Catatan : Bukit Menoreh, dan Wangi Durian

Piyungan cerah, panas. Aspal mengkilat, di musim penghujan yang tak berair.

Tetapi langit barat terlihat kelabu, mendung nampak pada beberapa bagian, tersembunyi di balik gerumbul pepohonan, dan lengkung cakrawala semakin membatasi pandangan mata.

Mulut tak henti komat kamit membaca doa sebisanya. Sekadar berharap nanti tak kehujanan. Pada perjalanan, atau ketika di tempat tujuan.

Kalibawang. Kami hendak membuat perhitungan dengan durian.

Sebelumnya, mampir dulu ke Cebongan. Seseorang ingin meminjam KTP, untuk membayar pajak tahunan kendaraan. Mio yang saya jual dulu, sepuluh tahun lalu, masih atas nama saya ternyata.

Tak mengapa. Bahkan saya senang, Mio kesayangan itu mendapat perawatan selayaknya. Masih terlihat bagus.

Di Cebongan, hujan turun, rintik kecil, lantas hilang bersama angin. Langit di barat, semakin terlihat menghitam. Nampaknya sudah turun hujan.

Perempatan Cebongan, persimpangan kecil yang ramai itu nampak padat kendaraan. Seseorang dengan rompi berwarna oranye terlihat kepayahan mengatur lalu lintas. Semua ingin maju, semua ingin di dahulukan. Hampir terjadi senggolan, antara truk dari arah timur, yang hendak belok ke utara, dengan mobil dari utara, yang hendak lurus ke selatan. Hampir, hampir saja.

Selepas Cebongan, jalanan lancar, tak terlalu padat kendaraan. Di pertigaan Pundong, di sisi barat sekaligus selatan jalan, penjual umbi-umbian favorit Mamak masih menggelar dagangannya, dibawah sebentuk tenda sederhana. Bentoel dari pedagang umbi itu, sungguh nikmat tiada terkira ketika dikukus. Gurih sedikit manis, empur, dan legit di mulut. Menurut saya, jauh lebih enak daripada roti dari tepung.

Selepas perempatan Seyegan, sekira dua kilometer, pengendara sepeda motor dari arah barat terlihat memakai jas hujan. Sepertinya hujan benar-benar turun dengan deras, di barat. Barisan pegunungan Menoreh terlihat gagah, dalam balutan beludru berwarna abu-abu. Tak terlihat warna hijaunya yang menawan, tetapi tetap saja melagukan kekaguman.

Kini, langit di atas sudah gelap menghitam, angin terasa kencang. Gerimis.

Sepertinya langit sedang tak bersahabat. Tetap jas hujan enggan dikenakan. Saya lebih memilih membuka kaca helm, menengadahkan wajahnya ke langit, dan memberitahukan bahwa saya sedang enggan terkena air hujan.

Masih sedikit gerimis, sampai di persimpangan Balangan.

Masih tetap gerimis ringan, dari perempatan Balangan sampai dua kilometer setelahnya. Reda, menjelang puskesmas Minggir, sebelum persimpangan, sebelum belok ke kanan untuk melintas di atas Sungai Progo. Lewat jembatan tentunya.

Sungai Progo berwarna kecokelatan. Mungkin di hulu hujan demikian deras.

Kembali terlihat beberapa pengendara sepeda motor memakai jas hujan, terlihat basah, dari arah utara, pada perempatan Dekso.

Melewati Pasar Dekso, masih terlihat cukup ramai. Beberapa kendaraan terlihat terparkir pada tempat yang tak terlampau luas. Pasar kecil yang ramai. Pasar Dekso menyimpan sebentuk kenangan yang cukup manis bagi saya, pada tape singkongnya. Tape yang dibungkus dengan daun jati. Yang rasanya, belum ada bandingannya. Manis, legit. Manisnya tidak membuat tenggorokan menjadi sakit dan kering.

Di depan, di punggung Menoreh, terlihat memutih. Hujan baru saja berlalu, ketika kami melintas. Aspal masih basah, pengendara sepeda motor dari arah berlawanan, masih memakai jas hujan. Udara dingin, pepohonan tinggi menjulang semakin menegaskan udara dingin yang menyergap. Segar, sebenarnya.

Sekira sepuluh menit berlalu dari Pasar Dekso, penjual durian mulai terlihat, di kanan dan kiri jalan. Aroma harumnya, menyergap indera penciuman.

Bagi yang tidak suka, mungkin akan berdarah-darah hidung dan perasannya.

