Catatan : Hari Pertama Usai Libur Lebaran

Ilustrasi. Gambar : Pixabay

Dingin menyergap, pagi sudah jauh lewat dari kokok ayam jantan pertama. Pagi yang sudah terang, dengan mendung menyelimuti langit. Terang, namun kelabu. Terlihat dari sela tirai usang penutup jendela. Dingin menggoda untuk jangan lekas beranjak. Untuk tetap diam diatas kasur, bersama selimut dan sisa-sisa mimpi samar semalam.

[10/06/2019] hari pertama kerja setelah usai rangkaian libur lebaran. Libur seminggu, untuk berhari raya. Dan pertama kali masuk untuk bekerja setelah sekian lama itu, masih ada malas yang tersisa. Perihal pagi yang lebih menyenangkan untuk dilewatkan bersama beberapa batang rokok dan secangkir kopi. Pagi yang lebih menyenangkan untuk dilewatkan sembari melihat burung berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya, dari pohon pertama ke pohon berikutnya.

Namun tetap saja harus segera mandi, dan berangkat untuk bekerja. Ada sanksi yang sudah disiapkan oleh pemimpin kementerian di pusat, di Batavia. Hukuman bagi mereka yang alpa pada hari pertama, bagi mereka yang tidak berangkat bekerja, mengisi presensi.

Pagi benar-benar sedingin wajah yang ditampilkannya. Tersentuh pertama dari air keran, yang berasal dari penampungan. Sedingin es, hampir seperti air pada daerah Dieng atau Kaliurang. Benar-benar membuat malas untuk mandi, dan lebih memilih untuk cuci muka saja.

Tetapi harus tetap mandi. Agar semua mimpi sisa semalam segera tuntas hilang bersama daki. Agar hari ini tetaplah hari yang nyata, dan bukan rangkaian mimpi-mimpi.

Mimpi tetaplah menjadi mimpi, berdiri atau duduk pada tempatnya. Mimpi takkan lagi indah ketika sudah mewujud nyata dalam kehidupan.

Secangkir kopi pertama setelah puasa dan libur lebaran. Kopi pertama di teras rumah Piyungan. Kopi pagi yang sebulan lebih menghilang, pergi dari kebiasaan. Akhirnya ada dan hadir kembali, setelah ritual mandi yang menguras banyak energi.

Ah, selalu menyenangkan duduk sembari menyaksikan pagi beranjak dewasa, dengan ditemani secangkir kopi dan beberapa batang rokok. Selalu menyenangkan menelisipkan hangat secangkir kopi, di sela dingin pagi yang terkadang jauh menusuk sampai ke dalam tulang.

Ini pagi pertama setelah libur lebaran, setelah rangkaian mudik. Selalu sentimentil, dari tahun ke tahun, selama delapan tahun terakhir. Kini Banteran adalah jejak dan akar sejarah, yang takkan pernah bisa terulang untuk melewatkan pagi sembari menyaksikan hiruk pikuk kendaraan di jalan raya seberang halaman. Banteran adalah situs suci yang wajib dikunjungi, namun bukan untuk kembali ditempati.

Piyungan adalah cerita baru, serabut akar muda yang akan menua berpuluh tahun kemudian. Menua bersama cerita, bersama secangkir kopi dan dua batang rokok di pagi hari.

Selalu sentimentil selama delapan tahun terakhir. Tetapi bukankah hidup tetap harus berjalan dengan disertai perubahan-perubahan?
Bukan untuk terus menerus stagnan dan diam menerima diri dilindas pergerakan waktu?

Ah ya, tandaskan saja secangkir kopi mu, dan mulai lah berangkat bekerja. Banyak pekerjaan yang sudah menunggu. Ada komputer yang sudah merindukanmu. Ada detak target pekerjaan yang sudah menunggu, memacu jantung dan adrenalin dari waktu ke waktu.

Seorang kawan meninggal hari Minggu kemarin. Tiba-tiba saja teringat ketika secangkir kopi sudah tandas. Seorang kawan baik. Kawan yang berjuang melawan penyakit dalam tubuhnya, dengan segenap prinsip serta keyakinan. Dengan tekad yang terus menyala, dengan idealisme yang tak goyah sampai helai nafas terakhir putus dari urat nadi darahnya. Selamat jalan kawan. Mati adalah satu-satunya kepastian dalam hidup ini.

Jalan masih lengang, dengan hanya beberapa kendaraan melintas di jalanan yang biasanya selalu ramai dengan lalu lintas kendaraan. Anak-anak sekolah masih libur. Beberapa mobil melintas dengan kecepatan tinggi, dengan sebagian besarnya berplat nomor luar kota. Mungkin mereka sedang tergesa.

Penjual bubur bayi di perempatan Munggur sudah terlihat berjualan, dan dua orang pembeli sudah berada di kiosnya yang tak lebih dari satu meja dan tiga kursi.

Mendung masih menjadi permadani luas pada sejauh mata memandang langit. Tak ada biru, kelabu meluas.

Barisan pegunungan di kanan jalan berselimut kabut, seolah menjadi penghangat untuk menghalau hawa dingin yang menyergap.

Dan Bleky melaju dengan tak melebihi kecepatan penggila sepeda.

Banyak pekerjaan sudah menunggu, selepas mengisi daftar kehadiran pada mesin presensi. Libur bukan alasan untuk masih bermalas-malasan. Ada dedikasi dan ikatan batin yang kuat terhadap pekerjaan. Ada sumpah jabatan yang harus digenggam erat. Ada nilai-nilai yang harus dijalani, lebih dari sekadar ukuran profesionalitas dan integritas.

Bekerja bukan sekadar mencari nafkah dan penghidupan. Bukan sekadar memenuhi nilai standar profesional. Bekerja adalah tentang memenuhi fitrah manusia, untuk terus memelihara kesanggupannya dalam berjuang.

Dan dalam perjuangan, nilai paling penting adalah tekad dan dedikasi. Tanpa itu, profesionalitas dan integritas adalah pepesan kosong belaka, dan bisa jadi hanya sekadar menjadi bahan dagangan bagi para pencari muka dan pemburu jabatan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

12 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.