Bukan Kebetulan

Saya masih bisa mengingat dengan jelas apa yang saya lakukan pertama kali dengan komputer baru dikamar, tujuh belas tahun yang lalu. Komputer yang dibelikan oleh Mamak dan Bapak, sebagai semacam pra sarana penunjang karena saya diterima kuliah di Universitas Gadjah Mada [UGM]. Apa yang saya lakukan adalah : instalasi game sebanyak mungkin!

Bukannya menggunakan komputer tersebut untuk ‘belajar’, paling tidak belajar mengetik dan lain sebagainya untuk menunjang proses kuliah, saya malah menggunakannya untuk nge-game sesering mungkin. Komputer rakitan dengan harga tidak murah tersebut, lebih banyak saya gunakan untuk menyuntuki game Championship Manager, Call Of Duty, World War III, dan tentu saja, Solitaire.

Alih-alih belajar bagaimana menggunakan Microsoft Word secara optimal, saya lebih sering bongkar pasang instalasi game. Jangan tertawa, saya hanya tahu MS Word. Saya belum tahu tentang Excel, apalagi Power Point. Saya tidak tahu untuk apa komputer dikamar saya selain untuk nge-game, mengetik, memutar film dari VCD yang saya sewa disebuah rental di Jalan Kaliurang, dan tentu saja memutar musik di Winamp. Winamp??? Sudah setua itukah saya????

Sampai ketika akhirnya saya keluar dari UGM karena lebih memilih mengabdi pada Departemen Agama, tetap saja komputer menjadi barang yang menyenangkan untuk bermain dan memutar musik, tak lebih.

Suatu saat, seorang teman guru meminta tolong kepada saya untuk membuatkan sebuah surat. Surat pengumuman yang ditujukan untuk wali murid. Sebuah surat dengan format dan isi yang sangat sederhana, tetapi seketika membuat otak saya menjadi rumit. Bagaimana caranya membuat huruf terketik mulai dari tengah halaman? Bagaimana menyisipkan gambar logo Departemen Agama dipojok atas? Bagaimana membuat beberapa bagian huruf, kata, atau kalimat menjadi lebih tebal daripada yang lainnya?

Tetapi sebagai seorang gamer amatiran yang terbiasa menghadapi situasi sulit dalam sebuah level permainan [halah], saya memutar otak untuk berkilah agar teman saya itu tidak lekas meminta hasil cetakan surat. Saya sanggupi untuk memberikannya esok pagi, dilain hari. Sepulang dari kantor hari itu, saya tak langsung menuju rumah. Saya menuju toko buku Gramedia, dan membeli sebuah buku tentang Microsoft Office. Dari Gramedia, saya menuju sebuah jasa pengetikan dan meminta untuk dibuatkan surat tersebut, bwahahaha. Parah kan?

Mendadak saya merasa insecure ketika sadar bahwa ternyata tidak bisa menggunakan komputer dengan sebagaimana mestinya. Untung saja saat itu masih banyak tersedia jasa pengetikan, terimakasih Tuhan.

Selama satu tahun mempunyai komputer dikamar, apa yang banyak saya lakukan adalah memutar musik, nge-game, menonton film, dan bongkar pasang aplikasi game. Tak lebih. Jadi sama sekali saya tidak bisa mengetik, bahkan jika itu hanyalah sebuah surat sederhana. Goblog banget sih…

Momentum saya keluar dari situasi insecure itu adalah ketika salah seorang teman saya dibagian tata usaha meminta tolong untuk memasang sebuah aplikasi keuangan. Rupa-rupanya, memasang aplikasi semacam itu masih menjadi hal baru bagi teman saya itu, dan dia merasa kesulitan. Benar-benar kesulitan karena sedari pagi sampai siang menjelang sore, satu aplikasi yang sangat sederhana itu tak kunjung usai terpasang di komputer. Menjelang jam pulang, barulah teman saya itu meminta tolong kepada saya. Waktu itu, saya masih anak baru dan belum genap satu bulan bekerja. Jadi wajar saja jika mungkin saya dianggap tidak mampu menginstalasi aplikasi tersebut.

Dan ketika akhirnya saya harus memasang aplikasi itu, saya merasa bersyukur bahwa pada akhirnya kebiasaan bongkar pasang game di komputer selama satu tahun terakhir, menemukan manfaatnya. Tak butuh waktu lebih dari sepuluh menit bagi saya untuk memasang aplikasi keuangan tersebut, dan membuat teman saya itu melongo tak percaya. Pun mengenai cara operasional aplikasi tersebut, tak jauh berbeda dengan cara operasional game-game yang biasa saya mainkan.

Itu adalah titik tolak yang membuat saya merasa ‘sedikit aman’, dan kemudian merasa bahwa apa yang saya lakukan dengan komputer selama satu tahun terakhir bersama game-game itu, bukanlah kebetulan. Andai saya tidak nge-game, saya tidak akan bisa menginstalasi aplikasi keuangan tersebut. Andai tidak bisa menginstalasi, saya akan lebih merasa insecure daripada tidak bisa membuat sebuah surat.

Setelah kejadian pada tahun 2005 itu, selama bertahun-tahun setelahnya, hidup dan pekerjaan saya berkutat pada pemakaian aplikasi-aplikasi. Sebagai pengguna saja, bukan sebagai pengembang apalagi kreator. Dan perasaan yang sama kembali muncul. Perasaan yang sama dengan ketika saya hanya menyuntuki komputer untuk nge-game dan memutar musik.

Saya merassa bidang pekerjaan saya bukanlah bidang yang bonafit. Bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, dan bukan sesuatu yang mempunyai banyak manfaat serta daya guna. Bertahun-tahun saya hanya berada didepan komputer, olah data dengan berbagai macam aplikasi, dan saya sama sekali tidak merasa keren karenanya.

Lebih keren polisi dengan pistol dan peluitnya di perempatan jalan. Lebih keren tentara dengan seragam doreng dan senapannya, lebih keren dokter dengan jas putih juga stetoskopnya. Lebih keren pilot dengan kacamata hitam dan dua pramugari disamping kanan kirinya, bahkan lebih keren sales mobil yang kemana-mana tampil keren dengan menunggang mobil.

Saya kembali merasa rentan.

Apakah yang saya lakukan itu berguna? Apakah yang saya lakukan itu tidak sia-sia? Sedangkan banyak teman saya dalam satu departemen mempunyai bidang pekerjaan yang terlihat jauh lebih berguna. Terlihat jauh lebih berwibawa. Terlihat jauh lebih bonafit. Terlihat jauh lebih keren tentu saja.

Sedangkan saya, sehari-hari hanya menyuntuki komputer dan aplikasi.

Tetapi kemudian, berselang lebih dari empat belas tahun kemudian dari ketika pertama saya melakukan instalasi aplikasi keuangan, saya merasa apa yang saya lakukan bukanlah kebetulan dan bukan suatu kesia-siaan.

Saya termasuk generasi pertama yang ‘beruntung’ ikut mengoperasikan sistem akuntansi pemerintah. Jadi saya ikut dalam rombongan ‘tua’ dalam usia yang saat itu masih sangat muda. Saya baru lulus SMA waktu itu. Dan saya bisa menyerap semua teknis pengoperasiannya dengan cukup baik, untuk banyak sekali jenis aplikasi.

Selang empat belas tahun kemudian, semuanya terlihat berguna, dan saya merasa tidak ada yang sia-sia.

Mungkin empat belas tahun terlihat sangat lama untuk dapat memetik suatu manfaat, atau untuk menyadari bahwa apa yang kita kerjakan bukanlah kesia-siaan. Mungkin juga terasa sangat lama untuk dapat menyadari bahwa semuanya bukanlah kebetulan. Semua sudah berjalan sesuai dengan yang semestinya, dalam koridor jalan yang seharusnya.

Saya memang harus menggunakan komputer selama satu tahu pertama untuk bermain game serta bongkar pasang instalasinya. Saya harus merasa insecure tidak bisa mengetik dengan becus. Saya harus mengerjakan dan menyuntuki berbagai macam aplikasi selama bertahun-tahun, dan saya memang harus merasa insecure karenanya.

Tetapi kemudian saya juga harus merasa bersyukur bahwa pada akhirnya semua terlihat berguna, tidak sia-sia. Saya harus bersyukur karena selama bertahun-tahun menyuntuki aplikasi-aplikasi itu, dan kemudian merasakan kegunaannya dalam bidang pekerjaan saya.

Tidak ada yang sia-sia, dan bukan kebetulan. Meski membutuhkan waktu empat belas tahun untuk menyadarinya. Saya masih harus bersyukur bahwa pada akhirnya bisa tersadar dari rasa tidak aman dan rendah diri tersebut, meski membutuhkan waktu yang sangat lama. Lebih baik sangat lama menyadari, daripada lebih lama lagi.

Bukan kebetulan kalau saya tidak becus mengetik membuat surat pada awalnya, bukan kebetulan kalau saya lebih menyukai nge-game daripada belajar MS Office, bukan kebetulan jika saya harus berada didepan komputer daripada diperempatan atau medan perang menggunakan senapan. Bukan kebetulan, dan tidak ada yang kebetulan.

Kecuali kalau anda mengubah kata kebetulan itu menjadi kebenaran. Mengubahnya dari kata dasar betul, dengan kata dasar benar. Nanti akan berbeda makna dan artinya. Meski kata dasar betul dan benar mempunya arti yang sama.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

23 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *