Berani Berkelahi : Syarat dan Ketentuan Berlaku

Anak-anak

Pertama kali saya tahu perihal video penganiayaan yang melibatkan BBS (kayak merk velg mobil?) itu, dari akun Facebook @JRX, drummer Superman Is Dead. Video dengan durasi tak lebih dari sepuluh detik itu membuat saya bertanya-tanya :
Siapakah hantu manusia berambut pirang di dalam video itu?
Awalnya saya kira memang hantu, tetapi merunut sejarah perhantuan, tak pernah ada Pocong menganiaya Tuyul, tak pernah ada Buto Ijo menganiaya Bayi Bajang. Jadi, yang gondrong menganiaya itu, manusia.

Berita lebih jelas akhirnya saya dapat dari portal berita online :

https://tirto.id/bahar-smith-resmi-ditahan-polda-jabar-terkait-dugaan-penganiayaan-dcgt?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Terkait

Tirto memberitakan bahwa BBS sudah dijadikan tersangka atas kasus penganiayaan yang ia lakukan.

Berkelahi bagi saya pribadi, adalah perkara sepele. Asal jelas duduk perkara serta masalahnya, digelar dalam kondisi ideal (seimbang), dan terlebih lagi dengan lawan yang setara. Bukan melawan anak-anak.

Antar anak-anak memang sering terjadi perkelahian. Terkadang untuk masalah sepele, tetapi terkadang mereka sudah memahami perkara substansial yang menyangkut harga diri.
Untuk masalah sepele, biasanya anak-anak berkelahi tak jauh dari urusan salah paham di dalam permainan. Terkadang juga rebutan mainan, atau rebutan menjadi ‘tokoh baik’ ketika bermain pahlawan-penjahat.
Untuk masalah yang lebih substansial, anak tetangga saya yang masih duduk di bangku SD, pernah berkelahi dengan teman sekelasnya karena temannya itu menghina orang tuanya. Dahsyat to?

Lagipula, syarat perkelahian antar anak-anak, pastilah saling membalas, maka kemudian disebut berkelahi. Kalau hanya sepihak yang aktif melakukan pukulan atau tendangan, hampir pasti bukan perkelahian.

Maka ketika seorang dengan usia dewasa berhadapan di medan perkelahian dengan anak-anak, maka itu jelas memalukan. Apalagi jika pihak anak-anak tidak mempunyai peluang untuk membalas dikarenakan sebab perasaan takut, serta arena sudah disetting sedemikian rupa bukan untuk berkelahi, tetapi arena bagi satu pihak memukuli pihak lain, maka itu adalah penganiayaan.

Atau jangan-jangan, BBS sedang bermain ultaman-ultramanan, dan anak-anak itu dia anggap sebagai monsternya? Tapi ultraman kok gondrong…

Pengulangan

Apa yang menimpa anak-anak malang tersebut adalah pengulangan dari berbagai kejadian serupa sebelumnya. Pengulangan dari pola relasi kuat-lemah, berkuasa-dikuasai, dan bermacam pola hubungan yang berkutub pada dua hal bertentangan. Relasi yang membuat satu pihak diuntungkan, dan pihak lain dirugikan.

Manusia cenderung menggunakan posisi ‘menguntungkan’ dalam pola relasi tersebut, untuk menginjak sisi yang berposisi ‘rugi’. Hampir tak ada dialektika untuk mencari jalan tengah dan jalan keluar, agar yang kuat tidak menginjak, dan yang lemah tidak terinjak.

Kekuasaaan BBS atas dua anak malang tersebut dimanfaatkan untuk menguasai sampai pada hal-hal paling asasi, yaitu hak untuk membela diri. Dua anak tersebut tak mempunyai daya kuasa dan peluang bahkan sekadar untuk membela diri secara verbal, apalagi dengan tindakan. Maka tidak mengherankan ketika kemudian BBS, ditetapkan sebagai tersangka.

Kejadian ini sekaligus menjadi semacam alarm, penanda, pengingat, bahwa lembaga pendidikan ramah anak-anak masihlah sebatas utopia. Ingat, kejadian ini dilakukan pada lingkungan pondok pesantren. Lingkungan yang seharusnya menjadi tempat perlindungan dan pembelajaran paling aman bagi anak-anak.

Pengulangan pola relasi kuat-lemah yang penuh kesombongan dan kemurkaan seperti ini, membuat saya terpikir bahwa sudah seharusnya pada suatu waktu, BBS bertemu cah klithih.

Pengecut

“Perang paling besar yang akan dijalani oleh umat manusia, adalah perang melawan hawa nafsu dan dirinya sendiri.”

Harusnya BBS lebih paham dan mengerti mengenai informasi yang mengandung petuah bijak tersebut. Perang paling besar dan paling mulia untuk dimenangkan adalah perang melawan diri sendiri, berkelahi dengan ego pribadi, memukuli hawa nafsu yang mencoba mengajak untuk berbuat rugi. Bukan memukuli anak-anak.

Jika amarah sudah memuncak, bolehlah tembok atau batu menjadi sasaran amuk dari tangan dan kakimu yang kokoh dan kekar. Bukan kepala dan tubuh anak-anak yang bahkan tak mempunyai peluang untuk membalas itu. Bolehlah kepal tanganmu engkau arahkan sendiri ke wajahmu, bukan wajah anak-anak itu. Sehingga setidaknya engkau tahu, akan ada luka yang selalumembekas dari tiap pukulan yang kau hantamkan.

Kalaulah enggan memukuli diri sendiri ditengah amarah yang memuncak, carilah lawan yang sepadan untuk melampiaskan hasrat serta nafsumu.Saya yakin, banyak yang akan menerima dan meladeni tantanganmu. Tentunya, dengan cara dan aturan yang jujur dan adil, bukan dengan cara intimidasi dan keroyokan.

Harga diri

Jika ada hal di dunia ini yang tak bisa ditukar dengan harta benda, jabatan, uang, dan berbagai nominal kebendaan apapun, itu adalah harga diri. Harga diri berkait erat dengan nafas kemanusiaanmu, mengikuti sampai ujung nafas, menghantui bahkan setelah mati. Setiap manusia, sewajarnya, akan selalu berusaha untuk menjaga harga dirinya, marwah kehormatannya sebagai manusia. Tentu saja melalui cara-cara yang sesuai dengan norma dan adat kesusilaan, sesuai adab dan ketentuan. Memukuli anak-anak, tentu saja melanggar norma dan adat kesusilaan. Melanggar adab dan ketentuan hubungan antar manusia. Kecuali, engkau memang bukan lagi manusia…

Dengan memukuli anak-anak itu, engkau bahkan tak sedang menjaga harga dirimu untuk tetap mempunyai harga agar pantas berada di antara manusia, engkau bahkan sedang membuangnya.

Jika ingin tetap setidaknya pantas berada di tengah manusia, meski tanpa lagi mempunyai harga diri, sebaiknya kau hadapi proses hukum, dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Salam.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

18 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.