Catatan : Kawan, Usaha, Macam-macam

Beberapa bulir, tetes, rintik air hujan, mengawali dan menemani perjalanan saya, tadi malam. Rintik yang datang memang serupa sapaan saja, peringatan, bahwa saya harus bergegas sebelum datang hujan.

Mungkin langit tahu, bahwa saya sedang tak ingin kehujanan, malam-malam, maka ‘ia’ mengutus rintik untuk memperingatkan.

Terima kasih.

Sampai di Warung Mojok [Warmo], tidak kehujanan.
Dalam diskusi singkat dan mendadak pada grup Whatsapp teman-teman SMA, beberapa orang mengajak untuk bertemu. Sekadar ngopi bareng, seperti sebulan yang lalu.
Saya ngikut saja, karena pasti ada kopi gratisan [lagi].

Sampai di Warmo bertepatan dengan adzan Isya yang terdengar berkumandang dari beberapa masjid yang berdekatan. Bebarengan dengan salah satu kawan karib saya dulu, teman ‘membolos resmi’, yang tadi malam datang bersama adik bungsunya. Seingat saya dulu adik bungsu kawan saya itu, masih hanya memakai celana dalam ketika berada di rumah, ketika saya juga masih sering kesana untuk bermain PS. Tetapi kini kok yaa, sudah besar.

Setelah memilih tempat duduk, saya mengambil buku menu di meja kasir,

“Semua makanan berat sedang kosong ya mas.” pegawai memberi informasi.

Djangkrik, saya membatin. Ga usah yang berat deh, welter atau bantam juga gapapa, saya hampir menyahut. Tetapi ‘ya’ dan terima kasih adalah kata yang saya ucapkan untuk membalas informasi tersebut.

Ya terang saja misuh, saya sebenarnya sedang kelaparan, dalam level kritis mendekati berbahaya. Kalau semisal saya Ultraman, maka lampu di dada saya sudah berkedip-kedip menyala merah.

Tetapi kalau sudah nasib, mau bagaimana lagi. Toh biasanya menu juga melimpah tersedia.

Segera kami bertiga memesan menu. Blue Tamblingan tak ketinggalan, sembari mata menangkap messiah pada buku menu. Mie.
Adik kawan saya itu, kami suruh menyerahkan pesanan kepada pegawai, sembari saya titipkan pesan untuk bertanya apakah mie ada tersedia. Mie kan bukan makanan berat, bahkan hanya camilan saja [bagi beberapa orang].

Ternyata, ada.
Alhamdulillah. Berarti saya tidak jadi mati, dan masih bisa mengobrol dengan kawan-kawan sebentar lagi.

Seorang kawan datang kembali. Seorang kawan karib yang dulu, beberapa tahun lalu ketika kami masih sama-sama belum menikah, pernah datang ke rumah tengah malam hampir dini hari, sembari menangis. Masalah perempuan. Saya selalu tersenyum atau hampir tertawa kalau mengingat kejadian itu. Nama kawan saya itu Bayex, bukan nama sebenarnya [nama sebenarnya Muhammad Purbaya].

Sebelum duduk, ia bertanya apa kopi yang enak, dan manis.
Nah, anda bisa menilai sendiri jenis manusia macam apa yang mencari kopi enak, tapi manis.
Tetapi karena ia adalah salah satu manusia yang diutus Tuhan, untuk menjadi kawan, ya tentu saya terima apa adanya.

Hanya berselang sekira sepuluh menit, datang lagi kawan karib yang lain. Kawan yang pernah saya ceritakan disini.
Seorang juragan tambang emas.

Kembali berselang dalam waktu yang tak begitu lama, salah seorang kawan karib lain, datang. Seorang bigotto [bahasa Italia] Ahmad Dhani. Penggemar Dewa garis keras tanpa pernah belok menjadi penggemar Kangen Band.
Kawan saya yang ini, dulu hampir setiap hari saya ke rumahnya [karena rumah orang tua kami berdekatan], dan mendengarnya curhat.
Curhat apa saja. Tetapi paling sering ia curhat mengenai betapa seringnya ditolak perempuan ketika menyatakan cinta.

Usaha

Kami hanya berlima saja, berenam dengan adik kawan saya itu.
Kawan-kawan lain sedang ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan.

