BERCANDA SAJA DENGAN TUHAN, JANGAN DENGAN AGAMA

Kata orang-orang, Tuhan adalah Maha Pencipta, dan kiranya memang begitu adanya. Pencipta nomor wahid baik untuk makhluk bernyawa maupun benda-benda. Ciptaannya selalu awet, dan tak mudah rusak. Tak lekang oleh jaman, futuristik, tak membutuhkan tetek bengek perawatan yang njelimet. Salah satunya matahari. Semenjak Mbah Adam turun ke bumi sampai dengan kelak manusia piknik ke Planet Uranus, matahari tak terganti.

Tak ada ide untuk mengganti matahari dengan sumber yang lebih hemat energi. Ketika bohlam buatan manusia berkembang dan berganti dari pijar dengan kumparan sampai saat ini LED, tak ada ide untuk mengganti matahari. Entah karena belum dibuat vetting yang sesuai, atau karena belum adanya PLN cabang luar angkasa untuk menyuplai daya.

Tapi khusus untuk Indonesia, sepertinya makhluk dan benda-benda buatan Tuhan tak awet-awet amat. Contohnya saja badak bercula satu yang hampir selesai sejarah peradabannya karena ulah makhluk buatan Tuhan yang lain —manusia—, harimau Jawa yang sudah terlebih dulu menjadi almarhum dan almarhumah, hutan-hutan yang kritis dan tinggal menunggu kalimah thoyibah agar khusnul khatimah, juga lahan-lahan pertanian yang diperkosa dan melahirkan bangunan-bangunan.

Selain itu, di Indonesia, ada satu spareparts yang melekat pada manusianya, yang ternyata juga tak awet dan bahkan saat ini sudah rusak sedemikian rupa.

Apakah itu?

Ingatan?
Bukan, sama sekali bukan ingatan yang saya maksud dalam tulisan ini nantinya.
Bukan rusaknya ingatan masyarakat Indonesia yang lupa bahwa dulu Bapak Orde Baru itu yang berperan besar merusak hutan-hutan, dengan menerbitkan HPH secara masif dan tanpa perhitungan, sehingga kini hanya tinggal beberapa petak saja lahan hutan yang belum gundul. Dan kini mereka lupa, bahkan merindukannya. Masyarakat dan alam Indonesia rindu dirusak? Suka diperkosa? Ah, tentu tidak. Dan bukan rusaknya ingatan yang saya maksud.

Lantas?

Yak, syaraf bercanda. Syaraf bercanda manusia Indonesia sudah rusak sedemikian rupa. Dikit-dikit penistaan, banyak-banyak reunian.

Pemahaman serta penghayatan tentang agama bagi masyarakat beragama di Indonesia, sudah bergeser dari mulanya laku tauhid antara dirinya dengan Tuhan, menjadi laku pemujaan terhadap simbol-simbol.
Dari harusnya hubungan intim, hangat, gelap, sekaligus rahasia antara dirinya dengan Sang Maha, terdegradasi sedemikian rupa menjadi hubungan liar antara dirinya dengan simbol-simbol yang dianggapnya sebagai representasi agama, perwujudan Tuhan.

Tak bisa lagi nalar jernih membedakan, mana yang harusnya dipuja dan dijaga, dan mana yang harusnya diperlakukan tak lebih sebagai benda. Benda yang seyogyanya tak memantik perselisihan antara manusia, tak meretakkan hubungan persaudaraan.

Di Indonesia, saat ini, harusnya jangan coba-coba bercanda dengan mengambil tema agama. Runyam. Banyak contoh yang sudah ada. Kecuali mentalmu lebih kuat dari Naruto, silahkan coba bercanda dengan membawa tema agama.
Pemujaan terhadap agama beserta simbol-simbolnya, di Indonesia, jauh melebihi pemujaan yang seharusnya dilakukan umat terhadap Tuhannya.
Jika Tuhan membawa sifat Pengasih dan Penyayang, maka tak harus diikuti dengan mencoba bersikap serupa. Dan tentu saja pengingkaran terhadap ‘sikap teladan’ Tuhan dihadapan makhluknya dengan rupa sifat Pengasih dan Penyayang, bukanlah penistaan. Penistaan adalah ketika label celana dalam kita bertuliskan huruf Arab, dengan tulisan ‘Celana Dalam Ekstra Adem’.

Maka dari itu, mulai sekarang, kalau lah terpaksa masih ingin bercanda dengan hal-hal sensitif seperti itu, bercanda lah langsung dengan pemilik agama, dengan Tuhan. Sebab jika bercanda dengan agama, terlalu rumit.
Saat ini, agama sudah dipoligami sedemikian rupa oleh masing-masing orang, dengan tafsir dan pemahaman masing-masing, dengan aturan yang dipercaya masing-masing kepala sebagai kebenaran mutlak.

Eits, memang bisa bercanda dengan Tuhan?
Lha ya bisa, justru sangat bisa.
Tuhan saja Maha Bercanda (menurut saya lhooo, nanti dianggap penistaan).

Salah satu bentuk guyonan Tuhan yang sampai saat ini saya terus tertawa dan tak habis pikir ;
“Sudah tahu akhir jaman yang penuh gonjang-ganjing adalah waktu-waktu sekarang ini, tetapi kenapa Muhammad kok diturunkan ke dunia fana ini prematur empat belas abad yang lalu?”

Kadang selepas beribadah wajib, saya tengadahkan kepala, dan berkata ;
“Sampeyan ki cen kebangetan. Dumeh Maha trus sak gelem e dewe.”

Selepas itu biasanya listrik terus mati sedang air dalam tampungan terlanjur habis. Kalau tidak, hampir selalu ada tagihan pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
Setelah mengumpat seperlunya, saya akan tertawa keras-keras. Dan bisa saya rasakan, Tuhan ikut tertawa sembari saya rasakan ‘tangan‘Nya memukul ringan kepala saya.

Plong. Saya tak pernah mengedepankan rasa takut ketika berhubungan denganNya. Sehingga dengan itu, saya masih bisa mencintaiNya dengan cara-cara sederhana, dan terkadang berselang dengan canda.

Oh iya, jangan sekali-kali mengumbar guyonan intim antara anda dan Tuhan, pada orang-orang yang tidak mengerti mengenai hubungan macam apa yang sedang anda jalani dengan Tuhan.
Ibarat kata, jangan pernah bersusah payah menjelaskan rasa masakan ‘Kurma masak tempe cabai hijau ekstra saus tiram banyak garam’, pada orang yang belum pernah mencicipinya. Mau bagaimanapun dan cara apapun anda mendiskripsikannya, tetap saja orang lain tak akan paham.

Seringkali juga saya bercanda pada Tuhan, dengan meminta dan berdoa agar manusia-manusia pemarah yang menganggap agama sebagai properti pribadinya —dan yang lain cuma sewa—, mempunyai tambahan dua telinga. Satu persis di depan mulut, satu lagi di tumit kaki. Biar mereka mendengar bisingnya suara mereka sendiri yang keluar dari mulut, sekaligus agar mereka mendengar pendapat dan suara dari akar rumput.

Eh, berdoa kok jelek begitu? Doa yang teramat sangat subyektif juga.

Apanya yang jelek?
Lha wong malah mendoakan orang lain agar mempunyai tambahan properti kok.
Lagipula, terserah Tuhan kan mau mengabulkan atau tidak?

Oh iya, berkait dengan subyektifitas doa. Doa ya memang subyektif adanya, bahkan terkadang terkesan egois.
Tidak percaya?
Kita disini meminta jangan sampai hujan turun karena kita akan bepergian, sedang tetangga sebelah desa kita meminta lekas hujan turun karena berkait dengan masa tanam komoditas pertanian.
Tidak egois dimana coba?

Oleh karena itu, silahkan berdoa sekhidmat-khidmatnya, seluas-luasnya meminta, kepada Tuhan. Perihal hasil, serahkan saja padaNya. Terserah Dia.

Silahkan berkumpul dan berdoa meminta agar Tuhan memenangkan calon pemimpin idola anda, boleh dan sah-sah saja. Tetapi ketika hasilnya tidak sesuai harapan, ya jangan kecewa dengan cara berlebihan, apalagi langsung berpendapat kalau orang lain sedang disesatkan setan.
Siapa tahu orang lain juga berdoa, dengan isi dan tujuan yang berbeda dengan maksud anda. Lantas, apa anda ingin menganggap doa orang lain bukan dikabulkan oleh Tuhan?
Sedang kiblat anda dan orang tersebut, masih sama.

Bisa bercanda dengan Tuhan itu nikmat yang tiada terkira. Semacam keintiman dan kedekatan yang belum ada kata serta kalimat mampu mengandaikannya.

Sampai disini, jika anda masih menganggap Tuhan tidak Maha Bercanda, lantas mengapa Ia membiarkan Gudang Garam membuat dua produk yang demikian nikmatnya (foto terlampir), sedang sebagian manusia mengharamkannya.

Hhmmm. Ngopi dan ngretek dulu.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

20 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.