Catatan : Jalan Tol Kartosuro-Ngawi, Biaya dan Waktu

Kalau yang disasar serta diutamakan adalah perihal kecepatan, hemat waktu, pilihlah lewat jalan tol.

Kalau biaya termasuk menjadi pertimbangan, belum lagi keinginan untuk singgah di kota-kota sepanjang perjalanan, lewat saja jalan biasa, bukan tol.

Sederhana saja, daripada berdebat manfaat dan mudharat jalan tol.

Kalau butuh, mau lewat, pakai.

Kalau tidak butuh, ga mau lewat, ga usah pakai apalagi ditambah nyacat.

Baru juga sampai dan saya belum turun dari mobil karena harus bergantian mengambil rokok, hape, dan botol minum yang sudah kosong, seseorang bertanya dengan antusias. Perihal berapa lama waktu yang kami butuhkan untuk menempuh perjalanan dari Ngawi, Jawa Timur, menuju Prambanan, Sleman.

Saya jawab dua jam. Dari pinggiran kota Ngawi, dekat terminal, menuju ke Sleman, selatan Candi Boko Prambanan.

Pertanyaan waktu tempuh dilanjutkan dengan rute mana yang dilewati. Apakah lewat jalan arteri biasa, atau lewat jalan tol.

Saya jawab melalui tol, sembari mencari korek yang jatuh terselip di bawah jok.

Mahal dong kalau lewat tol, yang bertanya melanjutkan tanya jawabnya. Saya merasa seperti peserta cerdas cermat bidang ekonomi.

Saya bingung juga bagaimana menjawabnya. Mahal atau tidak ketika melewati tol, tak semata perihal perhitungan matematis.

Akhirnya saya jawab juga, sekenanya, sembari turun dari mobil :

“Kalau bagi saya pribadi, mahal. Tapi karena yang dicari adalah kecepatan dan waktu yang singkat, jadinya ya se-ukur. Ada biaya, ada rupa.”

Berapa tadi? Dua jam? Lewat jalan yang biasa ga harus tol paling juga dua jam kan?

Ah, masih mengejar rupanya.

Ga bisa Pak, ga bisa dalam-dalam nginjak pedal gasnya.

Tergantung yang bawa juga kan?
Lewat jalan yang biasa juga bisa cepat.

Yaelah, saya juga bukan pembalap. Mungkin saja kalau sopir antar kota, yang sudah terbiasa, bisa menempuh pinggiran Ngawi sampai ke Prambanan dalam dua jam? Memakai mobil MPV, tidak lewat tol, pada sekira jam 12.30 berangkat dari Ngawi. Mungkin bisa, ya?

Kalau saya, jelas tidak akan mampu. Di tiap persimpangan dengan lampu merah saja sudah pasti saya akan kedodoran. Apalagi menginjak pedal gas sampai speedometer menunjuk angka 130-140 seperti di ruas jalan tol. Saya tak akan bisa. Makanya saya kemarin ngotot juga kalau Ngawi-Prambanan tidak akan bisa ditempuh dalam dua jam, kalau tidak melewati tol.

Tetapi andai ada yang bisa, saya mohon maaf atas kengototan kemarin. Semata karena kalau saya, pasti tidak bisa.

Perjalanan ke Ngawi kami [ saya dan kawan-kawan] lakukan untuk takziyah ke tempat salah satu kawan. Mantan kepala Tata Usaha di tempat saya bekerja tepatnya. Ayahnya meninggal, pada hari Minggu, dan kami baru bisa takziyah satu hari setelahnya.

Beberapa kali saya ke Ngawi, dengan kawan-kawan, memakai mobil sebagai kendaraan, tapi selalu sebagai penumpang. Tak pernah sebagai sopir. Maka kemudian saya juga tak pernah menghapal jalan. Rute mana yang harus dilewati, ruas-ruas dengan jarak tempuh yang cepat, saya tak tahu. Saya bermodal nekat saja ketika akhirnya kemarin harus menjadi sopir. Pokoknya sampai Kartosuro setelah lurus terus dari Candi Prambanan, belok kiri, lalu kanan masuk tol. Nanti keluarnya kalau sudah ada penunjuk arah, selesai.

Kartu e-toll juga sudah siap, hasil dari meminjam, beserta saldonya. Saya hanya mengisi 50 ribu rupiah sebelum berangkat, dan saldo akhir tercatat 178 ribu rupiah ketika petugas kasir Indomaret memberikan nota. Haa, dan hari ini belum saya kembalikan, belum pula saya isi ulang.

Saya ini jelas kuper, jarang lewat tol. Berita juga saya jarang mengikuti, apalagi berita mengenai tarif tol. Saya tak terlalu peduli. Saya tak punya mobil, dan saya hampir tak pernah lewat tol sebagai sopir. Maka saya memiliki asumsi 50 ribu rupiah cukup untuk membayar tol dari Kartosuro menuju Ngawi, beserta pulangnya.

Yaa dasar kuper, kudet dan misqueen pula. Mana ada 50 ribu rupiah cukup. Hati saya tratapan ketika keluar dari pintu tol Ngawi, dan saldo yang diperlihatkan menunjuk nominal 94 sekian sekian sekian ribu. Wedew, masihkah cukup nanti beserta pulangnya?
Dari 178 ribu, kini tinggal 94an ribu.

Perjalanan berangkat dari Prambanan menuju Ngawi, via tol itu, menghabiskan waktu hampir 3,5 jam. Berhenti sekian menit mengisi bensin, sekian menit berhenti di Alfamart, dan banyak menit untuk berhenti di rest area 519. Selain itu karena memang hanya santai cenderung pelan saya menginjak pedal gas. Mobilnya bukan mobil saya, saya tidak berani bedigasan.

Berhenti di rest area sekian banyak menit itu juga hanya alibi saja. Belum tentu dalam waktu-waktu ke depan saya bisa masuk tol lagi, apalagi berhenti dan ngopi-ngopi di rest area-nya. Maka kemarin kawan-kawan saya kompori untuk mau mampir sejenak, dan berhasil. Mereka mau mengiyakan ide saya [tertawa jahat].

Sampai di Ngawi, di rumah duka, sudah hampir jam 12. Disuguh teh panas dan mie ayam yang juga panas. Hajaaarrrr, tiba-tiba saya merasa lapar melihat saldo e-toll yang tergerus drastis itu, yang dari 178 ribu menjadi 94 ribu itu di exit Ngawi.

Tanpa berlama-lama satu mangkuk mie ayam saya tandaskan. Mungkin kalau tidak lewat tol, saya belum bisa menikmati mie ayam di waktu yang sama.

Setelah selesai keperluan, meminta maaf karena baru bisa datang, menyampaikan ikut berduka cita yang mendalam, kami berpamitan. Ayah dari mantan atasan saya itu, tentara, atau veteran, entahlah. Yang jelas saya jadi teringat Pak Tuwo, kakek saya, ketika melihat foto yang terpampang di ruang keluarga.

Mantan atasan saya itu sekarang terlihat lebih metal, dengan cambang dan kumis berwarna putih yang dibiarkan tumbuh. Kami benar-benar berpamitan setelah sholat Dhuhur berjamaah.

Dekat saja rumah orang tua mantan atasan saya itu, dengan pintu masuk tol Ngawi. Tak sampai 10 menit selepas sholat Dhuhur, pintu tol sudah menjelang. Sepanjang 3 kilometer yang tak sampai 10 menit itu, saya tak melihat Indomart atau Alfamart. Bangunan yang ketika berangkat saya kira sebagai salah satunya, ketika pulang itu saya cari dan melihatnya dengan seksama, ternyata pos jaga sebuah batalyon tentara. Yasalaammm, bagaimana pula nasib saldo e-toll ini nantinya.

Bagi orang yang jarang dan hampir tak pernah keluar masuk jalan tol seperti saya ini, perkara saldo sangatlah rumit dan mendebarkan. Berbagai pertanyaan silih berganti datang, tanpa jawaban.
Bagaimana jika nanti saldo habis, portal tidak terbuka, sedang petugas jaga tidak ada?
Bagaimana jika kemudian ditambah belakang banyak antrian?

Perkara tidak bisa lewat sih, sederhana saja. Tinggal tunggu sampai ada yang membantu. Tetapi perkara malu….?

Sepanjang pulang, dari pintu masuk tol Ngawi sampi keluar di Kartosuro, pedal gas saya injak agak dalam dan menghasilkan rata-rata angka speedometer 130-140. Waktunya sekira 45-50 menit, saya lupa. Tidak mampir lagi di rest area.

Sampai di kantor, sekira jam 2.30, dari waktu berangkat sekira jam 12.40. Hampir 2 jam, berselisih sekira 1,5 jam dari waktu berangkat. Awalnya, saya kira perjalanan pergi pulang akan memakan waktu sampai dengan Maghrib. Ternyata tidak, cepat saja.

Menjelang pintu keluar di Kartosuro itulah, yang membuat saya terus menerus deg-degan. Sampai di pintu, kartu saya tempelkan di alat otomatis. Bisa, saya hampir berjingkrak. Saldo terinformasi sebesar 5 ribu sekian sekian sekian rupiah. Alhamdulillaaahhhhh….

Saya kira, lewat tol adalah pilihan semata, seperti saya sampaikan di awal. Kalau mau mampir-mampir, dan tak terlalu tergesa, apalagi ingin menikmati kuliner, jangan lewat tol. Belum lagi biaya itu tadi.
Menurut saya pribadi, tol untuk yang ingin berkejaran dengan waktu, dan tak ingin banyak diganggu dengan banyaknya persimpangan dengan lampu merah.

Kalau saya?
Ngapain saya lewat tol, mobil saja tak punya.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

45 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.