Belajar Dari Melihat dan Mendengar, Launching Buku

Hari Jumat, selepas Isya, setelah usai menuntaskan Encounter satu episode sebelum yang terakhir di layar kaca, saya berangkat ke seputaran Jalan Kaliurang.

Ada satu acara launching buku di Warung Mojok [Warmo], yang saya ketahui dari media sosial. Entah kenapa saya tertarik saja untuk datang.

Sebelumnya, saya tak pernah tertarik dengan acara serupa. Apakah itu launching buku, atau bedah buku. Buku hanya menarik bagi saya, untuk dibaca. Bukan saat launchingnya, atau bedah dan pembahasannya. Saya akan dengan sendirinya tertarik pada sebuah buku, apapun temanya. Lepas dari gebyar acara peluncurannya, atau karena rekomendasi dan penilaian para ahli saat dilakukan bedah, ulasan, atau pembahasan.

Tetapi Jumat kemarin, setelah sebelumnya sempat merasa malas untuk berangkat, akhirnya saya pergi juga.

Sudah sangat terlambat. Pada poster tertulis bahwa acara dimulai jam 7 malam. Tetapi saya berangkat dari rumah sudah hampir jam 8 malam.

Sampai di Warmo, acara sudah dimulai. Nampak semarak. Saya sengaja memilih memarkir kendaraan agak jauh dari panggung, agak jauh dari tempat acara di helat. Saya tidak mau mengganggu acara yang sudah berlangsung, dengan kedatangan sepeda motor saya.

Ah, bukan seperti itu sebenarnya. Lebih tepatnya, saya menghindari rasa minder dan rendah diri berlebihan ketika hadir dalam acara seperti itu.

Tentu saja, ini acara yang asing. Acara yang bukan bagian dari kehidupan sosial maupun budaya saya. Acara yang sebenarnya tidak tepat saya datangi, lebih karena kapasitas saya yang memang tidak pantas berada di tengah acara seperti itu.

Launching buku, bagi saya, adalah suatu acara yang sakral. Acara yang padanya tumpah ruah segala harap maupun gelisah dari penulis, ataupun dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dan kesakralan semacam itu, terasa terlalu ‘melangit’ bagi saya.

Ada empat orang berada di panggung utama. Panggung kecil sederhana namun memancarkan aura yang terang, bergairah, serta penuh semangat. Menurut poster yang saya baca, ada tiga pembicara termasuk penulis buku tersebut, dan satu moderator. Tepat sudah kiranya. Mereka berempat menghadap pada pengunjung yang duduk dan menempati kursi-kursi. Saya rasa, mungkin sengaja kursi itu tidak diletakkan dan disusun secara rapi. Mungkin untuk menghindarkan kesan formal yang berlebihan, dan juga untuk mengikis ‘jarak’ yang mungkin muncul. Baik jarak antara panelis dan pengunjung, atau antar pengunjung itu sendiri.

Saya mengambil tempat bukan pada kursi atau ruang yang berdekatan dengan panggung, atau berdekatan dengan pengunjung lain. Saya mengambil tempat jauh di belakang, berdekatan dengan pagar yang membatasi Warmo dengan petak persawahan. Asal telinga saya masih mendengar apapun yang sedang dibicarakan oleh narasumber, dan asalkan saya merasa bebas serta tidak tertekan.

Acara pada Jumat tempo hari, merupakan launching buku dari seseorang yang oleh banyak orang, dianggap sebagai guru. Dianggap sebagai senior atau mentor oleh orang-orang yang berada dan kerap bersinggungan kepentingan dengannya. Dari yang saya dengar, mereka adalah aktifis gerakan sosial, dalam bidang apapun. Mulai dari lingkungan, sampai dengan pendidikan. Juga mereka adalah orang-orang yang kerap terjun langsung di tengah masyarakat luas, untuk memberikan advokasi dalam bidang-bidang yang juga luas. Pertanian, perkebunan, dan hak-hak kepemilikan lahan.

Buku yang sedang diluncurkan itu, berisi catatan-catatan dari si penulis, ketika berada di tengah masyarakat, selama puluhan tahun.

Saya ketahui dari poster di media sosial, nama penulis buku itu Saleh Abdullah. Laki-laki dengan usia hampir 60 tahun. Dan ketika melihat langsung tempo hari, sepertinya dia belum berusia sebanyak itu. Masih terlihat muda.

Dari testimoni yang diberikan oleh beberapa anggota keluarga, maupun teman, bisa saya dengar bahwa penulis ini senang bercanda. Mungkin, itu resepnya untuk terlihat muda. Dan hal itu, juga diakui oleh beberapa temannya, yang menyatakan bahwa Saleh terlihat tidak berubah secara fisik, dalam beberapa tahun belakangan.

Acara terus berlangsung, dan beberapa orang masih terus berdatangan. Tua, maupun muda. Beberapa kursi ditambahkan di luar bangunan utama. Warmo sebenarnya mempunyai ruang yang cukup lega, tetapi mungkin karena banyaknya pengunjung malam itu, tempat yang lega tak cukup untuk menampung.

Beberapa teman penulis silih berganti memberikan testimoni. Baik untuk buku yang sedang dilaunching, atau untuk penulis itu sendiri.

Jaringan pertemanan mereka sangat luas, dan dalam bidang-bidang yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Kerja-kerja sosial yang membela kepentingan lingkungan, dan kepentingan masyarakat pada tempat dimana mereka berada.

Saya dengar malam itu, bahkan mereka melawan perusahaan kelapa sawit berskala giga di Sulawesi Selatan, karena keberadaan lahan perusahaan tersebut, mengancam tanah-tanah adat masyarakat setempat, dan dengan itu mengancam ekosistem maupun budaya yang ada. Dan karena itu, jaringan mereka mengadvokasi masyarakat untuk melawannya.

Sembari terus mendengar, saya semakin menenggelamkan diri di dalam perasaan rendah diri. Berada dalam suatu acara yang diisi oleh orang-orang hebat, membuat saya terus menerus merasa ingin buang air kecil. Karena minder.

Mereka orang-orang yang kenyang pengalaman, mengamalkan serta mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan luas masyarakat. Terus menerus, berkesinambungan, tanpa mengenal batas-batas akhir.

Bahkan saya kembali mendengar dari suara di panggung utama, kalau penulis dan beberapa kawannya pernah ditangkap oleh rezim yang berkuasa tepat sebelum reformasi, karena menyuarakan kebebasan serta tuntutan keadilan. Mereka pernah ditangkap, ditahan, dan beberapa diadili serta di penjara.
Dan mereka, menyikapi seluruh musibah, malapetaka, tragedi yang menimpa mereka di masa lalu, dengan canda tawa renyah dan ringan di masa ini.

Segera saya urungkan niat untuk menulis buku. Bagaimanapun, tak ada modal yang melekat pada diri saya untuk seharusnya berani menulis sebuah buku.

Dari informasi yang saya dengar, melalui testimoni-testimoni itu, bahkan penulis sebenarnya enggan membukukan tulisan-tulisannya, yang menurut para pembicara lain, berkualitas. Berkualitas karena menyajikan data serta fakta dan dituturkan melalui tulisan yang sangat baik, dan terlebih karena substansinya. Tulisan dalam buku itu, berkualitas, karena menyajikan isi yang bukan hanya perkara remeh temeh serta sepele. Bukan melulu tentang bagaimana menghasilkan uang, profit, keuntungan di dalam hidup, tetapi lebih tentang bagaimana menjadi berguna bagi sesama.

Jika penulis dengan kualitas tulisan serta substansi sedemikian rupa saja sebenarnya enggan mendokumentasikannya melalui buku, toh apalagi orang seperti saya yang tak mempunyai banyak pengalaman, atau juga kemampuan untuk mampu menyajikan sesuatu yang berguna secara luas bagi masyarakat.

Bukan lantas saya malah merasa putus asa, sama sekali bukan.
Saya hanya merasa harus terlebih dahulu banyak belajar, daripada banyak bermimpi dan menulis hal-hal yang kurang mempunyai guna serta manfaat bagi kepentingan luas masyarakat.

Acara selesai ketika waktu menunjuk jam 9 lewat 25 menit, pada jam tangan saya.

Saya bergegas pergi, menuju tempat parkir kendaraan. Saya juga tidak berencana untuk membeli buku itu seketika, meski beberapa kali moderator memberikan informasi bahwa buku tersebut tersedia di kasir Warmo. Bukan karena saya tidak tertarik pada buku yang diberi judul sampul, Mata Kaki Kelilipan itu, bukan. Tetapi lebih karena saya harus mempunyai beberapa persiapan untuk membaca buku seperti itu. Buku yang diinformasikan sebagai dokumentasi catatan-catatan penting dari perjalanan hidup serta pengabdian sosial penulis, di tengah masyarakat.

Saya beranjak pulang, dengan banyak bekal pelajaran serta tambahan ilmu yang tidak akan saya dapatkan, dari diskusi-diskusi yang diselenggarakan pada ruang yang kursi-kursinya berjajar rapi.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

26 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *