Buku Yang Kalah Oleh Celengan

Ini kali kedua buku kalah oleh hal lain, dua minggu, berurutan. Yang kemarin kalah oleh tragedi penembakan dan jual beli jabatan, akhir pekan ini kalah oleh celengan.

Iya, celengan, tabungan. Bukan celeng yang babi hutan.

Celengan tempat menabung, yang dulu biasanya berbentuk ayam jago, atau berbentuk kendi berwarna merah, dengan berbagai ukuran.

Tetapi nanti di akhir tulisan, buku akan menemukan keterkaitannya, dengan celengan.

Gambar yang saya jadikan gambar utama di atas, adalah celengan yang dibelikan oleh Mamak, ketika saya masih duduk di bangku SD. Bukan di bangku, di kursi sebenarnya.

Seingat saya, Mamak membeli dua. Satu untuk saya, berwarna merah, satunya lagi berwarna biru, untuk Lilik adik saya. Celengan dengan bentuk yang serupa, berbentuk rumah, dengan disertai sebuah gembok kecil.

Waktu itu, Mamak seakan ingin mengajarkan, bahwa kami harus belajar berhemat, dengan menabung. Mungkin karena mendadak teringat kenangan semasa itu, maka kemudian saya merasa harus menulis celengan, dan bukannya buku.

Sebelum setia dengan celengan berbentuk rumah berbahan plastik itu, saya pernah berganti-ganti celengan. Paling banyak, celengan berbentuk kendi berwarna merah berukuran kecil, yang terbuat dari tanah liat. Tetapi celengan dari tanah liat tersebut, tak pernah bertahan lebih dari setengah tahun. Selalu saja pecah di tengah jalan, untuk menuruti keinginan membeli sesuatu, yang tak disetujui oleh Mamak ataupun Bapak. Tetapi karena punya tabungan, punya celengan, ya gunakan saja uang itu.

Paling sering uang dari celengan itu untuk membeli mainan, atau membeli jangkrik, atau membeli gambar lotre. Beberapa kali juga untuk judi cliwik, setiap kali ada tontonan wayang, ketoprak, atau jathilan.

Setiap kali memecah celengan kendi itu, perasaan campur aduk selalu menggelayut. Dalam bayangan dan ekspektasi, isinya pasti banyak. Kenyatannya, ya isinya cuma sedikit. Diisi saja tidak pernah, kok berharap berisi banyak.

Celengan yang sekarang masih setia itu, sudah lebih dari sepuluh tahun tak pernah saya buka. Kunci gemboknya hilang. Sedang untuk membukanya secara paksa, terasa eman-eman, sayang rasanya, terlalu banyak kenangan. Seingat saya, didalamnya ada beberapa lembar uang rupiah bergambar duo proklamator yang terbuat dari bahan semi plastik itu. Juga beberapa lembar uang kertas rupiah dari berbagai nominal, yang saya yakin semuanya sudah berjamur. Isi paling banyak adalah uang logam. Mulai dari nominal 50,- 100,- sampai 500,- dan 1.000,-. Paling banyak dari uang logam itu, adalah nilai 500,- yang berwarna kuning keemasan. Yang konon katanya ada campuran emasnya. Dulu sengaja setiap kali mendapat uang logam berwarna kuning keemasan itu, selalu langsung saya masukkan celengan. Berharap suatu saat nilainya berkali-kali lipat kalau ditukar. Tetapi sampai saat ini, kok masih adem ayem ya?

Tapi sebenarnya, sepenting apa untuk seseorang mempunyai celengan?

Saya benar-benar bertanya. Itu bukan pertanyaan retoris yang kemudian akan saya susul dengan sebuah teori atau pernyataan. Tidak. Saya benar-benar bertanya sejauh mana sebenarnya seseorang membutuhkan celengan atau tabungan di dalam hidupnya?

Karena merunut pada pengalaman saya sendiri, tabungan atau celengan itu tak penting-penting amat. Masih lebih penting utang. Eh….

Misalnya saja dalam kasus ketika akhirnya saya mempunyai rumah, yang uang mukanya dibayari Mamak dan Bapak, saya mengangsurnya tiap bulan melalui skema utang, lima belas tahun, di bank.
Andai memaksa untuk sedikit demi sedikit menabung, kemudian baru membeli rumah, kok rasanya sampai hari ini pun saya takkan bisa memiliki rumah.
Sebagai gambaran, rumah yang saya tempati ini dalam kurun waktu tujuh tahun belakangan, nilainya sudah melonjak hampir tiga kali lipat. Nilai jual sekaligus belinya.
Saya tahu ketika dua tahun lalu seorang tetangga membeli rumah, yang tepat berada di samping rumah saya. Harganya sudah hampir tiga kali lipat dari rumah yang saya tempati.

Kalau waktu itu saya menabung, sedikit demi sedikit, sembari tinggal di rumah susun, kok tetap saja rasanya sampai saat ini tabungan saya takkan cukup untuk membeli rumah. Meski hanya rumah sederhana seperti yang saat ini saya miliki. Sebagai sedikit informasi, saya dulu memang pernah akan tinggal di rumah susun [rusun]. Sudah membayar sewa untuk tiga bulan ke depan. Tetapi urung karena kemudian Mamak dan Bapak menyarankan untuk mengangsur rumah saja.

Mungkin karena penghasilan saya yang terlalu sedikit, maka tabungan saya juga hanya sedikit. Oleh karena sedikit itu, maka mungkin kemudian menabung menjadi terasa sia-sia. Bukannya saya tidak bersyukur dengan penghasilan saya saat ini, tetapi saya hanya mencoba memberi gambaran ; kalau penghasilan anda hanya 11-12 dengan penghasilan saya, maka jangan coba-coba menabung untuk menyokong rencana besar seperti misalnya, memiliki rumah.

Menabung, dalam lingkup penghasilan yang seperti saya miliki, mungkin hanya bisa untuk menyokong rencana jalan-jalan di akhir pekan, atau makan-makan di tempat yang sedikit agak mahal.
Tetapi untuk mewujudkan rencana-rencana besar dengan biaya besar, maka utang masih cukup solutif.

Ah, kenapa jadi utang, bukannya sedang membicarakan celengan?

Sewaktu SMP, saya pernah begitu getol menabung, menggunakan celengan rumah berwarna merah itu. Waktu itu uang saku yang diberikan Mamak sekaligus untuk satu minggu. Sehari 500,-, terkadang 1.000,-. Seminggu uang saku saya sekira 3.500,- sampai dengan 5.500,-.
Untuk memenuhi hasrat saya menabung, saya rela untuk tidak jajan setiap harinya. Jika terpaksa jajan, itu hanya jika ada jam pelajaran olahraga. Di lain itu, saya memilih ke perpustakaan untuk menghabiskan waktu istirahat. Bukan karena saya suka membaca dan sok intelektuil dengan menghabiskan waktu di perpustakaan, tetapi semata agar tak tergoda untuk jajan.

Tahu kenapa saya begitu getol menabung?
Saya ingin membeli sepeda motor dengan uang tabungan yang bisa saya kumpulkan.

Tetapi menabung sebesar katakanlah 2.500,- setiap minggunya, saya hanya bisa mengumpulkan 10.000,- setiap bulannya. Itu pun kalau tak tergoda jajan, atau main PS. Kalau tergoda keduanya, seminggu paling saya hanya bisa menabung 1.000,-. Berarti sebulan hanya bisa mengumpulkan 4.000,-. Setahun? Hanya bisa saya kumpulkan paling banyak 50.000,- atau 60.000,-.

Setahun mengumpulkan tabungan 60.000,- berarti dalam dua tahun sisa masa sekolah di SMP, uang saya baru akan terkumpul 120.000,-. Padahal, harga sepeda motor Honda CB100 yang saya inginkan waktu itu, sekira 3.000.000,-. Butuh berapa kali bulan purnama coba untuk mengumpulkan uang sebanyak itu?

Nah, saya menyadari hal itu, hitung-hitungan kasar perihal tabungan itu, ketika sudah sekira 3 bulanan menabung. Setelah menyadari kesia-siaan tersebut, segera saya mengambil kunci gembok celengan, membukanya, dan mengambil serta menghabiskan isinya untuk bermain di rental PS.
Selesai sudah, tak punya motor juga tak mengapa. Daripada sakit pikiran memikirkan uang tabungan yang tak kunjung bertambah banyak.

Selepas tragedi hitung-hitungan tabungan semasa SMP itu, celengan rumah tak pernah saya isi beberapa tahun setelahnya, baik pada masa SMA atau awal kuliah. Malas. Lagipula tak ada juga yang bisa dimasukkan untuk mengisinya. Uang 500,- lebih baik dipakai untuk membeli es jeruk atau ngecer rokok daripada masuk celengan.

Baru setelah mulai bekerja, saya sering mengisinya kembali. Terkadang beberapa lembar uang kertas, tetapi paling sering ya uang logam itu. Yang kuning keemasan itu. Hal itu saya lakukan semata untuk iseng saja, dan untuk mengenang kesungguhan Mamak yang mengajari saya berhemat. Sekadar melawat sejenak ke masa SD, dan menarikan nostalgia bersama beberapa uang logam ke dalam celengan. Bukan untuk berniat mengumpulkan uang, melalui simpan menyimpan itu. Bukan untuk menabung, sepertinya saya lebih berbakat utang-utangan daripada tabung-tabungan.

Celengan ‘sansan wawa’ berwarna merah itu akhirnya lebih banyak bersembunyi di balik tumpukan sempak setelah saya kembali bosan mengisinya. Saya memang meletakkannya di dalam lemari, di pojokan, di belakang tumpukan sempak. Niat awalnya memang saya sembunyikan sedemikian rupa, agar tak tergoda untuk membukanya. Tetapi alih-alih membukanya, mengisinya saja ternyata akhirnya saya bosan, dan menjadi lupa.

Celengan itu termasuk yang saya masukkan pertama kali ke dalam kardus, ketika akan pindah ke Piyungan. Salah satu artefak masa lalu yang layak untuk dibawa kemanapun.
Akhir-akhir ini kembali saya suka mengisinya, dengan uang logam kuning keemasan. Jika kebetulan mendapatkan kembalian berupa uang logam 500,- kuning keemasan itu, saya akan segera memasukkannya ke dalam celengan. Kini isinya semakin banyak, sudah agak berat juga, tetapi saya yakin isinya tetap tak akan seberapa. Haha….

Karena tak suka dan merasa tak berbakat menabung dalam bentuk uang, kini saya lebih tertarik untuk menabung dalam bentuk barang yang lain.
Saya senang menabung dalam bentuk buku, mengumpulkan buku. Andai kebetulan sedang mempunyai uang, saya akan segera ke toko buku, dan membeli beberapa. Urusan membacanya, belakangan. Yang penting beli dulu, punya dulu, membaca adalah lain soal.

Pemborosan?
Ya tentu tidak. Buku adalah tabungan yang berharga. Siapa tahu kelak buku akan menjadi barang langka, dan mahal?
Belum lagi isinya yang bisa menambah khasanah isi otak agar tak hanya penuh dengan kolesterol dan hoaks.
Selain itu, menabung buku bisa memberikan saya modal penting andai kelak membuka usaha pecel di pasar. Ya, buku-buku itu akan saya jadikan modal untuk membungkus pecel.

Bermanfaat bukan? Bwahahahaha…..

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

10 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *