Blandong Kayu

Jarum panjang jam masih belum beranjak banyak dari bilangan dua belas, sedang jarum pendeknya, terlihat betah di angka tujuh. Udara sedikit lembab, khas bulan Februari di pagi hari.

Cerah, matahari menelisipkan tipis sinar dari balik daun pepohonan. Beberapa helai sinarnya jatuh pada atap rumah, juga jalanan. Namun hampir seperti tak ada embun, baik pada pohon yang tinggi menjulang, atau pada rerumputan.

Tetapi embun tergantikan, dan sedikit teralihkan oleh percakapan-percakapan. Percakapan ringan dan segar di hari yang masih pagi. Percakapan yang berisi kejadian malam tadi, percakapan yang terkadang memantik tawa, namun terbalut ironi.

Minggu yang menyenangkan.

Sebentuk suara sepeda motor memecah percakapan. Sebuah sepeda motor bebek berwarna merah melaju, pelan, dari arah timur, pada jalan perumahan yang lengang. Dua orang terlihat berboncengan. Satu orang yang memakai kaus kuning, memegang stang kemudi. Satu orang memakai kaus biru membonceng di belakang. Pada pundaknya terlihat segulung tali berukuran besar, dalam volume yang juga besar. Sebuah mesin gergaji kayu tergenggam erat pada tangannya, dan baru jelas terlihat setelah semakin mendekat.

Untung dan Parimin. Dua orang blandong kayu yang pagi itu mempunyai sebuah kontrak kerja.
Kontrak kerja untuk memangkas beberapa cabang dan ranting pohon dari kebun, yang sudah menjulur hampir mencapai rumah-rumah yang tepat berhadapan. Hanya berselang jalan selebar empat meter. Andai ada angin besar, dan patah cabang pohon-pohon itu, pasti lah kena pada atap-atap rumah. Sedang angin di tempat itu, beberapa kali dalam seminggu bertiup hampir serupa dengan kencangnya angin di tepi pantai.

Untung dan Parimin di sambut jabat tangan dan sapaan dari beberapa orang yang sebelumnya mengisi pagi di tempat itu. Alat-alat diletakkan. Tali tambang berukuran besar, dalam gulungan. Satu buah mesin gergaji kayu berukuran sedang, gergaji tangan manual, kapak genggam, sebotol oli, dan satu jerigen bahan bakar.

Beberapa batang rokok dibakar untuk menemani percakapan, dan mengulang detail kerja yang harus blandong kayu itu lakukan.

“Memang sudah ada pembicaraan dan persetujuan dengan pemilik kebun dan pohon kan?” Untung, yang juga mempunyai nama alias Gendhong, bertanya sekali lagi. Beberapa hari sebelumnya ia sudah bertanya, ketika melakukan survei pendahuluan ketika menyanggupi pekerjaan.

“Sudah.” Salah satu dari tiga orang yang terlibat obrolan sedari pagi, menjawab.

Sekali lagi pohon-pohon dilihat dengan cermat, oleh Untung maupun Parimin. Mereka-reka apa yang harus dilakukan untuk menurunkan beberapa cabang berukuran besar. Berdiameter sepuluh sampai dua puluh lima sentimeter. Mereka harus berhati-hati, jangan sampai jatuhnya cabang pohon itu, mengenai rumah-rumah.

“Dimulai dari yang sebelah sana saja.” Untung berkata pada Parimin, asistennya, sembari menunjuk dan melangkah ke arah timur. Tempat sebuah pohon trembesi [munggur] yang tajuknya sudah sedemikian lebar sampai di atas salah satu rumah.

“Bawa tali.” teriaknya melanjutkan.

Parimin mengambil tali tambang berukuran besar dalam gulungan yang juga besar, menyampirkannya di pundak, sembari kedua tangannya membawa gergaja manual dan kapak genggam.

“Ada tangga?” Untung berkata kepada pemberi kontrak kerja.

“Ada.”

Dan tangga bambu dengan panjang sekira enam meter segera berpindah tempat, kini tangga bambu itu sudah bersandar di salah satu pohon trembesi.

Untung mengisap dalam rokoknya, mengikatkan salah satu ujung tali tambang pada pinggangnya, dan segera menaiki anak tangga satu per satu. Sampai di ujung anak tangga, tangan dan kakinya dengan lincah segera membawa badannya berpindah tempat, pada batang pohon. Kini sepenuhnya ia sudah berada di atas pohon. Dan tanpa keraguan segera terus memanjat, menuju cabang pohon yang akan ia adu dengan kapaknya.

Sejenak ia duduk pada cabang pohon, mengisap rokok dan kemudian membuang puntungnya, terakhir ia melepas ikatan tali tambang dari pinggangnya, dan mengikatnya pada cabang pohon. Sebelum mengikatnya, ia melewatkan ujung tali pada sebuah cabang lain yang tak berjauhan. Sebuah teori fisika sederhana, agar cabang pohon yang nanti akan di pangkas, tidak jatuh secara liar ke bawah.

Selesai mengikat, Untung memberi aba-aba pada Parimin yang sudah siap sedia melakukan apapun yang di perlukan, di bawah. Segera tali sepanjang lebih dari tiga puluh meter itu di ulur, dan ditarik kencang untuk menjaga jatuhnya cabang pohon yang akan di potong.

Untung sigap mengayunkan kapak. Suara kapak yang beradu dengan cabang pohon terjadi beberapa kali.

Plethaakkkkkk…..

Cabang pohon berdiameter sekira lima belas senti dengan tajuk yang melebar itu terlihat mulai berayun, lepas dari batang utamanya.

Parimin, dan beberapa orang di bawah cukup kewalahan menahan jatuhnya cabang pohon yang berukuran cukup besar itu, sembari tangan erat memegang tali. Tak lama, satu cabang pohon sudah rebah menemui bumi.

Untung dan Parimin adalah blandong profesional. Terlihat dari kecakapan mereka memanjat pohon, memperlakukan pohon, dan kecermatan menghitung jatuhnya cabang pohon agar tak mengenai rumah atau merusak sesuatu yang berada di bawahnya. Dalam keseharian, pekerjaan mereka memang blandong, penebang pohon, tetapi ikut pada seorang bos, seorang juragan.

Tanda profesionalitas mereka terlihat dalam tak adanya kerguan memanjat pucuk-pucuk pohon yang tinggi, dan juga kecakapan dalam penggunaan alat.

Pada beberapa pohon dengan cabang yang cukup besar, bahkan Untung menggunakan gergaji mesin.

“Senso ne.” katanya berteriak pada Parimin, suatu waktu ketika ia sudah sekian puluh meter berada di atas pohon, di atas tanah.

Parimin dengan sigap mengikat senso [gergaji mesin] pada salah satu ujung tali, dan menarik ujung lainnya. Sebelumnya, Untung sudah membuat semacam rekayasa timba untuk menarik alat yang cukup berat itu, dengan tali yang menjulur melewati cabang pohon di dekatnya.

Untung dengan sigap menghidupkan mesin, dan tanpa sedikit pun ragu mulai memotong satu cabang batang berukuran besar. Sama sekali tak terlihat ia kesulitan. Meski pada satu sisi harus mengoperasikan mesin yang cukup berat, dan kedua kakinya erat memeluk pohon.

Untung, aka Gendhong

Mungkin karena memang sudah dalam keseharian menjadi pekerjaan dan kebiasaannya, atau karena memang Untung sudah kelewat terampil dalam hal panjat memanjat dan memotong atau menebang pohon.

Baik Untung maupun Parimin, hampir terlihat seperti mesin. Tenaga mereka tak ada habisnya. Tangan kanan dan kiri mereka sama terampil dan kuatnya. Berpindah dari satu pohon ke pohon lain, memotong dengan kapak, gergaji manual maupun mesin, dan membuat perhitungan-perhitungan matang agar cabang-cabang berukuran besar itu tidak merusak apapun di bawahnya secara masif.

Selepas Untung memotong satu atau dua cabang pohon berukuran besar, Parimin dengan sigap mencacah cabang pohon yang sudah rebah ke bumi itu dengan gergaji mesin. Agar lebih mudah untuk nanti diangkut dibereskan.

Parimin

Kerjasama yang sudah sedemikian baik terbangun antara dua pekerja.

Belasan pohon terkena tajamnya gergaji dan kapak dari Untung dan Parimin, pada cabang-cabang yang menjulur pada area rumah-rumah. Semata, agar tak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dari tajuk yang melebar itu ketika angin kencang melanda.

Trembesi, cabang-cabangnya terkenal kurang kokoh dan mudah patah terkena angin kencang.

Beberapa pohon mahoni juga terkena pemangkasan. Lebih karena batangnya yang tumbuh tidak vertikal, dan cenderung condong ke satu sisi.

Tak ada kesulitan yang berarti bagi Untung dan Parimin. Sepertinya, semua pohon itu memang mau dan bersedia diajak bekerjasama. Mungkin pohon-pohon itu juga tahu dan mengerti, beberapa cabangnya berpotensi membahayakan beberapa manusia.

Kesulitan terbesar yang ada adalah, berapa upah yang pantas untuk menghargai hasil kerja dan profesionalitas blandong kayu seperti Untung dan Parimin, yang dalam laku pekerjaannya menggantungkan separuh nyawa juga kesehatannya pada ranting-ranting dan cabang pohon di ketinggian. Tentu mereka buruh kerja yang tak membawa asuransi di dalam kapak atau gergajinya, dan juga bukan pekerja yang mempunyai daya kuasa untuk melakukan demonstrasi meminta kenaikan gaji.

Sederhana saja permintaan mereka :

“Njaluk rokok e mas, rokok ku entek je.”

Profesionalitas tanpa batas
Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

84 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.