehatan memperingatkan bahaya merokok karena bla bla bla…dan anda ndableg tidak mendengarkan karena mempunyai pendapat dan keyakinan sendiri tentang rokok serta merokok.

Itu salah satu contoh semisal. Contoh lain : banyak pendapat mengatakan bahwa penebangan pohon di hutan, perusakan untuk membuat hutan menjadi area tambang secara serampangan, alih fungsi lahan pertanian menjadi bangunan, itu akan merusak keseimbangan ekosistem alam dan mengakibatkan bencana. Tetapi anda ndableg, karena berpendapat merusak hutan dan mengalihfungsikan lahan pertanian adalah demi sesuatu yang lebih penting, uang.

Bagi anda uang lebih penting, dan seperti itu yang anda yakini. Maka anda tetap ndableg, ditambah lagi bahwa anda mempunyai akses kekuasaan.

Maka ndableg itu bisa berkonotasi positif, atau juga negatif.

Contoh lain : kuliah, menuntut ilmu, belajar, itu tak perlu dilakukan dengan giat. Karena nanti yang terpenting adalah mencari uang. Tetapi anda ndableg, dan tetap kuliah, menuntut ilmu, dan belajar dengan giat. Karena anda yakin dengan begitu, pada akhirnya nanti kalau hanya sekadar untuk mencari uang, juga bisa lebih mudah.

Ndableg itu….

Saya bukan orang yang kuat, secara fisik maupun psikis. Dan itu silahkan diartikan secara harfiah. Saya benar-benar ringkih.

Dulu setiap kali pulang dari mengikuti kegiatan olahraga, apapun itu, entah sepakbola di lapangan kampung, halaman tetangga, atau bahkan bola voli semasa SMP dan Tae Kwon Do ketika SMA, saya akan pulang dengan membawa cedera.

Cedera dalam skala kecil sampai besar. Mulai dari lecet-lecet, tulang kering kaki yang bengkak membiru, atau persendian yang keseleo. Macam-macam, kayak trancam dan gudangan.

Tetapi saya tetap melakukannya, karena berpendapat bahwa saya harus tetap berolahraga. Mungkin sekali waktu Mamak yang akan mengomel, karena selalu mendapati saya pulang dengan wajah meringis kesakitan.

Hari-hari terakhir ini pun saya juga babak belur, tetapi bukan pada badan atau fisik, melainkan psikis. Benar-benar babak belur.

Corona menghajar saya dengan telak. Memberikan serbuan jab, hook, bahkan upper cut tepat di dagu saya. Tentu saja saya limbung, dan hampir KO.

Saya belajar ndableg, segala gempuran itu saya lawan dengan membatasi segala akses berita yang saya konsumsi. Saya tak akan mengkonsumsi berita yang semakin membuat tertekan. Karena saya ringkih, dan tak ingin membuat kondisi psikis saya semakin babak bundas.

Saya tak akan membaca berita mengenai prediksi kapan berakhirnya pandemi. Saya tak akan membaca berita mengenai serangan wabah gelombang kedua. Saya tak akan membaca carut marut koordinasi penanganan wabah di negeri ini. Saya tak akan membaca semuanya dengan detail. Itu akan membuat saya semakin limbung. Karena psikis saya ringkih.

Saya hanya akan tetap membatasi untuk tidak keluar rumah, memakai masker jika terpaksa keluar, dan tetap bekerja meski dengan segala keterbatasan.

Tetapi membatasi untuk tidak keluar rumah itu juga adalah siksaan. Padahal saya kurang suka pergi keluar rumah. Namun tetap saja itu menyiksa.

Akhirnya saya ndableg pada diri saya sendiri. Saya cuek dan tidak mempedulikan diri saya sendiri yang memaksa untuk keluar rumah barang sebentar saja. Berputar dengan sepeda motor dan tak perlu turun atau mampir dimanapun. Saya ndableg dan tak peduli terhadap bisikan diri saya sendiri, untuk keluar rumah dan berjalan-jalan.

Pun saya juga ndableg ketika diri saya sendiri membisikkan : beli barang yang sedikit lebih banyak, siapa tahu sebentar lagi sudah langka. Jangan sampai kehabisan.

Saya jawab bisikan itu : yang butuh bukan hanya kita. Orang lain juga butuh. Lagi pula, yang mau dipakai buat beli sedikit lebih banyak apa, goblog? Boleh po bayar pakai daun?

Pada akhirnya, ndableg itu adalah tentang mempertimbangkan dan membenturkan. Suatu metode untuk bisa memilih dan memilah. Dengan cara ekstrem, dan sedikit memaksa.

Saya memaksa diri sendiri agar tidak egois, dan menekan segala perasaan untuk serakah dan bertindak semaunya.

Tetapi ternyata ndableg terhadap diri sendiri itu susahnya minta ampun. Kalau hanya ndableg terhadap pendapat orang lain, itu mudah saja. Tinggal didebat dan dibantah dengan berbagai teori dan keyakinan yang kita miliki, selesai.

Tetapi ndableg terhadap diri sendiri? Itu seperti melawan saudara seperguruan. Masing-masing sudah saling mengetahui kelemahan dan juga jurus andalan.

Saya katakan untuk jangan dulu bepergian, diri saya menjawab : kan tetap jaga jarak, lagian juga cuma motor-motoran.

Saya sampaikan untuk di rumah dulu, diri saya menjawab : nanti boros kuota, dan lama-lama kamu bisa gila.

Saya jawab lagi : motor-motoran itu ga pakai bensin po nyet? Kalau hanya gila, nanti RSJ juga masih buka! Tapi kalau corona, nanti kamu bisa nulari, su!

Diri saya masih ngeyel : nanti sampai rumah langsung mandi, pakaian dicuci, sangu hand sanitizer, dan yang terpenting -RSJ tidak menerima pasien yang sudah akut semacam dapurmu-

Welah, kadang saya merasa kewalahan terhadap diri saya sendiri. Kok ya saya itu punya diri yang semacam itu. Mbok ya yang ndalan dan manut sedikit saja, yang pinter gituh.

Akhirnya jurus pamungkas saya keluarkan : kalau masih tetap ngeyel, kamu tak tukar brambang bawang sama kangkung seikat di warung Mbak Qoyim.

Mbak Qoyim adalah pemilik warung serba ada di dekat perumahan tempat saya tinggal.

Akhirnya diri saya sendiri sedikit agak mundur, dan mau ngalah, tetapi masih dengan tetap bergumam : kamu itu juga lama-lama bisa tak tukar sama cilok dua plastik, tanpa kecap dan saus.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

104 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.