BUS, DAN PARA PEMABUK MUDA

Bau solar dari bus yang terparkir dengan mesin hidup dan suara menderu, hampir saja membuat tumbang. Salah satu hal mengerikan dan mengancam keberlangsungan kesehatan selain pikiran stres dan salah mengonsumsi obat kimia yang dikira kembang gula, adalah bau solar dari kendaraan bernama bus. Semenjak kecil sebenarnya saya cukup familiar dengan bus. Dua Pakdhe saya pengemudi bus angkutan kota. Seringkali pada malam hari sepulang mencari dan mengantar penumpang, Pakdhe membawa pulang bus mereka. Dan saya tentu saja senang bukan kepalang ketika mendapati Pakdhe membawa pulang bus mereka. Saya akan mulai naik, bermain di dalamnya bersama kakak-kakak sepupu, duduk di belakang kemudi berlagak laiknya profesional, atau berdiri di pintu bergaya kondektur.

Tetapi entah karena kejadian apa atau bagaimana (saya lupa), tiba-tiba saja saya merasa sebagai makhluk lemah di hadapan bus. Saya akan mulai ndeprok, nglemprak, lemas, muntah-muntah, pusing parah, ketika membaui bau solar bus. Belum lagi naik saya sudah akan mengelepar. Begitu naik dan berjalan, saya akan mulai seperti ikan lele yang siap dimasukkan ke dalam penggorengan.

Tempo hari kejadian itu terulang. Hampir saja saya terkapar di hadapan bus pariwisata yang bersiap mengantar serta mendampingi anak-anak MTsN 8 Sleman melakukan study tour ke Malang Raya, kota Batu tepatnya.

Sebelum subuh, bus mulai berangkat melaju dari tempat pemberangkatan, kampus MTsN 8 Sleman. Pukul 19.30 tepatnya.

Anak-anak riuh rendah saling bercakap bersahutan dalam suara yang keras, untuk memberi perimbangan terhadap ‘koor‘ yang dilakukan teman-temannya mengikuti alunan musik dangdut yang diputar kondektur. Hampir serempak kemudian mereka mulai berteriak-teriak meminta untuk diputarkan lagu-lagu milik Guyon Waton. Ah, dasar anak-anak, tahu saja. Kondektur tak bersiap dengan lagu-lagu dari Guyon Waton, anak-anak gusar dan berteriak, kondektur terlihat mulai hilang kesabaran. Akhirnya saya harus urun rembug. Saya pinjamkan sebuah flashdisk, dan meminta anak-anak memindahkan lagu yang mereka sukai ke dalamnya, dan meminta kepada kondektur untuk memutarnya. Selesai, anak-anak kembali bergembira, kondektur tak harus terus menerus melipat mukanya.

//Urip rasah spaneng

Tiga jam perjalanan berlalu, musik masih mengalun, bus terus melaju, beberapa anak mulai muntah-muntah, mabuk. Ciloko.
Jujur saja saya tak bisa menghadapi, atau menolong orang yang mabuk kendaraan. Hampir bisa dipastikan saya akan ikut mual, muntah, dan kemudian mabuk parah. Untung saja kawan-kawan pendamping dari guru dan pegawai cukup sigap menolong dan ngrumat anak-anak yang mabuk, kalau tidak…

Bagi saya mabuk kendaraan adalah siksa yang jauh lebih kejam dari beragam macam siksa yang didapat secara tak sengaja. Siksa yang didapat secara tak sengaja, misalnya :
– kentut disertai pecirit,
– ngompol ketika membaca komik siksa neraka,
– mengunyah lengkuas dalam rendang karena dikira daging.

Saya yakin anak-anak yang mabuk itu lebih memilih mendapat PR sebanyak mungkin setiap hari daripada harus terus menerus mual dan muntah di dalam bus. Tetapi saya lebih yakin lagi bahwa mereka tak akan memilih keduanya.
Yang pasti, saya kemudian memakai masker agar tak membaui bau muntahan, dan juga menutup telinga dengan syal agar tak mendengar suara-suara muntah dan bunyi tas plastik yang terguyur air dari dalam mulut para pemabuk kendaraan itu.

Saya tidak hapal ruas-ruas jalan. Yang saya ingat, bus masuk beberapa pintu tol. Selama melaju di jalan tol, pemabuk-pemabuk kecil itu tak terlalu reseh, mungkin tertidur. Tetapi begitu memasuki ruas jalan umum, sekira 30 menit sebelum akhirnya sampai di Rumah Makan Kurnia, bus kembali bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tentu saja, goyangannya tak selembut Nella Kharisma, sehingga para pemabuk muda itu kembali memuntahkan amunisi dari dalam perutnya. Saya sebenarnya sangat kasihan, dan paham betapa tersiksanya mereka. Tetapi apa mau dikata, saya sendiri bisa gampang tertular ritual mabuk kendaraan jika berusaha mendekat dan membantu.

Bus terus melaju, jalan sedikit menanjak dan berkelok.

“Wuueehhhh!!!” Sopir bus terdengar setengah berteriak.

Bus Sumber Rahayu menyalip dengan ganas dari sisi sebelah kanan yang ramai kendaraan, tipis saja jaraknya dengan bus yang kami tumpangi.

“Wheeelllaaaaaaa!!!” Kembali sopir bus kami berteriak setengah tertahan.

Bus Mira tak kalah ganas menyalip dari sebelah kanan, seolah mengejar Sumber Rahayu yang sudah melaju di depan.

Saya membercandai sopir bus, kenapa tak ikut ‘balapan’.

“Trimo ngalah mas, ndak melu ra waras.” Katanya terkekeh.

Di bangku belakang, masih terdengar para pemabuk yang sibuk memuntahkan isi perut. Saya mulai ikut merasa mual.

Tak berapa lama, bus sampai di Rumah Makan Kurnia, tempat familiar untuk beristirahat penempuh perjalanan darat di seputar Ngawi, Jawa Timur.

Para pemabuk muda terlihat memancarkan roman muka lega, penuh keceriaan. Paling tidak, meski sejenak, mereka bisa menghilangkan rasa sesak.

Untuk sampai tujuan, di kota Malang, mungkin baru ditempuh separuh perjalanan. Entah nanti apa yang akan terjadi, yang jelas ketika berhenti di Rumah Makan Kurnia, para pemabuk muda itu menampilkan wajah lega dan ceria.

Mabuk memang bisa sangat menyiksa, namun sekaligus juga bisa sebagai sebuah cara, untuk bagaimana menghargai rasa lega, dan berusaha kembali ceria.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

10 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *