Catatan : Jumat Melelahkan, Sekaligus Menyenangkan

Harusnya Jumat menjadi hari yang menyenangkan, karena ini adalah hari raya mingguan. Konon banyak berkah dan keberkahan yang bertebaran. Senyatanya hari ini terasa melelahkan, bahkan ketika penggal waktu belum merangkak siang.

Masih pagi, dan kelelahan yang sangat datang menyergap. Gegara bangun tidur yang terlalu siang, dan kemudian rasa tidak siap datang menyerang. Padahal malamnya, tidur juga tak terlampau larut.

Bangun yang terlalu siang itu, membuat saya harus melewatkan pagi tanpa kopi. Serba tergesa, dan tak ada suplemen semangat yang tersesap.

Begini, bagi saya, kopi pada pagi hari lebih serupa dengan altar pemujaan, atau tempat-tempat bersujud merendahkan kepala pada Sang Maha Wujud. Hal sekaligus tempat memanjatkan doa, sembari meratap penuh harap meminta kebaikan sepanjang hari.

Sehingga ketika secangkir kopi terlewat karena keteledoran, kesiangan, maka saya melewatkan sepenggal waktu di altar pemujaan.

Malamnya mungkin saya memang tak tidur terlalu malam. Tetapi akumulasi penat yang bertumpuk dari hari-hari sebelumnya, membuat tubuh sepertinya tak mentolerir rasa lelah yang teramat sangat. Rencana untuk cuti gagal berantakan, tanpa sebab yang jelas. Meski tak ada jaminan juga bahwa cuti akan bisa membuat hati dan pikiran kembali segar. Tetapi setidaknya, dalam waktu cuti bisa memberikan jeda untuk sejenak berkontemplasi. Kontemplasi untuk memilah dan memilih mana saja beban yang sudah layak untuk dibuang, dan mana beban yang segera harus diringankan.

Tentu saja hidup adalah perihal mengangkat satu beban ke beban berikutnya. Berlanjut, berkesinambungan, dan berkelindan.Maka memilah dan memilih beban yang pantas untuk diangkat diselesaikan, atau harus dibuang, adalah keniscayaan.

Kalau boleh jujur, memang ada sebab-sebab kenapa tubuh saya terasa sangat penat. Sebenarnya penat yang berasal dari pikiran. Terlalu banyak hal yang mengganggu pikiran akhir-akhir ini. Celakanya, saya tak bisa menulis dan menguraikannya secara jelas dan gamblang.

Ketidakmampuan menguraikan permasalahan itu, dari waktu ke waktu mengendapkan semacam beban pada pikiran.

Saya tak bisa jujur mengungkap dan menguraikan hal-hal yang mengganggu itu. Karena jelas akan berakibat tidak baik, dan membuat goncangan dalam skala masif, bahkan merusak.
Pada apa?
Itu pun tak bisa saya sampaikan.
Yang jelas, ini hal yang sangat tidak baik.

Saya masih berusaha menutupi, dan menahannya agar tak terpancing untuk mengungkapkan. Semoga saja hati saya akan selalu kuat untuk menyimpan dan menahan. Agar tak ada kerusakan yang timbul. Kadang kebaikan harus ditahan sedemikian rupa, tidak diungkapkan, agar mengendap menjadi kebenaran. Agar kebaikan itu tak lantas berubah menjadi keburukan.

Dari dulu, kebanyakan beban pada pikiran selalu menjadi penyebab utama saya kelelahan. Dalam suatu kasus, bahkan sampai memicu datangnya sakit tipus. Semoga saja, tak harus ada tipus kali ini.

Sampai menjelang sholat Jumat, penat tak juga terurai. Masih menggumpal dan tidak bisa disingkirkan.

Saya kemudian teringat unggahan foto dengan disertai keterangan dari seorang kawan lama saya di Facebook :

“Jenenge urip yo mesti akeh ujian e. Nek okeh motor ro mobil jenenge Jalan Malioboro…” [Namanya hidup pasti banyak ujian. Kalau banyak kendaraan namanya Jalan Malioboro]

Koces

Haa, benar juga.

Lagipula hal seperti yang saya rasakan akhir-akhir ini, tidak mirip sama sekali dengan suatu ujian. Hanya tidak sinkronnya antara apa yang dirasakan oleh hati, dan ketidakmampuan pikiran mengungkapkan. Ujian itu misalnya, tak segera mempunyai keturunan. Itupun sebenarnya juga bukan ujian, tetapi suatu keharusan yang mau tidak mau harus dijalani. Ketentuan yang tanpa banyak persyaratan harus dilakoni. Saya manusia yang percaya Tuhan, sepenuhnya, tanpa syarat, tanpa ketentuan. Terlebih, saya selalu percaya bahwa saya ini salah satu anak kesayangan Tuhan. Maka sebenarnya, tak perlu ada yang dirisaukan perihal ujian, atau hal-hal yang tak menyenangkan.

Ketika Tuhan tak lekas memberikan keturunan, mungkin memang begitu caraNya menyayangi saya. Untuk bertemu dan bertanya langsung, saya belum bisa. Maka saya hanya menafsirkan secara sepihak. Kalau pun tafsir saya salah, akan saya tadaburi segala ketentuanNya untuk banyak-banyak bersyukur dan tertawa. Sembari satu dua tiga kali misuh tentunya.

Mendadak segalanya terasa terang, tepat ketika adzan Jumat berkumandang. Tak lagi gelap, tak lagi menjemukan, tak lagi melelahkan.

Ah iya, perihal Jalan Malioboro itu saya juga jadi teringat filosofi tentangnya. Filosofi perihal Jalan Malioboro, kenapa namanya Malioboro, dan mengapa setiap manusia harus melewati serta menempuhnya. Melewati dan menempuh bukan secara harfiah, tetapi sebagai suatu metafora.

Yang membuat saya teringat, adalah penjelasan dari Emha Ainun Najib, Cak Nun. Mengenai Malioboro, yang lebih dari sekadar satu ruas jalan ikonik penuh dagangan dan wisatawan.

Malioboro adalah, Maliho Dadi Wali Sik Ngumboro [berubahlah menjadi wali yang mengembara].

Manusia harus mengubah dirinya menjadi ‘wali’, yang mengembara. Mengembara dalam arti terus menerus mencari kebaikan, meski di tengah kondisi sempit dan penuh kecurangan. Mau untuk terus berkontemplasi, memperbaiki diri, mengembarai semesta dirinya sendiri. Agar tak tersesat, agar kemudian sampai di ‘Jalan Margomulyo’ [jalan yang penuh kemuliaan].

Sebelum menempuh jalan Malioboro, manusia harus terlebih dahulu menempuh jalan Margoutomo [Jalan Keutamaan]. Jalan keutamaan, jalan utama sebagai manusia. Yaitu jalan yang penuh kebaikan, bagi diri sendiri, utamanya bagi orang lain dan lingkungan sekitar serta semesta alam. Bagi seluruh makhluk di sekitarnya. Jalan utama tidak memperkenankan segala hal yang tidak baik untuk turut serta. Hanya ada kebaikan dan keikhlasan.

Setelah teguh menempuh jalan keutamaan [Margoutomo], maka manusia akan sampai di jalan perubahan [Malioboro].

Ketika sudah tandas hidupnya di Malioboro, jalan pengembaraan untuk terus menerus mencari kebaikan dan kebenaran hakiki, maka manusia akan sampai di jalan Margomulyo. Jalan yang penuh kemuliaan. Kemuliaan dalam definisi yang paling riil serta haikiki. Kemuliaan yang tak hanya sebatas atribut kebendaan, keduniawian, apalagi uang pangkat dan jabatan. Di sini, penanda kemuliaan manusia adalah bahwa segala sikap, tingkah dan perbuatannya tak lain adalah pengejawantahan ‘sikap Tuhan’. Sikap welas asih tanpa memandang ras, suku, atau bahkan agama. Menebarkan rahmat selayaknya matahari menyinari bumi. Bermanfaat bagi siapapun.

Kemuliaan yang membawa dan menandai dirinya sebagai sebenar-benarnya manusia. Khalifah di muka bumi. Manusia yang menyejukkan dan menenteramkan. Manusia yang membawa kebaikan bagi sekitarnya. Manusia yang bermanfaat tanpa keinginan mengambil manfaat serta keuntungan bagi dirinya sendiri. Ia selalu percaya, Tuhan akan memberinya banyak manfaat tanpa banyak meminta, jika ia juga sudah bermanfaat bagi manusia, makhluk lain, juga alam sekitarnya.

Setelah melewati jalan Margomulyo, manusia akan sampai di Jalan Pangurakan [pelepasan].

Pangurakan, atau pelepasan, yang berarti bahwa manusia sudah takkan peduli lagi perihal atribut duniawi. Bukan lantas tak bekerja atau berusaha mengupayakan nafkah untuk hidupnya, tetapi semata bahwa apa saja yang dikerjakannya, tak mengikat dirinya.

Tak mengikat yang berarti, bahwa segala yang ia lakukan tak memiliki tendensi pribadi. Cukup Tuhan bagi dirinya. cukup Tuhan yang menjaganya.

Seolah, ia sudah ‘menyatu’ dengan Tuhan nya. Ia takkan kecewa ketika dunia meninggalkannya hanya bersama selembar pakaian. Pun ia takkan tertawa bahagia ketika dunia membawakannya setumpuk harta dan setinggi-tingginya jabatan. Semua, ia bingkai dalam makna ketuhanan. Bahwa semua hanyalah fana, titipan, dan tak berhak dirinya untuk menggenggam erat atau meratapi segala hal duniawi.

Di Jalan Pangurakan, manusia bahkan takkan lagi peduli segala eksistensi pribadi. Semua yang ada, adalah cerminan dari perintah Tuhan terhadap manusia, ketika diturunkan ke dunia.

Ah, menjelang Ashar, mendadak semuanya sudah terang benderang, gilang gemilang.

Oh iya, terima kasih untuk kawan saya, Koces. Yang dulu pernah menghabiskan jatah ketela saya untuk seminggu, karena ia makan sendirian dalam sehari.

Karena Koces, hari ini saya teringat Malioboro. Karena Malioboro, saya jadi teringat petuah bijak dari Cak Nun. Karena mengingat petuah itu, segala hal yang melelahkan itu kini berganti menjadi menyenangkan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

14 Comments

  1. My programmer is trying to persuade me to move to .net from PHP.

    I have always disliked the idea because of the expenses.
    But he’s tryiong none the less. I’ve been using Movable-type on numerous websites for about a year and am anxious about switching
    to another platform. I have heard excellent things about blogengine.net.
    Is there a way I can import all my wordpress posts into it?

    Any kind of help would be greatly appreciated!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.