Brigata Curva Sud, Tuntutan dan Loyalitas

Brigata Curva Sud yang tertulis dalam judul di atas, selanjutnya kita singkat saja menjadi BCS. Wadah suporter PSS Sleman, yang identik dengan seragam berwarna hitam, dan juga koreografi menawan. Konon, penonton yang menyaksikan pertandingan PSS dan kebetulan ikut duduk di tribun Sud [selatan], tempat BCS biasa menempatkan diri, tidak diperbolehkan duduk selama pertandingan. Konon juga, yang ikut berada di sana harus bersepatu. Tidak boleh hanya bersandal, apalagi nyeker tanpa alas kaki.

Semua mengenai BCS hanya saya dengar dari mulut ke mulut, tulisan berita, dan juga cuplikan video. Maka kemudian bagi saya, lebih serupa konon.

Dulu ketika masih sering melihat pertandingan PSS, BCS belum ada. Embrionya mungkin sudah ada, tetapi belum terbentuk. Ketika sudah pindah homebase ke Stadion Maguwoharjo, yang meriah masih juga tribun nord [utara] yang berisi Slemania.

Di utara dulu, tak harus berdiri. Dua atau tiga kali saya lupa, pernah ikut menonton di sana. Tetapi lebih asyik menikmati kacang rebus, tahu pong, dan juga arem-arem.

Entah sebab persisnya, tahun-tahun setelah itu saya tak tertarik lagi mengunjungi stadion untuk menonton sepakbola. Maka saya juga tak menyaksikan kelahiran BCS di tribun selatan, atau juga melihat tumbuh kembangnya.

Dari konon yang seringkali mampir di telinga, BCS ini begitu loyal pada tim yang didukungnya, pada PSS Sleman. Mereka selalu membeli tiket, dan sekaligus haram menyaksikan pertandingan tanpa memiliki tiket. Konon mereka juga seringkali menggalang dukungan dana, untuk diberikan pada manajemen PSS Sleman, demi agar tim kesayangannya menjadi yang terbaik. Loyalitas tanpa batas.

Jika PSS bermain, dan BCS hadir di stadion, maka bisa dipastikan yel-yel dan chant-chant akan terus diteriakkan, sepanjang pertandingan. Terlepas apakah tim yang didukungnya bermain bagus, atau tampil buruk, BCS akan terus menggelorakan dukungan. Bahkan ketika beberapa waktu yang lalu PSS tersandung masalah ‘sepakbola gajah’, suporter dan BCS tetap memberikan dukungan pada beberapa laga persahabatan. Laga persahabatan di gelar, karena PSS tak bisa menggelar pertandingan resmi, oleh sebab diberikannya sangsi.

Laga persahabatan itu di gelar, juga dengan alasan, penggalangan dana. Dan BCS secara sadar, datang menyaksikan pertandingan persahabatan itu, membeli tiket, dan memberikan dukungan dari pinggir lapangan. Konon, atmosfer di dalam stadion tak ubahnya pertandingan resmi. Ada semangat dan gelora harapan dari chant mereka, layaknya pertandingan untuk mengejar gelar juara. Kredit memang pantas diberikan kepada BCS, atas loyalitas mereka yang seakan tanpa batas.

Kok seakan? Ada yang kurang?

Memang seakan, tapi tak ada yang kurang, selain perlu disematkan secuil catatan.

Perihal loyalitas yang seakan tanpa batas itu.
Tak ada satu pun hal di dunia ini yang loyal tanpa batas, tanpa syarat, kecuali pahit terhadap kopi, dan atau juga asin yang bersetia dengan garam.

Pasangan menikah saja terkadang loyalnya tergantung isi rekening, kok apalagi pasangan pacaran, kok apalagi suporter sepakbola.

Tetapi serius, perihal BCS ini yang perlu diberi catatan adalah manajemen PSS Sleman, bukan BCS-nya.

Begini, dengan dukungan dan sokongan baik moril ataupun materiil yang sudah diberikan sampai sedemikian rupa, rasa-rasanya tak ada yang salah dengan tuntutan BCS agar manajemen bergerak lebih dinamis serta modern.

Tuntutan untuk membuat akademi sepakbola itu, bagi saya kok rasanya teramat istimewa. Pertama, ia muncul dari sebuah wadah suporter sepakbola yang lekat dengan kekerasan dan hanya bisa berteriak-teriak saja. Kedua, ini di Indonesia. Yang bahkan pengurus federasinya saja tak pernah mempunyai ide cemerlang pembinaan usia muda, sebelum Indra Sjafri datang bersama Evan Dimas dan kawan-kawannya.

Lha kok tiba-tiba ada kelompok suporter menuntut manajemen klub kesayangannya, untuk membuat sebuah akademi. Bagi saya pribadi, ini luar biasa. Tuntutan untuk membuat akademi dan pembinaan pemain usia muda.

Dengan akademi dan pembinaan pemain usia muda, akan mengurangi biaya untuk transfer pemain. Itu kalau dari segi ekonomi. Menghemat anggaran klub untuk melakukan transfer dan negosiasi pemain.
Selain itu, tentu menjadi sebuah kebanggan tersendiri bagi klub atau juga suporter, ketika pemain-pemain andalannya adalah pemain dari akademi sendiri. Pemain yang mendapat didikan mentalitas Elang Jawa semenjak muda. Betul? Po salah?

Tuntutan kedua yang menurut saya layak untuk segera dipenuhi, adalah pembentukan divisi khusus marketing dan bussines development. Lagi-lagi ini ide brilian dari BCS. Dengan memaksimalkan peran marketing dan lini bisnis, maka PSS akan bisa sedikit demi sedikit lepas dari ketergantungan anggaran pemerintah daerah [APBD]. Klub akan menjadi lebih sehat tentu saja. Sehat lahir batin.

Sehat lahir ditengarai dengan ketersediaan dana untuk membayar pemain dan mengarungi kompetisi, misalnya.
Sehat batin ditengarai dengan lepasnya PSS Sleman dari kepentingan-kepentingan di luar sepakbola dan prestasinya. Pengaturan skor mungkin.

Dengan semakin mandirinya PSS Sleman pada sisi ekonomi dan finansial, maka semakin naik pula harkat dan martabatnya di mata stakeholder persebakbolaan Indonesia. Membentuk lini bisnis tak membutuhkan banyak biaya. Lebih banyak membutuhkan kreatifitas. Rekrut saja anak-anak BCS yang luber-luber kreatifitasnya itu untuk duduk mengurus lini bisnis PSS. Selesai perkara.

Ada delapan tuntutan yang harus dipenuhi oleh manajemen PSS Sleman, dengan ancaman berupa pemboikotan seluruh laga PSS pada waktu-waktu ke depan jika tuntutan tak dipenuhi. Boikot berupa kesepian laga kandang maupun tandang yang takkan dihadiri oleh BCS.

Seharusnya ini ancaman yang layak mendapat perhatian oleh manajemen. Dengan diboikotnya PSS Sleman oleh BCS, mereka keok di kandang oleh Madura United. Skor 0-2 untuk tim tamu. Padahal, biasanya PSS bermain trengginas dan menggila di kandang mereka sendiri. Tidak hadirnya BCS juga tentu kerugian yang besar dari sisi finansial, tiket yang paling kentara.

Katanya loyal? Kok pakai acara boikot-boikotan?

Yaaa karena tuntutannya masuk akal. Dan BCS berhak mengajukan tuntutan serta melakukan pemboikotan apabila tuntutan mereka tidak dipenuhi. Mereka selama ini menjadi gardan utama kehidupan PSS Sleman, dari mulai Liga 2 sampai promosi ke Liga 1. Stadion tak pernah sepi. Yang berarti juga ada banyak gelontoran uang serta terlebih guyuran semangat bagi para pemain.

Dari delapan tuntutan itu sebenarnya, segera realisasikan yang dua saya sebutkan. Yang enam segera dibuat draf perencanaan matang, eksekusi. Selesai perkara.

Mudah saja sebenarnya, tak ada yang sulit jika memang mau memenuhinya.

Daripada tak segera dipenuhi, dan BCS meneruskan boikotnya sampai batas waktu yang belum ditentukan?
Mampus kan?
Tidak ada pemasukan, tim juga jadi kalahan.

Yang dua itu, membuat akademi dan lini bisnis, sangat-sangat mudah. Banyak SSB berkualitas di Sleman, integrasikan. Lapangan juga banyak tersedia. Jangan muluk-muluk terlebih dahulu mengenai fasilitas akademi. Yang penting adalah mengenai substansi akademi itu, tujuan dan harapan jangka panjangnya.

Perihal bisnis, segera juga realisasikan. Agar tak terlalu lama dan banyak menyusu pada APBD. Tak ada klub hebat di dunia, yang hidup dari dana pemerintah daerahnya.

Apa yang dilakukan oleh BCS bisa menjadi pemantik akan terjadinya perubahan kultur sosial sepakbola Indonesia, pada mekanisme pelaksanaan dan pengelolaan klub. Berubah dari pasif, menjadi aktif. Dari stagnan, menjadi progresif. Semua dalam bingkai arti yang positif.

Dari pasif menunggu kucuran dana, menjadi aktif mencari dana. Dari lini bisnis dan usaha yang dikelola.

Dari stagnan memahami sepakbola hanyalah dua gawang dan sebelas pemain, menjadi lebih progresif bergerak memahami bahwa sepakbola berkembang dengan sangat pesat bukan hanya pada perkara pertandingan. Bukan lagi hanya perkara 2×45 menit di lapangan. Tetapi lebih luas dan komplek daripada itu.

Semoga apa yang dilakukan oleh BCS tidak sia-sia. Terutama agar saya mempunyai gairah lagi untuk memasuki stadion, dan menikmati tahu pong sembari melihat pertandingannya.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

16 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.