Catatan : Jalan Kaliurang, Bulaksumur-Kentungan

Ada yang sedikit terasa dan terlihat asing, ketika tempo hari [29/03/2019] saya melintas di ruas Jalan Kaliurang [Jakal], dari perempatan Bulaksumur, ke arah utara. Jalannya sedikit bertambah lebar, terutama di sebelah utara selokan, di sebelah timur gedung MM UGM. Yang dulu trotoarnya terlihat cukup lebar untuk mendirikan warung tenda dan berjualan, kini sedikit lebih menyempit. Jalannya sedikit bertambah lebar, trotoarnya bertambah sempit.

Sama-sama bertambah, dalam nilai arti yang berbeda. Satunya melebar, satunya lagi menyempit. Jika ada yang sama, masih sama-sama tidak bisa digunakan untuk berjalan kaki. Bisa sih untuk jalan kaki, tetapi mengandung resiko. Kandungan resiko itu bisa melahirkan nyawa dari raga, melahirkan patah tulang, minimal melahirkan tagihan perawatan rumah sakit.

Kalau dilihat dari tanda pengerjaannya, sepertinya sudah cukup lama ruas jalan itu bertambah lebar, tetapi saya baru tahu, sekaligus baru melihatnya. Saya lupa kapan terakhir melintas, dari selatan ke utara. Saya coba mengingatnya, teringat….sudah lebih dari setahun yang lalu.

Kalau melintas dari utara, dari Kentungan ke selatan, masih cukup sering.
Tetapi kalau dari selatan ke utara, apakah memang sudah selama itu?

Hanya jalan Kaliurang dari Bulaksumur ke arah Kentungan, dan saya jarang melintasinya. Tanda sudah bertambah tua. Ruas jalan itu memang kebanyakan berisi anak-anak muda. Anak-anak kuliah, yang nge-kos di kanan kiri jalan, masuk gang, anak-anak muda harapan bangsa.
Kalau saya sudah bukan lagi harapan bangsa, tetapi sekadar harapan dapur, untuk menjaga agar tetap mengepul.

Dulu ketika masih muda, saya sering sekali melintas di ruas jalan itu. Bisa hampir setiap hari. Bukan untuk kuliah, tetapi untuk meminjam CD [compact disc, bukan celana dalam], di Istana Disc. Kalau tidak ya di Wahana Disc. Keduanya berada tak jauh dari perempatan Bulaksumur, ke arah utara. Paling hanya seratusan meter.

Dulu juga lalu lintas kendaraan sudah ramai, meski belum terlalu ramai. Belum perlu melebarkan jalan, dan menyempitkan trotoar. Belum perlu juga dipikirkan membangun underpass, tepat di perempatan Kentungan, untuk mengurangi kemacetan yang lazim terjadi pada pagi dan sore hari. Yang perlu dibangun memang harus terlebih dahulu flyover Jombor, meski persimpangan jalannya lebar. Pertemuan ring road dan jalan Magelang. Jarang macet, tetapi perlu dibangun flyover, agar terlihat gagah.

Pertama kali ke Istana Disc, diajak oleh seorang kawan kuliah di Jurusan Sejarah UGM. Nama kawan itu Kambil [bukan nama sebenarnya], nama sebenarnya Didit F Nugroho [F = Feryono, dan dia mengubahnya menjadi Ferry]. Pertama kali kesana, kawan saya itu meminta ditemani untuk mengembalikan beberapa keping CD dan VCD. Saya tidak tahu apa yang dipinjam kemudian akan dikembalikannya itu. Saya hanya tahu gambar di VCD tersebut laki-laki dan perempuan sedang berpelukan.

Semenjak itu saya tahu kalau Istana Disc adalah persewaan CD dan VCD. Lengkap, mulai dari MP3 sampai program komputer, bukan hanya CD dan VCD yang bergambar sepasang manusia berpelukan.

Selepas pengalaman pertama itu, dan ketika sudah juga memperhatikan syarat serta tata cara peminjaman, saya sering kesana sendirian. Bukan meminjam VCD bergambar sepasang manusia berpelukan, tetapi meminjam yang berisi lagu-lagu, MP3. Kalau kawan saya itu, hobinya berlanjut, dan sekarang menjadi kolektor.

Jalan Kaliurang waktu itu, sekira tahun 2004-2005, kalau macet belum terlalu parah. Baik yang dari selatan ke utara, maupun sebaliknya. Belum cukup untuk menaikkan tensi dan mendidihkan darah serta emosi. Belum cukup untuk memaksa pengendara-pengendara gila memencet tombol klakson meski tahu jalanan memang macet. Waktu itu, paling hanya sebatas mengernyitkan dahi, dan bertanya-tanya,
“Apakah di depan ada kecelakaan, kok macet?”

Kalau hari-hari terakhir ini, mengalami macet di Jakal tak ubahnya seperti penderita hipertensi makan sate kambing sekaligus empat porsi. Langsung membuat pusing, mual, muntah-muntah. Mungkin kemudian para perencana tata ruang mempersilahkan pembangunan hotel sebanyak-banyaknya di ruas jalan itu, dari Bulaksumur ke Kentungan. Kalau panas kena macet, bisa belok masuk hotel, kemudian ngadem mendinginkan diri, hati dan pikiran. Kalau capek kena macet bisa langsung menginap sekalian.

Mungkin juga kemudian dibangun underpass di perempatan Kentungan, agar kelak tak harus macet lagi ketika melintas di ruas jalan tersebut. Pembangunannya sudah berlangsung tiga bulan, dari dua belas bulan yang direncanakan. Tinggal sembilan bulan lagi, dan masyarakat akan bisa menikmati underpass jalur ganda pertama di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jakal ruas Bulaksumur-Kentungan melukiskan banyak kenangan, selain Istana Disc. Salah satu yang lainnya adalah angkringan. Dulu ada angkringan di sebelah barat jalan, tak jauh dari Istana Disc, yang konsep penyajian menunya berbeda dari angkringan lainnya. Nasi kucingnya tidak dibungkus, tetapi disajikan di piring. Harganya sama, isiannya juga sama. Nasi dengan sambal teri, atau nasi dengan oseng tempe cabai.

Penjualnya juga berpenampilan beda. Memakai sandal selop, celana kain, baju berkancing dan berkerah. Bajunya dimasukkan, rapi, seperti pegawai bank atau asuransi. Usia penjualnya sudah lima puluhan tahun saya kira. Rambutnya sedikit panjang tetapi klimis disisir rapi. Saya tahu angkringan itu juga dari seorang kawan, yang kos diseputaran daerah itu. Setelah tahu caranya memesan nasi kucing piringan itu, lain waktu saya sering kesana sendirian.

Selain menu standar, ada juga sayur tambahan yang disediakan. Sayur tambahannya tak pernah sama setiap harinya [saya suatu kali pernah bertanya karena penasaran]. Hampir selalu berganti, bervariasi. Yang sama tetap sambal teri dan oseng tempenya. Kalau dengan sayur tambahan, harganya sedikit berbeda. Tambah lima ratus rupiah.

Dulu, angkringan itu ramai, dari selepas Isya sampai tengah malam. Saya pernah duduk sendirian, dari jam delapan sampai tengah malam, sampai ketika penjualnya berpamitan karena sudah hendak tutup.

Tetapi akhir-akhir ini saya memang sudah jarang melintas Jakal. Tak ada lagi keperluan di seputaran daerah itu. Istana Disc sudah tutup semenjak lama, angkringan dengan nasi kucing piringan itu juga sudah tidak ada. Sehingga melintas di Jakal dari Bulaksumur ke utara, sudah jarang saya lakukan.

Maka ketika tempo hari melintas, dan merasakan serta menyaksikan banyak perbedaan, saya sedikit tertegun.

“Meski banyak berbeda, ada satu hal yang tidak berubah. [Masih] tak ada kali, tak ada urang, dan tak ada kesegaran khas kali yang banyak mengandung urang.”

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

18 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *