Belajar Selalu Saja Menyakitkan

Jika ada hal yang paling sulit dikalahkan atau diatasi dalam suatu proses belajar, maka saya akan menempatkan satu hal yang hanya terdiri dari satu kata : konsistensi.

Konsistensi, atau ketetapan, kemantapan, yang dengan itu akan mempengaruhi kesinambungan. Kemauan terus menerus untuk tak berhenti belajar. Belajar dalam hal apapun, saya kira.

Itu jelas lebih sulit dari membatalkan puasa.
Belajar puasa itu sulitnya minta ampun, dan membatalkannya kok ya mudah saja. Tinggal minum seteguk air, sudah batal. Padahal tak peduli seteguk air apa yang diminum. Entah coca-cola, air es, bahkan hanya air kran atau air sumur.

Entah makhluk apa konsistensi itu. Yang jelas, ia adalah momok paling menakutkan (bagi saya), ketika sedang dalam suatu proses untuk belajar.

Seringkali, proses belajar berhenti ditengah jalan karena lunturnya konsistensi itu, hilangnya kemantapan, luluhnya ketetapan. Pada banyak kasus, lantas hilanglah kesinambungan, dan semakin jauh tujuan dari belajar itu dapat tercapai.
Pada banyak kasus pula, saya akan berdalih bahwa “yang terpenting adalah prosesnya”. Padahal, pada proses yang sudah dan sedang terjadi itu, saya belum mendapati apapun.

Misalnya saja ketika semasa sekolah saya belajar matematika. Masih sekadar pada prosesnya saya sudah menyerah, dikarenakan banyak hal tentu saja. Karena rumus-rumus dan pola dalam metematika yang sudah ‘pasti’, dan juga dikarenakan otak saya terlampau terbatas untuk dapat memahami matematika. Saya kurang bisa menerima sesuatu yang sudah ‘pasti’. Saya cenderung menyukai ketidakpastian, meski terkadang menyakitkan.

Akhirnya saya mesti menyerah terhadap matematika itu, berhenti ketika masih berproses, dan sampai saat ini gagap menghitung segala sesuatu yang berhubungan dengan matematika serta juga kepastian. Misalnya saja, saya selalu gagal menghitung berapa gaji saya setiap bulan, dan berapa pengeluaran saya setiap bulan itu juga. Kegagalan itu memang berakibat tak terlampau fatal, tetapi juga tak bisa disederhanakan. Misalnya saja ketika saya menginginkan membeli barang yang cukup mahal, dan dengan itu membutuhkan tindakan menabung. Saya selalu gagal menabung karena gagal menghitung pengeluaran dan pemasukan setiap bulan, yang itu terjadi karena kegagalan saya dalam belajar matematika semasa sekolah. Done.

Bukan hanya matematika, saya juga gagal belajar fisika, kimia, dan bahkan seni musik dan seni rupa. Saya gagal pada hampir semua pelajaran di sekolah, karena saya selalu sudah menyerah dan kehilangan konsistensi ketika masih dalam tahapan proses. So, masih mau berdalih yang penting prosesnya?
Saya kira, kita baru boleh bersembunyi dibalik ‘proses’, ketika sudah menyelesaikan semua rangkaiannya. Bukan berhenti ditengah-tengahnya.

Diluar bangku sekolah, diluar semua mata pelajaran yang harus saya kuasai dalam pendidikan formal, saya juga selalu gagal dan kehilangan konsistensi dalam belajar.

Sampai dua kali mengikuti kursus gitar, yang masing-masing saya jalani selama enam bulan, saya tetap tak bisa bermain gitar. Bahkan jika sekadar hanya genjrang-genjreng dan asal bunyi. Saya tetap saja tak mampu. Saya kehilangan kemantapan untuk belajar gitar itu, karena tak kunjung bisa memainkan sebuah lagu. Padahal, semua prosesnya sudah saya lakukan dan ikuti sesuai petunjuk dari guru saya. Perasaan stagnan dan tak bisa berkembang itu akhirnya mereduksi segala kemantapan, dan menggantinya dengan keraguan. Apakah saya sebenarnya memang ditakdirkan untuk tak bisa bermain gitar?
Pertanyaan itu akhirnya terjawab ketika saya pada akhirnya benar-benar menyerah, dan tak melanjutkan belajar. Sejauh yang saya ingat, karena saya tak lagi bisa menikmati proses belajar itu.

Jika ada satu atau dua hal dalam suatu proses belajar yang saya tak pernah menyerah padanya, itu hanya ketika saya belajar naik sepeda kayuh, dan belajar naik sepeda motor. Selain pada dua hal itu, saya selalu hampir kehilangan konsistensi.

Ketika belajar naik sepeda kayuh, saya selalu mempunyai semangat berlipat untuk terus menerus mengayuh meski terjatuh, dan selalu mempunyai energi berlebih untuk tak lekas merasa letih. Begitu bangun tidur (sejauh saya mengingat), saya akan langsung menarik mamak atau bapak untuk mendampingi saya belajar naik sepeda. Meminta mereka memegang sadel bagian belakang, dan melepaskannya ketika sudah mulai merasa seimbang. Terus menerus begitu dengan puluhan kali terjatuh, dan akhirnya saya bisa.

Begitu juga dengan sepeda motor, meski prosesnya jauh lebih melelahkan. Selama hampir tiga tahun sebelum diperbolehkan menaiki sepeda motor, saya ‘hanya’ menjadi semacam asisten pribadi bagi bapak dalam mengurus sepeda motor. Saya akan mengeluarkan sepeda motor dari dalam rumah ke halaman, menghidupkannya untuk dipanasi sebelum dipakai oleh bapak untuk bekerja. Pada malam hari, saya akan memasukkan sepeda motor itu ke dalam rumah ketika bapak atau mamak sudah tidak akan memakainya lagi. Selama hampir tiga tahun, hanya itu yang saya lakukan dengan sepeda motor.

Tetapi saya tak menyerah, dan ketika akhirnya diperbolehkan menaiki sepeda motor itu, hati dan jiwa saya seakan sudah menyatu, dan tak butuh waktu lama bagi saya untuk menguasainya.

Kenapa tak terjadi dalam proses belajar pada hal lain?
Kenapa tak terjadi misalnya dalam hal pelajaran?

Entah saja, yang jelas karena pada sepeda kayuh dan sepeda motor, saya menikmatinya.

Menikmati setiap proses, yang bahkan jika itu adalah luka berdarah, atau hanya sekadar mendorong motor untuk memasukkannya ke dalam rumah.

Diluar dua hal itu, saya seringkali tidak menikmati proses. Termasuk ketika saya belajar menulis.

Saya memulai untuk belajar menulis sekira empat tahun lalu, pada tahun 2016. Semenjak itu, saya memaksakan diri untuk terus menerus menulis, setiap hari, dan bahkan dalam setiap waktu luang yang saya miliki. Menyiksa tentu saja, dan terkadang saya juga kehilangan kosistensi. Pernah pada suatu rentang waktu, saya tak menulis sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Hasilnya?
Selama empat tahun belajar menulis, tulisan saya tak pernah membaik.

Saya tetap tak bisa menulis dalam kategori spesifik. Saya tak bisa menulis esai, menulis artikel, menulis narasi, deksripsi, menulis feature,dan apalagi menulis kajian ilmiah. Tulisan saya selama lebih kurang empat tahun, hanya semacam ini. Semacam tulisan yang sedang anda baca ini, tak lebih.

Itu juga terjadi karena terkadang saya tak menikmati prosesnya. Saya kehilangan konsistensi, kemantapan, dan tujuan tentang apa dan bagaimana saya dengan tulisan. Terkadang, saya seperti hilang ditengah jalan.

Saya memang sulit untuk bergelut dengan kepastian, cenderung tidak menyukai hal-hal yang sudah pasti. Namun ternyata hal itu juga paradoksal. Ketika belajar sesuatu dan tak kunjung menguasainya, saya akan bertanya-tanya kiranya kapan akan bisa menguasai. Aneh bukan? Sekaligus menyebalkan.

Dalam hal yang lebih luas dan tak terlampau spesifik, saya juga cenderung angin-anginan. Belajar menerima kehidupan misalnya.
Terkadang saya merasa lebih baik menyerah saja terhadap hidup yang demikian ini (hidup saya tentunya), dan merasa lebih baik meniadakan semua rencana, kemudian mengalir mengikuti arus saja. Terkadang, begitu juga. Karena saya pun terkadang tidak merasa sedang menikmati hidup ini, dan kemudian merasa bahwa hidup sebaiknya mengalir saja, tanpa adanya rencana. Untuk apa rencana-rencana, jika pada akhirnya kegagalan menanti pada ujungnya.

Belajar bagi saya selalu saja sulit, dan terlebih lagi —menyakitkan—.

Tentu saja belajar yang selalu menyakitkan ini hanya berlaku pada diri saya sendiri, dan tak terjadi pada anda.

Tahu sebabnya?
Karena anda tahan membaca tulisan sampah ini sampai selesai. Saya saja tak membaca tulisan ini ketika selesai dan mengunggahnya.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *