Catatan : Ada Jajanan, Om di Sayang

Serius, judul di atas bukan hanya guyonan. Bukan sekadar judul agar menarik untuk dibaca. Saya sudah terbiasa dengan tulisan yang tak banyak dibaca, haaa…

Setelah hujan yang cukup deras, saya memutuskan pulang dari tempat kerja, seusai mendengar adzan Ashar berkumandang dari pengeras suara masjid.

Jalanan masih tergenang air, dan beberapa pengendara sengaja menambah laju kecepatan ketika melintas di atas genangan. Kobis lah, sedang saya tak memakai jas hujan.

Sampai di rumah, jaket dan celana sedikit basah. Segera saja berganti pakaian sebelum raga yang menuju renta ini, menderita. Saya harus menunda untuk segera mengambil ‘mainan’ yang sedang hits di komplek pojok perumahan. Kandra.

Anak tetangga yang masih berusia 8 bulan, adalah mainan menyenangkan bagi saya, setiap pagi dan sore hari.

Tentu saja, manusia juga adalah mainan, sampai batas usia tertentu. Kelak, termasuk Kandra, manusia adalah makhluk yang berhak menentukan sendiri nasib serta jalan hidupnya, lebih daripada sekadar mainan.

Saat ini, mumpung ia masih bisa menjadi mainan, maka saya akan menikmati dan menghayatinya sebaik mungkin.

Kandra paling senang ‘dilempar’ ke udara. Dia akan tertawa sampai gusinya terlihat semua. Gusi yang belum ditumbuhi gigi. Apalagi ketika dia dilempar ke arah cicak, yang berada di atasnya. Kandra akan tertawa-tawa lepas, tanpa beban. Sederhana. Sederhana saja hal yang membuat anak itu tertawa lepas. Bahkan cicak saja bisa membuatnya tertawa bahagia.

Entah kenapa saya selalu meleleh jika berdekatan dengan anak-anak. Ada suatu perasaan yang mengikat, sehingga sulit untuk mengabaikan keberadaan mereka, dalam hati maupun pikiran.
Meski beberapa orang mengatakan penampilan saya seram, nyatanya banyak anak-anak yang lekat juga pada saya.

Sejenak setelah ‘menerbangkan’ Kandra ke arah cicak, untuk yang terakhir sebelum tangan saya terasa pegal, mulut saya disampluknya. Dia tidak terima kalau penerbangan sore itu harus berakhir. Saya tertawa saja, kemudian menundukkan kepala, dan saya mendengar ada sebentuk suara tertawa tanpa benar jelas arti dan maknanya.

Tak berselang lama, Kandra tertidur, di dalam gendongan istri saya. Mungkin dia kelelahan terbang dan tertawa.

Saya sulut sebatang rokok, sembari memijit lengan yang terasa pegal.

Setelah Kandra, datang Nala. Gadis manis berhidung minimalis berusia 2 tahun 4 bulan. Bicaranya belum jelas benar.

Anak yang satu ini, lucunya ga ketulungan. Pernah dia ikut saya ronda dan mengambil jimpitan, sampai tertidur di gendongan. Tetapi terkadang saya dekati saja dia akan menggeleng keras dan menangis.

Jika ada yang membuatnya akan segera mendekat tanpa syarat, adalah jajanan.

“Om punya-punya.” adalah mantra singkat yang akan segera membuatnya mendekat. Jajanan apapun, akan membuatnya mendekat sembari tersenyum malu-malu. Meski jika sudah mendapat apa yang dia inginkan, dia akan segera berlalu pergi lagi.

Tak berbeda sore kemarin. Dengan membawa uang 500,-, dia mengajak saya ke warung. Awalnya dia malu-malu juga, tetapi setelah istri saya menggodanya, untuk minta jajan yang banyak di warung, senyumnya mengembang.

Sampai di warung, pandangannya hanya tertuju pada bungkus permen Yupi berwarna merah jambu. Satu saja dia mengambilnya, dan menggeleng ketika saya tawari cokelat, tetapi mengangguk ketika saya perlihatkan bungkus mie kering, dan beberapa bungkus kwaci bunga matahari merk Rebo. Nala mengambil beberapa, dan memasukkannya ke dalam tas plastik, beserta Yupi kegemarannya.

Senyumnya terus mengembang. Sepanjang perjalanan pulang dari warung, sembari tangannya kerepotan membawa tas plastik berisi jajanan, dia menoleh ke arah saya sembari tersenyum dengan pandangan berbinar.

Ah, ada jajanan, om disayang.

Tentu wajar adanya. Gadis kecil yang manis itu sedang merintis dan mempelajari bagaimana memperlakukan kehidupan. Meski Om terkadang terlihat seram, tetap saja Om akan terlihat manis sekali waktu kalau membelikan jajanan, dan layak mendapat senyuman.

Yupi segera tandas setelah dia bagi bersama kakaknya, Kayla. Dan satu bungkus mie kering tak terlalu antusias dia habiskan. Nala lebih tertarik melihat saya yang sedang makan kwaci. Awalnya dia menggeleng ketika saya tawari. Tetapi mungkin rasa penasaran mengalahkan gengsinya. Dia mau, dan mencoba satu setelah saya kupaskan. Dia minta lagi..lagi..dan lagi.

Dan saya yang kemudian harus menghentikan kegiatan perbudakan mengupas kulit kwaci itu, dengan alasan dia akan batuk kalau makan kebanyakan. Nala menganggukkan kepala, dan saya tersenyum lega. Haha…

Tak berapa lama dia pulang, tanpa berpamitan, sembari membawa tas plastik yang masih berisi beberapa jajanan. Ketika diperingatkan kenapa tidak berpamitan, dia segera berhenti berjalan, balik kanan, tetap tak berpamitan namun dia tertawa-tawa dan wajahnya nampak malu.

Saya tertawa saja melihatnya, tetapi kemudian menyadari satu hal :

“Uang memang bukan segalanya, tetapi uang memudahkan semuanya.”

Saya tersenyum kecut. Uang saya hanya berlebih ketika dibawa jajan ke warung bersama Nala.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

16 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *