Belasungkawa Untuk Korban Tsunami Selat Sunda

Salah satu sudut Pantai Anyer, bulan November empat tahun lalu.

Di tengah hiruk pikuk libur panjang akhir tahun, sebuah kabar duka datang dari Selat Sunda. Tsunami dari Selat Sunda menghampiri dua sisi, Banten maupun Lampung. Banyak korban, dan pihak terkait belum memberikan rilis resmi berapa jumlah korban meninggal dunia, maupun luka-luka.

Alam sedang menjalani kodratnya. Menjalankan sabda Tuhan atas dirinya. Alam, tentu saja tak bermaksud merenggut nyawa manusia.

Sejauh yang dapat diketahui sampai saat ini, menurut rilis resmi dari BMKG, hasil pengamatan menunjukkan tinggi gelombang masing-masing 0.9 meter di Serang pada pukul 21.27 WIB, 0,35 meter di Banten pada pukul 21.33 WIB, 0,36 meter di Kota Agung pada pukul 21.35 WIB, dan 0,28 meter pada pukul 21.53 WIB di Pelabuhan Panjang. (Sumber : kompas.com)

Tsunami bukan dipicu oleh gempa bumi, melainkan oleh aktifitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Maka tak banyak yang menyadari akan adanya tsunami.

Kejadian alam apapun dan bagaimanapun rupa bentuknya, merupakan suatu keniscayaan. Mekanisme yang memang harus ada dan terjadi, lepas dari kuasa dan tindakan manusia.

Kejadian alam khususnya tsunami, hendaknya tak kita sikapi sebagai sebuah ‘bencana’ yang ‘sengaja’ di berikan oleh Tuhan terhadap manusia. Tsunami, adalah mekanisme alam yang memang harus ada dan terjadi, seperti halnya pergantian siang dan malam, atau terbit dan tenggelamnya matahari.

Semoga saja tak ada orang, pihak, yang menyatakan bahwa tsunami Selat Sunda terjadi di karenakan tingkah polah manusia yang ingkar terhadap Tuhan. Semoga saja, tidak ada yang akan mengatakan demikian. Seperti kita tahu, akhir-akhir ini, ada sekelompok orang yang kehilangan kewarasan dengan mengatakan bahwa kejadian alam termasuk tsunami adalah azab bagi segolongan manusia yang ingkar terhadap Tuhan.

Anda tahu? Jika kejadian alam seperti itu dikarenakan tingkah polah manusia yang ingkar, tentu sasaran korban hanyalah mereka yang ingkar, dan enggan merenggut mereka yang tak taat serta patuh. Tuhan sendiri sudah mencontohkan, terhadap Fir’aun yang tenggelam.

Semoga korban yang meninggal mendapat tempat terbaik serta ketenangan, dan mereka yang ditinggalkan selalu mempunyai ketabahan.

Manusia juga adalah alam itu sendiri, bagian integral tak terpisahkan. Namun kita juga adalah puing kecil dan serpihan dalam luas, rumit serta kompleksnya jagad raya. Maka kesanggupan kita hanyalah selalu berusaha, berdoa, memohon, meminta, serta mengusahakan agar selamat dan mendapat suatu yang terbaik dalam sejarah peradaban kehidupan kita.

Saya pernah sekali ke Banten, Cilegon. Pada Anyer dan Carita. Keramahan dan kebaikan warga, serta keindahan alam pantainya tak akan pernah saya lupakan. Doa saya selalu untuk kebaikan mereka, untuk kesembuhan mereka, untuk ketabahan mereka.

Pantai Anyer November empat tahun lalu. Senja pada tepi ingatan yang takkan terlupa.
Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

13 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.