Buku Yang Kalah Oleh Tragedi Penembakan Dan Jual Beli Jabatan

Akhir pekan bersama buku, harusnya begitu. Tetapi tiba-tiba saja buku harus kalah oleh kabar dan berita besar. Dari dalam negeri, dan dari luar negeri. Kabar yang sama-sama menggemparkan, kabar yang sama-sama mengerikan.

Yang dari dalam negeri, ketua parpol ditangkap lembaga anti rasuah, KPK. Yang dari luar negeri, dua buah masjid dihujani timah panas, puluhan korban meninggal dunia dengan sia-sia.

Keduanya, membuat saya mendadak panas dingin. Keduanya, nanti akan menemukan legitimasi masing-masing. Bukan oleh pelaku-pelakunya, tetapi oleh orang-orang atau kelompok di sekitarnya. Selalu begitu, suatu peristiwa besar akan mendapatkan tempat, yang tidak menyentuh esensi dari peristiwa itu sendiri. Tetapi akan dimainkan semacam sandiwara, legitimasi, untuk menangguk keuntungan, sekaligus menyerang.

Begitulah, maka saya panas dingin.

Yang kedua dulu, yang di luar negeri, di Selandia Baru, penembakan masjid. Oleh teroris, jelas. Kali ini terorisnya berkulit putih. Teroris memang mempunyai banyak kulit, sekaligus juga ada di berbagai macam warna kulit. Teroris tak pernah merujuk pada suatu ras, suku, agama, apalagi kulit atau kelompok tertentu. Teroris adalah sikap dan perbuatannya. Yang suka merusak, suka membunuh, dengan berbagai dalih dan alasan, serta berbungkus kulit bermacam pembenaran. Ada teroris berkulit uang, teroris berkulit agama, dan kesemua teroris selalu berkulit kebodohan.

Karena bodoh, mereka menjadi biadab.

Jelas saja teroris yang menembak orang-orang di dua masjid Selandia Baru itu, tak ubah bodohnya dengan ISIS, atau jenis-jenis teroris lain. Lantas sama-sama menjadi biadab. Entah apa alasan paling jelas dan gamblang dari teroris di Selandia Baru itu ketika melakukan penembakan. Yang sudah bisa diungkap, bahwa ia ketakutan akan perkembangan umat Islam disana. Jenis kebodohan yang sama. Takut akan sesuatu, dan kemudian merusaknya.

Apapun alasannya, membunuh adalah perbuatan biadab, perbuatan bodoh.

Namun yang perlu dicermati, bahwa nanti perkembangan kasus penembakan ini, akan melegitimasi dua sisi, untuk melakukan sesuatu yang akan memperkeruh suasana. Satu sisi, seperti yang sudah dilakukan oleh senator dari Queensland. Yang malah menuduh umat Islam sebagai penyebabnya, karena kebijakan imigrasi yang dilakukan, sehingga banyak muslim ‘radikal’ masuk ke Selandia Baru. Padahal pelaku penembakan ini, warga Australia, bukan muslim. Sisi lain, jihadis bersumbu pendek akan membuat tindakan ‘balasan’, entah dimana dan kapan waktunya.

Keduanya, sama-sama tidak menyentuh esensi dan subtansi penyelesaian konflik semacam ini. Tidak ada itikad untuk berdialog dan merumuskan kerja serta langkah nyata mencegah berulangnya tindakan serupa. Selama ini hanya muncul retorika-retorika, yang mendorong dialog antar agama, serta mendorong toleransi. Kesemuanya, tidak atau belum merumuskan blueprint dari teknis-teknis yang harus dilakukan.

Misalnya saja apakah toleransi harus masuk dan menjadi semacam mata pelajaran tersendiri, di dalam sistem kurikulum pendidikan di seluruh dunia. Meski sebenarnya, toleransi adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran agama mana pun, dan mata pelajaran agama pada lembaga pendidikan.

Pun misalnya, apakah cinta kasih dan menyayangi sesama manusia adalah benar-benar ajaran agama yang tak hanya berhenti pada mimbar-mimbar khotbah, ataukah ia memang aplikatif untuk diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Karena pada kenyataannya, kehidupan sehari-hari saat ini, tak lagi mengedepankan cinta kasih dan menyayangi sesama makhluk, apalagi sesama manusia. Padahal, hakikat dan esensi kebaikan dari semua agama, adalah pada tindakan dan perbuatan sehari-hari, bukan hanya pada mimbar khotbah dan kajian.

Hari ini, sudah tak ada lagi ruang untuk mengutuk pelaku maupun perbuatannya. Dalam kejadian yang berulang, hari ini seharusnya sudah dimulai langkah-langkah untuk mereduksi tindakan terorisme semacam itu. Bukan lagi dengan undang-undang yang bersifat represif, tetapi dengan kembali menyatukan cinta dan kasih sayang kepada sesama makhluk, dalam kehidupan sehari-hari manusia.

Hari ini, seharusnya tak ada lagi amarah bagi kita yang waras, yang melihat tragedi semacam itu berulang di depan mata. Sebagian sebab akibat semacam itu, kita semua menanggungnya.

Mencari akar penyebab tindakan semacam itu, tanpa ada yang perlu ditutupi serta disembunyikan, untuk kemudian bersama-sama dengan hati dan pikiran terbuka mencari solusinya.

Jangan sampai tindakan-tindakan yang sebenarnya dilakukan tanpa terorganisir semacam ini, membawa dampak buruk bagi mereka yang tak bersangkut paut dengan pelaku. Jangan hanya karena kesamaan ras, warna kulit, atau agama, lantas disematkan stigma bahwa kesemuanya mempunyai kecenderungan perilaku yang serupa. Lantas kemudian, mereka menanggung akibat dari perbuatan yang tak pernah mereka lakukan, hanya karena yang beragama dan berwarna kulit sama, melakukan tindakan bodoh serta biadab.

Rakyat Irak dan Afghanistan sudah menanggung akibat dari perbuatan yang tak mereka lakukan pada menara kembar WTC pada 2001. Dan Bali menanggung akibat dari rentetan yang terjadi pada masyarakat Irak dan Afghanistan.
Kesemuanya, saling silang sengkarut dalam ragam macam prasangka yang tak usai. Saling balas dan dendam tanpa landasan pijakan serta kejelasan alasan, selain hanya amarah yang membuncah.

Kemudian yang pertama, yang dari dalam negeri, yang seorang ketua umum parpol dicokok oleh lembaga anti rasuah, KPK. Saya panas dingin bukan karena siapa tokohnya, melainkan kasus yang menjadi penyebabnya.

Jual beli jabatan, dengan melibatkan sejumlah uang meski belum disebut besaran nominal, seperti yang disampaikan juru bicara KPK.

Yang semakin membuat saya panas dingin, dugaan itu melibatkan secara langsung pada kementerian dimana saya bekerja.

Saya tahu persis, sebagai bagian dari kementerian tersebut, seharusnya saya melakukan semacam propaganda penyangkalan, dan counter berita negatif dengan berita positif. Saya yakin akan ada perintah untuk tidak mem-blow up berita ini ke media. Perintah darimana? Tentu saja dari yang merasa punya ‘kepentingan’, dan mereka yang polos akan menurutinya begitu saja.
Tetapi bagi saya, tragedi yang melibatkan kementerian perihal jual beli jabatan ini, sudah sepantasnya diunggah secara masif dan besar-besaran. Tak ada ruang untuk menutup-nutupi kebodohan serta kebusukan yang jelas merugikan. Tak ada ruang negosiasi bagi mereka yang secara jelas ingin merusak integritas serta profesionalitas.

Kenapa?

Agar tak ada lagi praktek-praktek penyalahgunaan wewenang semacam itu. Agar pengisian jabatan dari eselon rendah sampai dengan eselon tinggi benar-benar berdasarkan kinerja serta profesionalitas, dan bukan berdasar kedekatan kekerabatan, organisasi, kelompok, dan apalagi dikarenakan mahar berupa uang.

Membayar sejumlah uang untuk menduduki suatu jabatan tertentu, bagi saya sungguh memuakkan dan menjijikkan. Hal semacam itu mematikan nalar, akal sehat, dan tentu saja melanggengkan kebodohan.

Bolehkah saya menyamakan tindakan jual beli jabatan sebagai sesuatu yang juga sangat merusak, serta dalam skala yang serupa, tak ubahnya dengan tindakan terorisme. Jika terorisme konvesional menggunakan bom serta peluru, dan membunuh secara kasat mata, biadab dalam pandangan mata telanjang, maka jual beli jabatan membunuh karakter secara perlahan, dan dalam jangka waktu tertentu akan merobohkan negara dikarenakan sifat-sifat merusaknya.

Andai saya boleh berharap dari KPK, semoga saja ada penindakan berkelanjutan, untuk mencari tahu sejauh mana jual beli jabatan dalam kementerian sudah dilakukan.

Kemudian andai boleh berharap banyak dari dalam kementerian sendiri, agar segera berbenah diri. Kenyataannya, masih banyak talenta potensial yang layak menduduki jabatan-jabatan, tanpa harus menggunakan uang, tanpa harus membayar.

Apa yang bisa diharapkan dari pejabat yang sekaligus juga adalah policy maker,—pengambil kebijakan—, yang mendapatkan jabatannya dengan membayar sejumlah uang?
Adakah sedikit saja kecerdasan dari orang yang melakukan tindakan semacam itu?

Hari ini saya berduka, akhir pekan yang menyiratkan warna kelabu dan aura kelam kegelapan. Pada mereka yang menjadi korban penembakan di Selandia Baru, semoga mendapatkan tempat terbaik dan ketenangan, doa takkan putus mengalir bagi mereka.

Bagi kementerian tercinta yang ternoda oleh kebusukan dan bau keserakahan serta kesewenangan, semoga engkau lekas sembuh dan mengamputasi dirimu sendiri dari kanker-kanker yang menyedihkan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

215 Comments

  1. I believe everything typed was very reasonable.
    But, think about this, what if you added a little content?

    I am not suggesting your information isn’t good., but suppose you added a title that
    makes people desire more? I mean Buku Yang Kalah Oleh Tragedi Penembakan Dan Jual Beli
    Jabatan – ANANG AJI is kinda plain. You could look at Yahoo’s front page and see how they write news headlines to
    get people to click. You might add a related video
    or a related picture or two to get readers excited about
    everything’ve got to say. Just my opinion, it might make your blog a little bit more interesting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.