Kalibawang sudah saya dengar nama daerahnya, semenjak SMA. Kawan saya ada yang bertempat tinggal di sana. Tetapi, waktu itu saya belum tahu, kalau Kalibawang tersohor dengan duriannya. Yang manis, yang daging buahnya legit, yang ada juga rasanya agak pahit.

Seumur hidup, baru dua kali saya ke Kalibawang. Dua tahun lalu, bersama kawan kantor, dan kemarin lusa, bersama istri.

Dua tahun lalu saya sempat mencicip durian Menoreh, yang daging buahnya berwarna oranye. Yang rasanya….membuat lidah saya segera bersujud melantunkan rasa syukur. Syukur atas kesempatan menikmati rasa buah yang belum pernah tercecap sebelumnya. Rasa buah yang sampai saat ini menempati satu ruang ingatan khusus, karena keistimewaannya.

Menempuh perjalanan sepanjang Piyungan-Kalibawang, dari Bantul ke Kulonprogo melintasi Sleman, adalah demi menuntaskan dendam ingatan perihal durian. Durian Menoreh.

Sebuah rumah di tepi jalan, di sebelah kiri, terlihat ramai. Sebuah mobil dan beberapa sepeda motor terparkir. Penjual durian. Mungkin memang sudah dijadikan langganan. Terlihat dari tumpukan kulit yang memanjang di depan rumah, di pinggir jalan.

Sepanjang jalan, alam menyajikan pemandangan yang memanjakan mata, meneduhkan pandangan. Hamparan sawah, dan hijau pepohonan, sejenak melarutkan penat.

Ada satu penjual yang akan kami jadikan tujuan. Penjual yang juga saya datangi bersama kawan, dua tahun lalu. Penjual yang saya yakin tak akan menjual durian dengan kualitas kurang baik, dan hanya akan menjual yang baik-baik.

Berada di tepi jalan, dengan tenda sederhana, tepat setelah jalan menurun, di kiri jalan.

Tak banyak buah durian di lapak itu, ketika kami sampai di sana. Tak lebih dari dua puluh buah. Beberapa digantung, beberapa berada di atas rak. Ada juga manggis, dan juga petai.

Empat buah durian berukuran besar digantungkan pada sisi kiri lapak. Hampir sebesar helm. Beberapa yang tak terlampau besar, digantung pada sisi kanan depan dari lapak sederhana itu. Tiga buah kursi kayu disediakan, selembar tikar di gelar. Sebuah kardus bekas air mineral terlihat hampir penuh dengan isi buah durian. Hampir penuh pongge.

Tanpa basa basi, kami bertanya harga. Beberapa buah kami tunjuk, penjual menyebutkan harga. Tawar menawar.

Tak perlu terlalu ngotot meminta penurunan harga. Toh tujuan utama adalah untuk membeli, bukan menawar.

Dua buah durian putus di harga seratus ribu, kembali lima belas ribu. Satu durian dengan warna kulit kekuningan, di buka di tempat.

Sempurna. Terbalas sudah dendam panjang yang mengendap. Meski bukan durian Menoreh, tetapi sudah mengobati rasa sakit lidah yang terendap kerinduan. Rindu dendam terhadap durian Kalibawang.

Bajingan, enaknya sungguh keterlaluan.

Tak perlu juga saya definisikan rasa durian Kalibawang ini. Toh sebagian besar dari anda sudah pernah, bahkan sering menyantapnya.

Satu durian tandas, satunya dibungkus. Bungkus plastik, masih bersama kulitnya.

Balik kanan, pulang. Pekat hitam mendung menghilang. Tinggal menyisakan warna putih terang, dan juga aspal yang basah. Tak ada lagi pengendara terlihat memakai jas hujan, baik dari utara maupun selatan.

Ah, ternyata langit masih bersahabat. Atau mungkin karena berkah dari bukit Menoreh. Entah juga jika karena hujan tak terlampau suka bau dari aroma durian.

Entahlah, yang penting tidak kehujanan, sepanjang perjalanan pulang, dari Kalibawang menuju Piyungan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

13 Comments

  1. I’m also commenting to let you be aware of of the brilliant discovery my child encountered checking your blog. She came to understand a lot of details, including how it is like to have a marvelous coaching heart to get folks easily fully grasp a variety of complex issues. You actually did more than my desires. I appreciate you for delivering such good, dependable, edifying and also cool guidance on that topic to Ethel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.