Bersandar Tanpa Melepaskan

Sinta mendidih darahnya, giginya bergemeretak, demi mendapati sebuah gambar pada akun IG dilayar hapenya.

Ditatapnya lama gambar dilayar hape itu, kemudian terdengar gumam dari bibirnya : “Kurang ajar Rahwana.”

Layar hapenya berpindah dari IG menjadi WA, diketikkan nama Rey pada daftar kontak.

“Kurangajar, apa maksudnya gambar itu. Akan kutanya langsung.” ternyata, Rey adalah nama kontak Rahwana di hape Sinta.

Mendidih darahnya demi mendapati Rahwana sedang berfoto bersama seorang perempuan di pantai. Ia menampik kata cemburu acapkali Rahwana bertanya apakah Sinta akan terusik andai ia menggandeng seorang perempuan lain. Sinta selalu menampik kata cemburu : “Tak ada kata cemburu, terserah padamu saja.” selalu jawaban Sinta seperti itu ketika Rahwana bertanya.

Tetapi entah kenapa, kali ini darahnya serasa bergolak. Selama ini, Rahwana hanya menggoda dengan ucapan dan kata, tak pernah sekalipun memamerkan perempuan lain. Kini, Sinta benar-benar tak menyangka bahwa Rahwana benar-benar membuktikan ucapan yang selama ini dianggap sebatas guyonan.

Selesai ia mengetik sebuah kalimat tanya, dan hampir mengirimkannya kepada Rey alias Rahwana. Tapi urung niatnya oleh sebab suara :

“Sinta, dik sayang, buatin teh panas dong.” Rama, suami Sinta terdengar meminta teh panas.

“Iya mas.” Sinta bergegas ke dapur, urung dikirimkannya pesan itu.

“Awas kau Rahwana.” Masih bergumam dari bibir mungilnya sebentuk suara, merutuki Rahwana.

Tak berapa lama terlihat Sinta berjalan dengan membawa sebuah nampan dengan gelas berisi air teh diatasnya, menuju tempat Rama berada.

“Ini mas, ndang diminum.” Sinta tersenyum sembari mengambil gelas teh itu dan meletakannya diatas meja tempat Rama berada. Nampan kini berada dalam jepitan ketiaknya.

“Iya sayang, terima kasih.” Rama memandang ke arah Sinta sembari juga mengulas sebuah senyuman.

“Aku tinggal ya.” Sinta berpamitan.

“Kemana?” Rama penasaran.

“Ke kamar, nemenin anak-anak nonton televisi.” jawab Sinta.

“Ooh, ya. Aku kira mau pergi keluar.”

“Enggak.”

Sinta bergegas kembali ke kamar, setelah sebelumnya ke dapur mengembalikan nampan pada tempatnya.

Segera ia raih kembali hape dan mengirimkan pesan yang sempat urung dikirimkannya karena segelas teh panas.

“Centang satu, kurangajar.” Sinta bergumam.

*****

Di suatu tempat yang tak terlampau jauh dari sebuah pantai nan indah, Rahwana sedang duduk menghadap meja dengan kopi, rokok, dan berbagai camilan diatasnya. Sendirian ia bergantian memandang kopi didepannya, dan memandang baris perbukitan dengan lembaran laut dibelakangnya. Rahwana menghela nafas, menyimpulkan sebuah senyum dari salah satu wajahnya, dan mengambil sebatang rokok kemudian menyulutnya.

“Bukan aku ingin membuatmu cemburu Sinta, tetapi…” asap rokok mengepul bersamaan dengan keluarnya gumam dari bibirnya.

Rahwana sedang berjalan-jalan sendirian ditepi pantai, ketika kemudian seorang perempuan cantik datang menghampirinya, menanyakan suatu hal, dan kemudian berlanjut mereka berfoto bersama.

Perempuan yang berfoto bersama Rahwana, yang dilihat Sinta melalui akun IG nya, adalah seorang perempuan yang Rahwana sama sekali tak mengenalnya. Tetapi perempuan itu memang mengenal Rahwana. Setelah sesi foto itulah, Rahwana mengunggah foto tersebut pada akun IG nya, yang kemudian dilihat oleh Sinta.