Tak banyak yang kami bicarakan. Saya sendiri hampir lupa apa saja yang tadi malam kami perbincangkan.

Oh iya, kami sempat membicarakan Bukalapak. Kawan saya yang dulu cintanya selalu ditolak itu, sekarang berjualan hape melalui Bukalapak. Saya selalu bersyukur pada akhirnya ia mendapat dan mempunyai istri yang cantik serta mencintainya.

yang berkaus lengan merah ini, juragan hape.

Kembali ke Bukalapak. Kenapa pendiri Bukalapak sekarang uangnya sangat banyak?
Kalau saya sih tidak tertarik menjawabnya, hehehe…

Tetapi kalau anda ingin membeli hape, terutama merk Samsung atau Xiaomi, silahkan menghubungi kawan saya itu. Nama akun lapaknya Prabowo Khatulistiwa. Jangan terpaku dengan kata Prabowo. Namanya memang Adhi Prabowo [nama aslinya, Adhi Prabowo, SE, Akt]. Saya berani memberi garansi, anda tidak akan kecewa ketika melakukan transaksi jual beli dengan kawan saya itu. Orangnya jujur, saking jujurnya terkadang saya ingin melemparnya dengan sepatu kuda.

ini akun lapaknya.

Sebentar, sulut rokok dulu, baru lanjut cerita.
Oh iya, kenapa kalau menyulut rokok, kita harus memakai api?
Soalnya kalau memakai puisi, nanti yang tersulut bukan rokok, tetapi cinta.
Hiyeekkk, garing yak???

Di antara kami berlima malam tadi, saya rasa, hanya saya saja yang tidak progresif. Dalam arti, terus melaju melawan arus kehidupan, memanfaatkan hidup dan usia, untuk menjalankan usaha. Usaha dalam konteksnya pada bidang ekonomi maksud saya. Kalau usaha untuk tak terlihat kumal, saya juga menjalaninya, dengan mandi dan gosok gigi.

Hampir semua kawan saya ini, pengusaha. Selain juragan hape di Bukalapak di atas itu tadi, dua kawan saya yang lain adalah pengusaha juga.

Arfyn, kawan yang ketika tiba di Warmo bebarengan dengan saya tadi, adalah pemilik salah satu toko kain di kota Wates, Kulonprogo.
Saya sendiri heran, kok bisa orang yang sekolah saja dulu blas ga niat, kok bisa punya dan menjalankan usaha. Telo…

Tokonya ada di sebelah utara patung Nyi Ageng Serang. Perempatan ke arah utara sedikit, nanti tokonya di sebelah kanan jalan. Kalau dari arah kota ya di kiri jalan, sebelum perempatan.

Nama tokonya, ‘Aulia’. Aulia Textile.

Kok ya namanya keminggris begitu?
Mbok ya Aulia Kain, Aulia Gombal, atau Aulia Gombalan.

Eh tapi. Siapakah Aulia? Kok sampai Arfyn menggunakan namanya [penasaran].

tokonya, ramai.

Saya pernah bertanya ketika sebulan lalu bertemu, apa yang membuatnya memilih bisnis kain. Ia menjawab :

“Uwong ki ra mungkin wudo to, Nang?” jawabnya.

Woiya. Saya jadi teringat kalau pepatah hidup manusia Indonesia diawali dengan pakaian.

“Sandang, pangan, papan.”

Di manapun anda berada, menginginkan kain yang bagaimana, dengan harga yang sesuai dan bisa dinego sak mumpluk’e lambe, jangan ragu hubungi kawan saya itu. Nomor kontaknya tercantum. Ia menerima kirim, dalam maupun luar kota, asal dengan nego dan biaya yang sudah disepakati, hehehe…

Saya juga berani menjamin dan memberikan garansi, bahwa anda tidak akan kecewa bertransaksi dengannya. Salah satu buktinya, ia tidak pernah berbohong pada perempuan. Kalau ia yang dibohongi, sering. Arfyn, yang memakai kaus berwarna hitam, dalam foto paling atas dari tulisan ini.

Kawan saya yang lain, yang juragan tambang emas itu, adalah juga pengusaha. Setidaknya ia mempunyai tiga lini usaha. Sandang, pangan, nyanyi.

Atas banyaknya lini usaha yang bisa ia dirikan dan kelola, saya tidak heran. Semenjak SMA, otaknya adalah salah satu yang paling encer di antara kami.

Kalau sudah begini, rasanya ingin saya protes kepada Tuhan, kok otak saya blas gak encer?
Tapi saya batin saja, takut Tuhan dengar, dan marah. Hiks…

yang kaus hitam berkacamata, juragan sandang-pangan-nyanyi

Ia punya usaha distro, kaus, dengan merk Maclaim. Entah jangan tanya saya arti namanya, apalagi tanya kausnya nyaman atau tidak dipakai. Saya belum pernah mendapat kiriman kaus itu soalnya, haaa…
Jadi ya saya ndak bisa memberikan deskripsi detail. Eh tapi, desain kausnya menarik. Silahkan kunjungi akun Instagram yang nanti saya sertakan skrinsut-nya.

Ia juga punya resto pizza, yang diberi nama, Montego Pizza, terletak di Magelang. Kunjungi juga akun IG, lihat gambar dan ulasan, lantas menuju lokasi restonya kalau anda tertarik. Saya sendiri tentu suka pizza, tetapi tidak suka beli. Tahu artinya kan? Hardcode…

akun instagram lini usahanya.

Kawan saya itu juga punya studio musik. Studio nyingnyong yang terletak di dekat rumahnya. Setahu saya, ini adalah lini usahanya yang pertama. Katanya, dulu bersama studio musik yang diberi nama Bugs Studio itu, sempat juga akan dibuka tempat pijat karaoke keluarga, tetapi urung karena lahannya berdekatan dengan kuburan. Takut mengganggu kekhusyukan tidur para penghuninya.
Studio musik ini didirikan, saya rasa, sebagai ajangnya untuk balas dendam. Dulu, kawan saya ini adalah drummer handal, bisa berbagai genre musik, kemampuan mumpuni, wajah tampan, namun tanpa fans perempuan.

Lalu apa hubungannya dengan balas dendam?
Ya ga ada, fans perempuan saja dia ga punya, gimana mau nyari hubungan?

Tapi itu dulu, sekarang kawan saya itu sudah menikah. Alhamdulillah, untung ada yang mau.

Sedang kawan saya yang terakhir akan saya ceritakan ini, tak usah diragukan lagi kemampuannya dalam bidang usaha.

Memang [sepertinya] ia belum mempunyai lini bisnis yang dikelola, tetapi ia adalah calon pejabat dengan otak cemerlang. Ia PNS sama seperti saya, tetapi ia bertugas di Balitbang Keagamaan Semarang.

Bagi PNS seperti kami, sulit untuk bisa membuat bisnis dan usaha. Usaha yang bisa dilakukan untuk memperbaiki nasib, adalah bekerja keras dan cerdas. Dan, kawan saya itu melakukannya.
Otaknya cemerlang, dan saya rasa, berada diatas rata-rata amtenar Kemenag di seluruh Indonesia. Karir dan masa depannya, terang benderang.

Kenapa saya bisa yakin?
Yaa karena saya pernah melihatnya menangis sesenggukan, oleh sebab perempuan.
Laki-laki yang pernah menangis, apalagi karena perempuan, tetapi mampu bangkit lagi, adalah laki-laki yang kuat menyangga dan menopang dunia.

Macam-macam

Kami bubar pada jam 22.16. Warmo sudah sepi, dan hanya menyisakan kami. Udara sedikit terasa lembab, dan dingin.

Benar saja, kopi gratis. Kawan saya yang juragan tambang emas dan juragan sandang-pangan-nyanyi, membayar semua tagihan.
Biar saja, uang recehnya tak akan habis untuk membayari kami ngopi bahkan seminggu dua atau empat kali.

Saya pulang berkalang dingin jalanan, tetapi dengan pikiran yang hangat oleh bermacam-macam hal. Saya selalu banyak mengambil pelajaran dari tiap acara dan pertemuan apapun dengan kawan-kawan, apalagi ngopi.

Salah satu selain yang sudah saya ungkap di atas, adalah perihal suatu pelajaran penting yang bisa saya simpulkan :

“Kopi selalu menjadi terasa lebih enak, ketika dibayari.”

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

13 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *