Boy’s Don’t Cry

Anak laki-laki jangan menangis.

Begitu setidaknya arti kata dalam Bahasa Inggris yang saya jadikan judul di atas. Saya mengartikannya dengan terbata-bata, bermodal sebuah kamus Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia, sewaktu SMP. Saya tahu kalimat itu dari sebuah novel, Lupus. Yang diberikan oleh kakak sepupu saya, Mas Nanang. Mas Nanang adalah juga orang yang mengenalkan lagu-lagu Nike Ardila.
Dengan memberikan beberapa kaset pita, setelah saya sunatan.

Setelah tahu artinya, juga sedikit maksudnya, saya tuliskan kalimat itu pada kaca lemari di kamar saya. Seperti yang bisa anda lihat pada gambar yang saya sertakan. Tulisan itu sudah berusia 20 tahun. Saya tuliskan ketika kelas 1 SMP, tahun 1999.

Waktu itu, begitu banyak hal yang ingin membuat saya menangis. Salah satunya adalah karena sewaktu penerimaan rapor hasil belajar catur wulan pertama, nilai saya sangat buruk. Sungguh-sungguh buruk. Saya menempati ranking 20, dari 40 siswa dalam satu kelas. Angka-angka yang menjadi nilai saya juga sungguh ‘menakjubkan’. Hampir kesemuanya adalah angka enam, beberapa angka tujuh, tanpa angka delapan apalagi sembilan.

Saya kecewa. Tentu karena ketika duduk di bangku SD, nilai saya selalu bagus, dan saya hampir selalu duduk pada ranking 1 di dalam kelas. Maka ketika mendapati nilai yang demikian buruk pada ujian pertama di bangku SMP, saya shock. Selain itu, karena tentu saja mengecewakan kedua orangtua saya.

Nilai yang buruk itu hanyalah satu hal atau kejadian yang ingin membuat saya menangis. Banyak hal lain, dan akan saya tuliskan lain waktu.

Tetapi, benarkah anak laki-laki [harusnya] jangan menangis?

Menurut saya, tergantung.
Pada sebab musabab, juga waktu dan tempat.

Menangis adalah kodrat paling dasar dari manusia, ketika terlahir ke dunia. Tak ada nada dan kata yang keluar dari mulut manusia ketika pertama kali terlahir ke dunia, selain tangisan.

Mungkin manusia menyesal kenapa dilahirkan ke dunia, maka ia menangis.
Atau mungkin manusia bersyukur karena diberi kesempatan terlahir ke dunia, maka ia menangis.

Tak ada yang benar-benar jelas, kecuali tangisan itu sendiri.

Lantas, apa dan bagaimana seorang laki-laki harus atau tidak menangis?

Anak laki-laki jangan menangisi masa lalu, juga jangan menangisi masa depan.
Saya kira, itu yang terpenting.

  • Masa lalu adalah ruang-ruang pembelajaran untuk lebih yakin dan tak ragu terus berjalan, bukan ruang untuk tangisan.
  • Sedang masa depan adalah ruang untuk mengasah keyakinan, agar tak mudah patah menjalani kehidupan.

Laki-laki tetap menangis, pada saatnya harus menangis, bukan untuk penyesalan masa lalu, atau kekhawatiran perihal masa depan.

Tetapi perihal judul, boy’s don’t cry, adalah tentang alarm pengingat, penanda. Bahwa laki-laki tidak boleh gampang menangis. Setidaknya begitu. Selalu ada ruang perdebatan dan dialektis mengenai hal ini. Tetapi, tentu bukan tanpa alasan kenapa diciptakan dua jenis kelamin berbeda, pada manusia.

Ada semacam ‘gengsi’ yang tersemat dalam gen dan kromosom laki-laki. Gengsi untuk tak sembarang dan gampang menumpahkan air mata. Untuk tak gampang menangis untuk hal-hal remeh temeh, apalagi di depan banyak orang.

Tangis laki-laki tersimpan jauh di dalam palung hatinya. Tersembunyi di celah-celah logika dan pikiran. Selalu ada pertanyaan untuk setiap mendung di pelupuk mata, kenapa harus ditumpahkan?

Dan tak setiap pertanyaan menemukan jawabannya. Maka tak selalu pula mendung di pelupuk mata, harus leleh oleh hujan.

Bukan lantas saya berkata bahwa setiap laki-laki harus kuat ‘menahan’ keinginan untuk tangisan pada tiap-tiap kejadian yang selayaknya mendapatkan. Tetapi ini adalah tentang memilah dan memilih. Tentang kelayakan suatu tangisan hadir dalam kehidupan. Tentang deras air mata yang sekali tumpah, berarti juga dengan suatu maksud serta alasan.

Tak boleh ada air mata yang tertumpah sia-sia, dari tiap-tiap pelupuk mata.

Bahwa laki-laki harus memilah dan memilih, semata agar ia tak mudah roboh dan goyah oleh kejadian-kejadian yang sebenarnya mampu diatasi oleh pikirannya, dan tak tentu harus dengan air mata.

  • Bahkan, jika sesakit apapun.
  • Bahkan, jika tulang rusuknya patah dan mencuat keluar dari tempatnya.
  • Bahkan, jika kakinya tak lagi kuat menopang dan menyangga idealisme serta keyakinannya.
  • Bahkan, jika tangannya tak lagi kuat mengepal untuk membela harga diri dan sesuatu yang diyakini olehnya tersemat kebenaran.

Bahkan…tak layak laki-laki menangisi dirinya sendiri.

Jika harus pergi, maka itu lebih baik bagi laki-laki, daripada meratap dan menangis. Selalu ada ruang untuk menepi, selalu ada jalan yang bisa dilalui, selalu ada pilihan yang bisa diambil, lebih daripada memilih menundukkan kepala dan menitikkan air mata.

Boy’s don’t cry bukan kalimat untuk meneguhkan egoisme atau mengkultuskan kekuatan. Tak ada manusia yang benar-benar egois, atau benar-benar kuat. Yang ada adalah manusia yang kurang jeli mengulurkan tangan untuk membuat pilihan.

Dan pilihan itu, terkadang menjadi pemicu perihal rentan atau tidaknya terhadap tangisan, terutama pada laki-laki.

Jika pun diperbolehkan, takkan pernah ada laki-laki yang ingin menangis. Bahkan jika itu untuk kebahagiaan, dan apalagi kesedihan.

Anak laki-laki jangan menangis.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

14 Comments

  1. Ping-balik: Google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.