Rahwana memang cukup terkenal. Sebagai seorang raja diraja digdaya dengan kemampuan verbal yang mumpuni, pidato-pidato Rahwana banyak mendapatkan ulasan dan ditampilkan ulang pada ribuan akun Youtube. Perempuan itu adalah penggemar Rahwana, penggemar pidato-pidato Rahwana dalam berbagai forum, dan sekaligus mengagumi kebesaran hati Rahwana dengan memilih melepaskan Sinta daripada timbul perang besar antar negara.

“Pintu taman Argasoka akan selalu terbuka untukmu, apalagi pintu hatiku.” kembali terdengar lirih gumam Rahwana, sembari mengambil gelas kopi dan menyeruputnya.

Rahwana memilih jalur diplomasi dan kemudian melepaskan Sinta ketika terjadi drama penculikan itu. Ah, bukan penculikan, media massa dan surat kabar yang mengabarkannya sebagai penculikan. Juga netizen sok tahu padahal tidak tahu apa-apa yang menuduh Rahwana menculik Sinta. Padahal pada kenyataannya kejadian di hutan ketika Rama ditinggalkan oleh Rama suaminya demi hanya untuk memburu seekor rusa atau kijang, bukanlah penculikan. Kebetulan saja Rahwana sedang melintas di dekat tempat Sinta ditinggalkan oleh Rama, karena ia sedang mencari daun jati untuk bahan pewarna membuat gudeg.

Ketika melintas itulah Rahwana melihat Sinta berdiri dalam perlindungan mantra yang dibuat Rama dan Lesmana, adik Rama. Demi melihat perempuan yang berdiri ditengah sebentuk mantra kuat, Rahwana hanya memandangnya saja. Rahwana tahu bukan golongan orang sembarangan yang mampu membuat rajah mantra sedemikian kuat untuk melindungi seorang perempuan. Dan dengan begitu Rahwana menyimpulkan bahwa perempuan itu juga bukanlah perempuan sembarangan. Maka ia memutuskan untuk tak mendekat sedikitpun, apalagi menyapanya. Tetapi entah mengapa, ketika Rahwana sedang menatap ke arah Sinta, saat itu juga Sinta menatap ke arah Rahwana.

Seketika itu dapat ditangkap oleh mata pandang dan olah batin Rahwana, bahwa Sinta terkesiap ketika melihat kearahnya. Rahwana acuh saja dan mengabaikan kejadian itu. Dan demi jagad dewa bathara, Sinta seperti melihat perpaduan berbagai aura dari dalam diri Rahwana. Ada aura jahat, kebaikan, ketulusan, kebajikan, keculasan, muslihat, keserakahan, keikhlasan dan masih banyak lagi kesemuanya bercampur dalam diri Rahwana. Sinta terkesiap demi melihat ada seseorang yang mampu menanggung dan membawa berbagai macam aura dalam dirinya, namun tak terpengaruh sedikitpun oleh kesemuanya. Justru kesemua aura dari dalam diri Rahwana itu, menjadikan Rahwana sosok baru yang belum pernah ditemui oleh Sinta.

Selama ini ia hanya mendapati orang dengan maksimal dua aura kuat dalam diri mereka. Tetapi ini, hampir semua aura yang ada di alam semesta bercampur dalam satu tubuh tinggi besar nan gagah.

Drama itu tidak akan pernah terjadi, andai Sinta tidak memanggil Rahwana tepat sebelum kakinya melangkah setelah membalikkan badan memunggungi Sinta.

“Tunggu kisanak.” Suara Sinta terdengar memanggil.

Lima mata Rahwana yang berada dibagian belakang melihat tangan Sinta melambai kearahnya. Rahwana urung melangkah menjauh, dan memilih membalikkan badan.

“Ya?” Rahwana bertanya dengan acuh.

Wuuiiihhh sombong sekali, apakah aku tidak cantik? Sedangkan banyak dewi di swargaloka iri atas kecantikanku. Sinta bertanya pada dirinya sendiri demi mendapati reaksi Rahwana yang acuh menjawab panggilannya.

“Kiranya kau bisa menolongku, kisanak?” Sinta berkata lirih.

“Apa yang terjadi padamu?” Rahwana bertanya, dari jarak yang masih sama.

“Aku diculik, dan penculik itu mengurungku dalam mantra ini sehingga aku tidak bisa pergi kemana-mana.” Sinta terdengar memelas.

“Lantas, kemana penculikmu?” Rahwana bertanya.

“Mana kutahu?” Sinta menjawab sembari mengangkat bahu.

Rahwana melangkah mendekat.

“Mana ada raja menjadi penculik?” Rahwana terkekeh.

“Apa maksud kisanak?” Sinta heran.

“Tidak ada maling, garong, atau penculik yang mampu membuat rajah mantra seperti ini. Rajah mantra yang ada disekitarmu adalah rajah mantra dari raja yang sekaligus titisan wisnu. Apakah aku salah?” Rahwana bertanya dengan masih terkekeh.

Sinta terkejut dan terkesiap demi mendapati Rahwana mengetahui semuanya. Siapakah sosok tinggi besar didepannya ini. Bagaimana ia bisa tahu bahwa rajah yang melindungi dirinya adalah rajah seorang raja titisan dewa?

“Tak usah terkejut, aku dengan mudah bisa melepas rajah mantra itu. Tetapi sebelumnya, berikan alasan sejujurnya.” Rahwana berubah serius raut wajahnya, tak ada lagi kekeh tawa dalam suaranya.

“Suamiku itu, yang memasang rajah mantra ini, sungguh keterlaluan. Bagaimana ia tega meninggalkanku sendirian ditengah hutan hanya demi mengejar dan memburu seekor kijang? Apa aku hanya dianggapnya sebagai pelengkap saja dalam hidupnya?” Sinta juga berubah menjadi seirus dan tak ada lagi nada kebohongan dalam suaranya.

“Hmmmm, nanti kalau suamimu marah dan mengamuk?” Rahwana kembali terkekeh.

“Maka lekas saja kisanak melepaskanku, dan kita pergi.” Sinta memburu dengan kalimat memaksa.

“Lhadalah jagad dewa bathara, lelakon apa ini.” Rahwana terkekeh, kali ini hampir terpingkal tawanya.

“Itu disana ada seekor burung, bukankah itu Jatayu?” Rahwana bertanya kepada Sinta.

“Iya, itu burung pelindung suamiku.” kata Sinta.

“Berarti kamu istri dari Sri Rama? Jatayu hanya mengikuti titisan Wisnu, dan di siklus kehidupan ini, titisan Wisnu adalah Sri Rama.” Rahwana balas memburu.

“Iya, Sri Rama adalah suamiku.”

“Duh dek, bukannya aku takut pada suamimu. Sri Rama itu bisa aku kalahkan dengan hanya satu tangan saja, dan juga aku tidak takut dengan dewa-dewa pendukungnya. Tetapi, ini adalah masalah yang jauh lebih kompleks dari sekadar kamu tidak bahagia dan kecewa dengan suamimu, dan lantas memintaku untuk membawamu pergi.”

“Kisanak tidak mau menolongku?” Suara Sinta mulai meninggi.

“Selesaikan saja dulu di pengadilan agama, baru aku menolongmu.” Rahwana tertawa keras. Tawa kerasnya seketika merontokkan semua rajah mantra disekitar Sinta.

Demi melihat lepas dan tawar semua rajah mantra disekitar Sinta, Jatayu waspada. Rama berpesan padanya, jika lepas rajah mantra disekitar Sinta, maka wajib bagi Jatayu untuk melindungi Sinta. Maka kini Jatayu menganggap Rahwana adalah ancaman bagi Sinta. Segera ia menukik turun, menyiapkan paruh tajamnya yang kuat, yang bisa menghancurkan batuan gunung hanya dengan sekali patuk, untuk mengoyak tubuh Rahwana.

“Braaakkkkkk!!!!” suara keras terdengar, Jatayu mengelepar, mati.

Dalam kecepatan tinggi sembari menukik, Jatayu berpikir bahwa akan dengan mudah mengoyak tubuh Rahwana dengan paruhnya. Senyatanya, tubuh Rahwana tak bergeming ketika ia menabrak dan berusaha mengoyaknya. Yang ada, leher Jatayu patah, dan ia mati seketika.

Sebenarnya Rahwana dapat melihat dengan matanya ketika Jatayu menukik turun berusaha membunuhnya, tetapi ia memilih diam dan membiarkan Jatayu dengan niat membunuh menuju arahnya. Tak mempan kesaktian Jatayu pada raga Rahwana. Raja digdaya itu bergeming dari tempatnya berdiri. Kepala Jatayu hancur, lehernya amburadul.

Pada kemudian kabar yang tersiar, bahwa Rahwana membunuh Jatayu dengan cara menghancurkan kepala dan memuntir lehernya. Netizen budiman, sebenarnya Jatayu mati oleh tingkah polahnya sendiri.

Lepas rajah mantra disekitarnya, Sinta berjalan mendekat pada Rahwana.

*****

“Ini taman Argasoka. Kau boleh tinggal disini sesukamu.” kata Rahwana kepada Sinta.

Didepannya, Sinta melihat sebuah taman luas nan indah yang belum pernah dilihatnya.

“Aku undur diri dulu, akan kusuruh beberapa emban menemuimu.” Rahwana berlalu dari sisi Sinta.

*****

Sri Rama menyiapkan pasukan, bersiap menyerbu Alengka, tempat Rahwana berada dan Sinta juga ada didalamnya.

“Kurangajar juga Rahwana berani menculik istriku.” berkata dengan geram Rama kepada Hanuman.

“Langsung hajar saja dengan rudal S-300?” Hanuman menawarkan sebuah solusi.

“Nanti dulu, sepertinya itu ada utusan dari Rahwana menuju kesini.” Rama menatap pada kejauhan.

Sebuah sosok terlihat berjalan mendekat sendirian menuju kearah Rama dan ribuan pasukannya. Tak ada orang lain, hanya sendirian saja.

Ketika jarak mereka tinggal beberapa galah, sosok itu bertanya.

“Kaukah itu Sri Rama?”

“Iya, siapakah kau kisanak, berani sendirian menuju dihadapanku dan pasukanku?” Rama bertanya balik.

“Aku Rahwana.”

Terkesiap dan terdiam Rama, Hanuman dan seluruh pasukannya. Hening.

“Aku menawarkan perdamaian, tak perlu ada perang yang akan membunuh ribuan pasukanku atau pasukanmu.” Rahwana berkata dengan lugas, tidak keras, namun terdengar jelas.

“Apa maksudmu penculik?” Rama bertanya.

“Kini selain gelar Dasamuka, aku juga mendapat gelar penculik?” Rahwana bertanya.

“Jika tidak, lantas apa yang sudah kau perbuat?” Rama geram.

“Aku tidak perlu membela diriku atas semua persepsi yang sudah terbangun sedemikian rupa olehmu atau oleh media massa. Terserah saja, yang jelas Sinta akan kembali padamu.” Rahwana berkata dengan penuh kemantapan pada nada suaranya.

Tak berapa lama datang Indrajit mengendarai sebuah kereta kencana. Indrajit duduk di depan menjadi kusir untuk kereta kencana itu. Tepat berhenti diantara Rama dan Rahwana, sesosok perempuan turun dari kereta. Sinta turun dan berjalan pelan menuju Sri Rama.

“Kangmas, ayo pulang.” kata Sinta.

Rahwana dan Indrajit bergegas menjauh dari Rama dan juga Sinta.

*****

“Kangmas, Rahwana sama sekali tak pernah menyentuhku selama di Argasoka.” Sinta berkata lirih ketika mereka berdua sedang membicarakan tentang apa yang terjadi sebenarnya.

“Ini bukan hanya tentang kita, Sinta. Ini juga adalah tentang kehormatan negara. Kalau benar Rahwana tak menyentuhmu, maka api tidak akan membakarmu. Tetapi jika Rahwana pernah menyentuh bahkan jika hanya sehelai rambutmu, maka api akan mempertemukanmu dengan kematian.” Rama berkata pelan, dengan nada sedingin es.

Dialun-alun kotaraja, tumpukan kayu menggunung siap dibakar. Itu adalah kayu yang dipersiapkan oleh Rama untuk membuktikan kesucian Sinta, setelah sekian lama ‘diculik’ oleh Rahwana. Jika Sinta tetap hidup tanpa terbakar, maka memang benarlah bahwa Rahwana tak pernah menyentuh Sinta. Tetapi jika api membakarnya, maka Sinta telah berdusta.

Rakyat sudah menunggu, ribuan orang menyaksikannya, stasiun televisi dan penyiar Youtube menyiapkan live streaming untuk mengabarkan kejadian fenomenal dan monumental itu. Tumpukan kayu dibakar, api menjilat-jilat dan semakin membesar. Panasnya membuat kerumunan menjadi mundur karena mereka yang didepan tak tahan oleh panasnya api dari kayu menggunung yang dibakar itu.

Sinta melompat kedalam api.

*****

“Ya tentu saja dia tak akan terbakar.” kata Rahwana sembari melihat siaran langsung di televisi.

“Kok bisa?” Indrajit yang berada disebelah Rahwana melihat siaran langsung itu bertanya-tanya.

“Sebagian kesaktianku sudah meresap dalam tubuhnya.”

“Lhah, kalian sudah…”

“Hush, cah ngawur. Tentu saja aku tak pernah melakukannya dengan Sinta. Hanya saja jika kamu tahu Indrajit.”

“Apa?”

“Sinta jatuh cinta padaku.” kata Rahwana.

“Lhoh?” Indrajit heran.

“Begitu juga aku mencintainya, batin kami sudah terhubung dan terjalin berkelindan sedemikian rupa. Maka sebagian kesaktianku juga kemudian melindunginya. Api dari mantra Sri Rama itu takkan mampu membakarnya.”

“Ya tentu saja. Kan Sri Rama berkata kalau Sinta belum pernah disentuh Rahwana bahkan jika hanya sehelai rambut, maka Sinta tidak akan terbakar.” Indrajit terkekeh.

“Cah goblog. Ya tentu saja aku pernah mengusap rambut dan mengecup kening Sinta.” Rahwana menatap kosong pada televisi.

Di televisi terlihat Sinta keluar dari api yang masih berkobar, tanpa cacat dan terbakar bahkan jika itu adalah pakaiannya.

“Wueh, iya je, ra kobong!” Indrajit berseru.

Sri Rama menarik nafas lega, Rahwana meninggalkan Indrajit sendirian, dan Sinta menyunggingkan senyum simpul pada suaminya.

*****

“Kalau Sinta mencintai panjenengan dan kecewa dengan Sri Rama, kenapa tidak pergi ke pengadilan agama menyelesaikan semuanya dengan Sri Rama?” pegawai warung kopi didekat pantai tempat Rahwana duduk bertanya lirih dengan nada yang tak berharap jawabnya.

“Lhah, kamu sudah menikah?” Rahwana balik bertanya pada pegawai tersebut.

“Belum.”

“Punya pacar?”

“Belum.”

“Lantas bagaimana aku akan menjelaskannya jika kamu belum pernah terikat secara batin dengan perempuan?” Rahwana bertanya dengan terkekeh.

“Iya ya.” si pegawai ikut terkekeh.

“Sinta itu hanya ingin tetap bersandar dibahuku. Kadang telepon, kadang SMS, kadang WA, kadang ketemuan sebentar makan bareng, namun ia ingin tetap bersama Sri Rama.”

“Kenapa?” si pegawai heran.

“Ya tentu saja kerajaan dan pekerjaan serta penghasilan Sri Rama jauh lebih mentereng daripada kesemua itu yang ada padaku. Maka ia tetap memilih bersama Sri Rama meski tak bahagia, namun sekaligus ingin tetap berhubungan diam-diam denganku. Hidupnya secara duniawi jauh lebih terjamin daripada jika ia hidup denganku. Itu yang namanya bersandar tanpa melepaskan.” Rahwana tertawa keras.

“Tapi kan panjenengan lebih sakti?” si pegawai masih penasaran.

“Duh. di jaman ini, kesaktian itu gak penting. Kesaktian kalah sama harta dan jabatan. Yang lebih penting itu bisa punya rumah bagus pekarangan luas, syukur-syukur ga cuma satu. Bisa dibelikan mobil, perhiasan, dan tabungan banyak. Kalau cuma kesaktian, buat apa?” Rahwana terkekeh.

“Lhah, bedebah betul.” si pegawai bergumam.

“Siapa yang bedebah?” Rahwana bertanya.

“Ya Sinta to den, mosok njenengan.” si pegawai menjawab serius.

“Lha ya memang, bedebah betul.” Rahwana semakin keras tawanya. Tak terasa hapenya hancur karena tawa kerasnya.

*****

“Tetap centang satu.” Sinta bergumam sembari masih tetap memendam kegeraman.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

11 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *