Bertengkar Karena Beda Pilihan Pilpres, Masuk Akal?

Sampai esok bulan April [17/4/2019], kiranya takkan henti pergulatan dan perdebatan mengenai pilihan terbaik untuk menjadi pemimpin Indonesia. Bahkan, mungkin saja perdebatan dan juga perselisihan itu masih akan terus memanjang sampai sekian tahun berikutnya. Seperti halnya bangkai pemilu 2014 yang masih terbawa dan sengaja dibawa hingga saat ini.

Yang kemudian menjadi sedikit ironi, apakah rakyat atau masyarakat yang bertengkar itu tahu apa yang mereka pertengkarkan?

  • Apakah mereka benar-benar tahu mengenai baik-buruk pilihan mereka?
  • Apakah mereka benar-benar memahami peta politik nasional, regional, maupun global?
  • Sejauh mana mereka tahu tentang apa yang terjadi di antara elite politik?
  • Sejauh mana masyarakat tahu kondisi yang mereka perdebatkan, selain yang keluar dari media konvensional maupun media sosial?
  • Apakah masyarakat mempunyai kemampuan untuk sedikit saja ‘mengintip’ ruang diskusi dan negosiasi para elite politik di atas sana?

Benarkah Indonesia akan hancur seandainya Jokowi terpilih kembali menjadi presiden, dan sekaligus apakah Indonesia akan menjadi lebih baik andai Prabowo yang menjadi presiden selanjutnya?

Sebaliknya, apakah Indonesia akan berjaya ketika Jokowi akan terpilih untuk kedua kalinya, sekaligus apakah Indonesia akan bubar pada 2030 ketika Prabowo menjadi presidennya?

Sampai saat ini, harus dengan alasan dan penjelasan bagaimana agar pilihan yang saya lakukan bisa berdasarkan nalar serta akal sehat?

Apakah saya harus memilih Jokowi?
Apakah saya harus memilih Prabowo?
Ataukah saya tak harus memilih keduanya?

Melihat kecenderungan kebijakan yang sudah dilakukan Jokowi, pada beberapa sisi membuat saya tak akan memilihnya. Saya benar-benar tak habis pikir kenapa Jokowi ‘merintis’ jalan untuk mengembalikan Dwifungsi ABRI. Bagi anda yang merindukan jaman Soeharto tetapi saat ini sedang merapat dan mengagumi Prabowo, anda salah tempat untuk merapat.

Melihat kecenderungan politik Prabowo yang teramat sangat pragmatis, membuat saya juga tak akan memilihnya. Saya tak ingin berada satu barisan dengan orang-orang semacam FZ, FH, BBS yang memukuli anak-anak itu, apalagi habib yang lari ke Arab Saudi dan juga Nur Sugik yang gemar menambah jumlah ayat surat dalam Al Qur’an.

Pada keduanya dan juga pendukung-pendukung fanatiknya saya tak menemukan alasan untuk memilih.

Bagi anda yang berteriak-teriak membela agama Islam secara kaffah dengan turun ke jalan-jalan dan lapangan untuk berorasi berapi-api, dan kemudian melabuhkan dukungan kepada Prabowo, apakah anda yakin kalau beliau terpilih akan benar-benar mengakomodir kepentingan umat seperti yang anda yakini?
Anda menuduh sana sini kalau pihak seberang melakukan kefasikan serta dzalim terhadap Islam, sementara anda menutup mata dan tidak mengakui bahwa tidak tahu secara persis mengenai idola pilihan anda. Apakah beliau akan benar-benar mengakomodir kepentingan umat Islam, ataukah kerjasama manis ini hanya akan berakhir selepas perhitungan elektoral?

Anda berteriak menolak Amerika Serikat dan China. Sedangkan FZ adalah teman karib Donald Trump, dan Prabowo mengatakan secara gamblang akan meningkatkan kerjasama dengan China.
Anda masih menutup mata?

Bagi anda pendukung Jokowi, sampai saat ini apakah anda menutup mata bahwa Jokowi membawa negara ini dalam kemunduran yang cukup signifikan? Rencana Panglima TNI yang akan menempatkan perwira-perwira aktif di dalam tubuh lembaga dan kementerian sipil, sama saja dengan akan membawa negara ini dalam masa orde sebelum reformasi. Tidak akan menutup kemungkinan bahwa kelak tentara akan kembali duduk di perlemen.
Masihkah anda juga menutup mata?

Lantas, apa yang masih akan tersisa di antara kita? Di antara rakyat dan masyarakat yang saat ini saling beradu otot mempertahankan argumentasi serta kebenaran subyektifnya masing-masing. Apa yang kelak akan tersisa dan kita dapatkan?

Sementara saat ini kita di tingkat akar rumput bertengkar, kita tak tahu persis para elite itu sedang membicarakan apa.

Tak ada alat intelijen yang mumpuni, yang kita punya untuk bisa tahu kebenaran hakiki perihal kenyataan kondisi perpolitikan Indonesia.
Jujur saja, kita hanya tahu dari berita-berita di media massa, yang sayangnya itu hanya berita permukaan dan artifisial.

Kita tahu si A mengatakan apa atau bagaimana, si B berkata seperti apa, hanya dari media massa. Kita tak pernah tahu sebab dan alasan yang melatarbelakangi mereka berkata demikian di hadapan pers dan media massa. Dan kita dengan polosnya menangkap hal itu sebagai kenyataan, kasunyatan serta kebenaran.

Padahal sekali lagi, kita sama sekali tidak tahu apa yang dilakukan mereka pada tingkat atas.

Jangan-jangan, mereka terlihat bertengkar, hanya agar supaya kita juga bertengkar, dan dengan itu lantas mereka akan mampu menangguk keuntungan.
Siapa tahu setelah ‘terlihat’ bertengkar di media massa, mereka kemudian minum teh dan ngopi bersama sembari tertawa-tawa.

Alih-alih melakukan kontrol agar para elite tidak kebablasan, agar mereka tetap pada jalurnya untuk sadar bahwa kita adalah ketua dan mereka wakilnya, energi kita malah habis untuk saling bertengkar.

Secara gamblang sebenarnya dapat kita lihat bahwa mereka yang bertarung di tingkat elite itu, adalah kubu dan orang-orang yang sama semenjak tahun 1999. Hanya saja dalam tiap-tiap gelaran pemilu, mereka bertukar tempat serta posisi. Kini terlihat kawan, esok terlihat seperti lawan. Dan tak ada rasa sungkan di antara mereka ketika dulu terlihat baku hantam, dan kini berangkulan.

Apakah anda tidak merasa aneh dan geli dengan hal itu?
Untuk kemudian sedikit saja berpikir bahwa selama ini kita hanya menjadi obyek permainan dan bagian kecil sekadar menggenapi potongan puzzle bernama demokrasi dan pemilu.

Dari pemilu ke pemilu, rakyat tak pernah menangguk keuntungan secara signifikan. Harga-harga juga masih seperti itu juga, utang luar negeri masih begitu juga, dan undang-undang yang disahkan oleh para wakil itu juga sama sekali tak pernah berpihak secara nyata kepada kita.

Sampai disini, kenapa terus bertengkar?
Sebenarnya, anda mendapatkan apa atau dijanjikan keadaan yang bagaimana secara personal maupun komunal dalam golongan?

Atau jangan-jangan anda juga hanya ikut-ikutan dan agar supaya nampak gagah di depan orang lain yang berseberangan?

Siapa tahu kondisi kita yang terus menerus bertengkar, adalah keadaan yang memang diharapkan oleh segelintir pihak, agar kita lupa terhadap kepentingan dan kebutuhan nasional. Bahwa ada hal-hal yang jauh lebih penting harus dipikirkan serta masalah-masalah harus diselesaikan secara gotong royong dan bersama-sama. Dan kondisi yang gaduh demikian ini memang disengaja agar kita, rakyat kecil ini, lupa.

Lupa bahwa negara ini membutuhkan rakyatnya, bahwa sebenarnya kita ini rakyat yang mandiri, dan bahwa siapapun pemimpin serta elite politiknya, tak terlalu berpengaruh terhadap hidup kita.

Kegaduhan yang timbul, serta tampilnya elite-elite seolah sebagai pahlawan, apakah tak menutup kemungkinan sekadar sebagai kedok agar seolah mereka penting bagi kita?
Bahwa tanpa mereka kita ini akan menjadi tak berdaya?

Padahal, tanpa mereka kita ini akan tetap bisa hidup, dan bahagia.
Dengan syarat, tanpa ada lagi pertengkaran dan perselisihan tak perlu di antara kita.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

10 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *