Belajar Menerima Ketakutan

Gambar : Pixabay

Saya baru saja selesai makan, setelah sebelumnya shalat tarawih. Udara malam [07/05/2019] ini masih tak jauh berbeda dengan malam-malam sebelumnya, panas. Teras rumah menjadi pilihan terbaik mendinginkan diri, agar tak terus berkeringat dan membuat tubuh terasa tak nyaman. Tak ada AC di dalam rumah, maklum saja, tak ada anggaran untuk membelinya. AC masih serupa barang mewah bagi PNS berkasta sudra seperti saya.

Sembari menikmati gigitan nyamuk dan menunggu angin sepoi, sebatang rokok saya sulut untuk kedua kalinya hari ini. Puasa membuat nafsu merokok saya cenderung turun. Sama dengan menurunnya nafsu makan. Makanan seenak apapun tak pernah menggugah selera saya ketika berbuka puasa, dalam beberapa tahun terakhir. Buah-buahan menjadi satu-satunya makanan yang selalu menarik untuk berbuka. Nasi, sayur dan lauk pauk saya konsumsi sekadar untuk menjaga agar tubuh tetap mendapat asupan nutrisi.

Belum juga sampai setengah batang habis tersulut, Gareng, kawan saya yang asu itu, tiba-tiba datang dengan raut muka yang berbinar-binar. Tangannya langsung meraih bungkus rokok di samping saya, mengambil satu-satunya yang tersisa, dan menyulutnya tanpa rasa bersalah dan tanpa meminta persetujuan. Segera juga ia duduk tepat di samping saya, dan klepas-klepus tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Seperti biasanya juga, saya membiarkannya. Tak mengajaknya berbicara, pun juga tak menanyakan kabarnya, meski sudah cukup lama kami tidak bertemu.

“Kamu lagi galau to?” Gareng akhirnya bersuara, namun dengan sebentuk kalimat penghakiman yang tertuju kepada saya.

“Hah? Maksudmu?” Mangkel juga rasanya.

“Ya kamu lagi galau. Dengan sebab tertentu.” Gareng terdengar santai, sembari mengeluarkan asap rokok perlahan.

Sa ae tali sapi. Ia selalu tahu kondisi hati saya, dan apa yang sedang saya rasakan. Jauh lebih mumpuni dari paranormal, yang menebak sesuatu berdasarkan prasangka. Mungkin Gareng juga hanya berprasangka, tetapi apa yang dikatakannya lebih selalu serupa fakta. Terutama, ketika menebak tentang diri saya. Prasangka yang ia kemukakan, tepat adanya.

“Santai saja, manusia hidup sudah membawa nasib dan jatah rejeki masing-masing. Tak ada satu pun yang salah dan tertukar.” Ia melanjutkan, sok ceramah. Tentu saya bertambah mangkel.

“Kopi, ga ada kopi ini?” Lagi-lagi Gareng membuat saya jengkel. Ia meminta kopi. Padahal ia tahu, tak ada kopi yang menemani saya sedari tadi. Bulan puasa adalah bulan teh bagi saya, bukan kopi.

“Ah mbacot Reng. Teh mau? Masih ada sisa tadi sewaktu berbuka.” Malas juga membuatkannya kopi.

“Ah, tetap kopi dong.” Ia menjawab tanpa melihat ke arah saya. Bangsat betul.

“Seperti biasa?” Saya menyerah, akhirnya, seperti waktu-waktu yang lalu.

“Enggak, agak manis aja.” Gareng tersenyum, mulut perotnya menyeringai.

“Lhah, tumben?” Heran juga.

“Biarlah pahit tetap hanya ada pada hidupmu, bukan kopiku.” Gareng tertawa keras.

Bangsaattttt….

Saya masuk ke dalam rumah, menuju dapur, menyeduh air, dan menyiapkan gelas serta kopi untuk dua porsi. Satu untuk saya sendiri, satu lagi untuk keparat yang datang tanpa diundang.

Segera setelah selesai saya kembali ke teras, dan Gareng masih menunggu sembari tangannya sibuk mengusir nyamuk.

“Nyoh.” Saya letakkan satu di dekat tempatnya duduk.

“Nah kan, begini enak.” Gareng langsung mengambil gelasnya kopinya, dan menyeruput pelan. Ia nampak menikmati betul.

“Lama aku tak minum kopi buatanmu.” Gareng tersenyum lebar.

“Rasah cerewet, ndang diombe ae.” Risih menerima suatu kata yang tak lazim keluar dari mulutnya.

Kami kembali terdiam. Saya sulut sebatang rokok, setelah sebelumnya mengambil satu bungkus yang masih baru. Sebungkus rokok yang saya beli pada siang hari selepas pulang bekerja.

Tanpa saya tawari, Gareng kembali mengambil satu batang, dan bergegas menyulutnya. Penceng keparat itu memang tak tahu sopan santun dan adab.

“Kehilangan satu batang rokok tetapi mempunyai teman mengobrol itu jauh lebih bagus daripada stres sendiri, su.” katanya dengan nada ringan.

Anjrit, entah apa maksudnya. Lagipula kenapa ia tahu kalau saya keberatan dengan satu batang yang diambilnya tanpa permisi itu. Asu.

“Tetapi orang sepertimu lebih sering memilih sendirian ketika sedang merasakan sesuatu yang tidak semestinya.” Ia melanjutkan.

“Kowe ki ngomong opo nyet?” semakin risih saja rasanya, dan semakin seperti ditelanjangi.

“Tidak usah disangkal atau ditutupi, kamu sedang galau tingkat akut. Cerita saja, mumpung aku baru berbaik hati mau mendengarkan ceritamu.” Gareng tertawa ngakak.

“Haasshhhh kopet Reng.”

Kami kembali sibuk dengan diri masing-masing. Gareng sibuk dengan tawa yang tak usai, saya sibuk memikirkan kata-kata makhluk keparat itu.

“Hidup akan selalu sederhana, su. Kalau kamu bisa bersikap seperti dulu.” katanya, lagi, sembari arah wajahnya menatap cicak di dekat lampu teras.

“Maksudmu?”

“Kamu mengalami kemunduran yang cukup signifikan, dalam hal penerimaan terhadap kehidupan. Kamu mulai banyak mau, setelah dulu sempat mau menerima apapun yang menjadi jatahmu.” Gareng terdengar santai, dengan vonisnya.

“Dan kamu tetap sok tahu, asu.” Rasanya sangat marah, dan ingin memukulnya seketika.

“Dan kamu tetap keras kepala dengan tidak mau mengakui penyakit yang ada dalam batinmu. Kamu sakit, tetapi sok sehat dan sok kuat. Kamu mengalami kemunduran, tetapi sok merasa mengalami kemajuan. Hanya demi agar pikiranmu tak terlalu risau. Padahal kalau dibiarkan, kamu sebentar lagi mendekati gila.” Gareng tertawa keras setelah memberi tekanan pada kata gila di akhir kalimatnya.

“Oh iya,” Gareng melanjutkan, “dan kamu selalu mengedepankan kemarahan untuk segala hal yang menurutmu tidak berjalan baik. Secara subyektif kau menilai bahwa hidup tak berjalan baik untukmu, dan kau marah. Pengecut.” Gareng kembali tertawa keras, dan mengambil gelas kopinya, “Aku minum lagi ya kopinya, mumpung belum dingin.”

Seperti biasanya juga, saya tak terlalu peduli dengan semua kalimat atau detail kata-katanya. Hanya saja, penceng keparat itu memang selalu benar. Tentang apa yang saya rasakan.

“Tetapi ada yang luput dari penilaianmu, Reng.”

“Apa?”

“Bahwa segala penilaian subyektif itu, mempunyai sebab. Kamu tidak pernah sekalipun menyentuh sebab-sebabnya, dan hampir selalu berbicara mengenai akibat dan gejala setelahnya saja.”

“Cah goblog. Aku tak pernah peduli pada sebab-sebab yang terjadi padamu. Hanya saja sekali lagi aku ingatkan, hidup lebih banyak tentang bagaimana sikap ketika menerima akibat. Camkan.”

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

13 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *