Beradu Argumentasi

Layar televisi sudah menemui senjakala usia serta kejayaannya. Rating acara-acaranya sudah banyak merosot. Hampir tak ada lagi orang yang fanatik terhadap acara televisi. Pun sinetron, sudah hampir tak mendapat tempat lagi di hati dan mata masyarakat Indonesia. Masyarakat lebih menyukai debat-debat dan drama dalam situasi yang nyata. Drama pemilu, misalnya.

Kini, masyarakat sudah bermigrasi besar-besaran menuju media sosial, internet, untuk mendapatkan tontonan atau hiburan. Salah satunya, Youtube.

Menurut data, Youtube menjadi media sosial yang paling banyak diakses oleh masyarakat pengguna internet di Indonesia. Mengalahkan Facebook atau juga Instagram. Dua platform media sosial yang awalnya saya kira menguasai jagad maya Indonesia. Ternyata tidak, Youtube menjadi media yang paling banyak diakses oleh masyarakat pengguna internet.

Sebenarnya tidak mengejutkan juga, dan saya saja yang sebenarnya terlalu goblog untuk memahami atau mengerti kenapa Youtube bisa menjadi demikian populer.

Manusia cenderung menyukai dan lebih mudah mencerna informasi yang disampaikan melalui media visual. Menangkap dengan mata sesuatu obyek yang berupa gambar atau juga video. Maka Youtube adalah media yang sangat sempurna, pada era sekarang ini, untuk menyampaikan pun mendapatkan informasi.

Berbeda dengan tulisan, video jauh lebih mudah dicerna serta diingat oleh memori manusia. Semenjak ada televisi, koran tak begitu laku, dan perlahan mati. Semenjak ada Youtube, televisi yang berganti untuk perlahan mati.

Sederhana saja sebenarnya. Youtube menyediakan akses yang luas bagi siapapun untuk mengunggah atau mengunduh informasi. Tentang apapun, dan dimanapun.

Jika dahulu mencari informasi mengenai dunia sepakbola harus menunggu tiap akhir pekan, kini Youtube menyediakan ribuan channel yang bisa diakses setiap saat.

Saya sendiri sudah lebih dari sepuluh tahun tidak menonton televisi. Dalam arti, mempunyai program favorit tertentu yang harus saya lihat dengan meluangkan waktu. Pertandingan sepakbola menjadi satu-satunya acara yang masih sesekali saya lihat di televisi.

Kini saya pun beralih menjadi youtuber. Menjadi konsumen dan pemirsa saja tentunya, bukan pengunggah konten. Youtube menjadi media yang memuaskan dahaga saya mengenai berbagai hal. Paling utama, mengenai otomotif dan olahraga, dua hal yang saya suka selain juga membaca dan menulis.

Tetapi disela mencari tayangan mengenai otomotif maupun olahraga, terkadang Youtube menampilkan tautan video mengenai konten lain. Salah satunya tentang tayangan yang menampilkan perdebatan atau adu argumentasi antara dua orang atau dua kelompok, atau bahkan lebih.

Sementara lupakan ILC yang hanya membuat perut mulas itu, bukalah Youtube dan temukan aneka perdebatan lain yang lebih kualitatif.

Saya sendiri juga sebenarnya tak pernah utuh menyelesaikan tayangan mengenai debat atau adu argumentasi. Otak saya mendadak macet mencerna adu teori dari orang-orang pintar itu.

Perdebatan selalu membawa ketakutan berlebih kepada diri saya. Seperti melihat dua orang dalam adegan ketoprak, tetapi tak kunjung berkelahi. Membosankan, bukan?

Merasakan kebosanan membuat saya menjadi takut. Lebih takut lagi kalau mendadak hape saya banting, atau laptop saya tendang, gegara melihat perdebatan-perdebatan namun tak kunjung ada baku hantam. Hahahaha…

Meski semakin menuju pada standar tayangan televisi dengan banyak settingan atau drama, paling tidak untuk saat ini aneka siaran mengenai perdebatan di dalam Youtube, masih cukup natural. Tak terlalu banyak settingan atau drama. Entah beberapa tahun ke depan, ketika youtuber dengan banyak subscriber mulai mempunyai banyak pekerja dan lantas membuat tayangan yang tak ubahnya siaran televisi.

Yang saya heran, kok berdebat saja pakai acara direkam, kemudian diunggah di media sosial?
Apakah sebagai ajang pembuktian mengenai eksistensi diri? Karena bisa lebih unggul dari orang lain?
Atau….memang kecenderungan manusia adalah menyukai pertengkaran?

Tapi ya biarkan saja, yang penting tetap ada tayangan perdebatan di youtube. Terkadang perdebatan yang ada adalah diantara dua orang yang sepertinya tak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Jadi bisa untuk hiburan gratis.

Lagipula, kalau semua perdebatan yang terjadi harus melulu mengenai hal yang serius, itu akan berpotensi meningkatkan masyarakat dengan tensi tinggi. Padahal tensi tinggi berpotensi lebih besar terkena stroke atau serangan jantung. Nanti kalau sudah terkena serangan jantung atau stroke, harus menggunakan BPJS.

Kalau menggunakan BPJS, berarti harus juga menghargai para perokok seperti saya ini. Sebab kekurangan dana BPJS banyak ditalangi oleh cukai dari hasil penjualan rokok.

Nah kan, makanya ga usah spaneng, santai saja, dan tak usah beradu argumen.
Kalau terpaksa harus beradu argumen, pilih saja tema yang ringan agar tak perlu memuncratkan ludah.

Misalnya, untuk berbuka puasa lebih enak teh panas atau es teh?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)