Catatan : Kopi, Kawan, dan Misteri Kejadian

Berada di antara mereka, saya hanya serasa seperti buih sisa cucian piring dan pakaian.

Kopi gratisan

Beberapa waktu lalu, salah satu kawan di grup Whatsapp ‘sekelas waktu SMA’, mengirim pesan ajakan untuk bisa meet up, sekadar mengobrol dan berkumpul. Saya langsung mengiyakan saja ajakan itu, bukan karena kangen atau karena lama tak bertemu dengan kawan-kawan SMA saya, tetapi karena kopi gratisan. Yaa, hidup dan kehidupan saat ini adalah tentang modal, kapital, keuntungan, dan juga gratisan, Ferguso... 

Hari, tanggal, jam, serta tempat sudah ditentukan, saya manut saja. Toh jarak dari Pyongyang ke semua wilayah peninggalan Pangeran Mangkubumi  yang didapat dari Perjanjian Giyanti masih bisa dijangkau dengan kendaraan dan jarak yang tak merisaukan. Apabila nantinya tiba-tiba rasa malas menyergap menjelang berangkat, bilang saja sedang ikut menunggu kucing tetangga yang hendak melahirkan.

Tanggalnya tepat se-angka sebelum hari ini, selepas Isya’ melangkah pulang sampai hampir tengah malam, di Warung Mojok (Warmo) Jalan Kapten Haryadi Sleman.

Sampai di tempat, jam delapan lebih tujuh menit. Sudah ada tiga kawan semasa SMA yang datang di Warmo. Saya tak bisa datang lebih awal. Selain karena Bleky sedang tidak bisa diajak berlarian sedikit kencang, semenjak siang hari badan saya greges-greges. Sebelum berangkat saya juga sempat minum Tolak Angin. Tetapi demi kawan kopi gratisan, akan saya tempuh jarak meski tak ada cukup tenaga di kandung badan.

Silahkan tertawa untuk satu atau dua cangkir kopi gratis. Tetapi ‘kopi’ dan ‘gratis’ adalah tesis dan antitesis yang bersintesis, bersenyawa, sehingga menimbulkan suatu tindakan terus menerus untuk tak mudah menolak rejeki dan menghindari kesia-siaan.
Jadi, tujuan saya ya untuk tidak nampik rejeki, berusaha menerima rejeki, meski bagi beberapa orang tak mempunyai nilai untuk patut diperjuangkan, hanya satu atau dua cangkir kopi.

Kawan

Selepas memarkir Bleky pada tempatnya, saya mengedarkan pandangan. Ada sesuatu yang menarik ketika tadi selintas terlihat sembari mencari tempat parkir. Dalam kerumun tiga orang pada salah satu sudut, saya karib dengan wajah satu orang, namun asing dengan dua lainnya. Apa daya, meski sudah optimal mencoba menajamkan pandangan untuk memastikan dua sosok asing di mata saya, hasilnya saya hanya bisa mengidentifikasi satu orang. Satu orang ‘asing’ tetap tak bisa saya temukan dalam lemari ingatan kolektif kawan-kawan semasa SMA. Dengan langkah berbumbu penasaran, saya menghampiri mereka bertiga, menyapa dengan mencoba seramah mungkin sembari mengulurkan tangan, dan masih mencoba menerka siapa satu yang tak bisa saya kenali.

Ternyata, satu orang yang tak bisa saya kenali tersebut adalah salah satu kawan yang termasuk karib dan akrab semasa SMA, bahkan setelahnya. Dia juga adalah orang yang pertama kali memperlihatkan kepada saya bahwa film bokep apapun yang diputar dari komputer mempunyai kelebihan dibanding ketika diputar dari perangkat VCD Player.
Dulu julukannya balung, karena badannya yang tinggi kurus hampir tanpa daging apalagi lemak. Tetapi tadi malam, balung itu sudah berbalut daging, bahkan juga lemak dalam kadar yang berlebih. Pantas saja laci-laci ingatan saya tak bisa menemukan arsip bentuk muka dan tubuhnya. Mungkin lebih dari tujuh tahun saya tak berjumpa dengannya.

Setelah menyapa dan berjabat tangan, saya berbasa-basi sejenak dengan empu acara hari itu, kawan yang mengundang, seorang pegawai senior di sebuah pertambangan batu bara (ralat : pertambangan emas) besar berskala internasional, pemilik beberapa studio musik, pemilik sebuah (atau beberapa buah?) brand merk pakaian, restoran, dan juga beberapa usaha lain. Saya harus menyapanya, daripada tak jadi mendapat kopi gratis.

Hampir lima belas menit berlalu, belum ada kawan lain yang bergabung. Masih kami berempat, dan basa-basi belum beranjak saling bertukar kabar. Tetapi, bukankah basa-basi itu memang adalah hal terbaik di muka bumi? Hal yang mengabadi dalam pertemuan jenis apapun, adalah basa-basi. Jauh lebih abadi dari peristiwa ujian skripsi yang saya yakin sebentar lagi akan dihapuskan dari syarat kelulusan sarjana, dan jauh lebih abadi dari berbagai pertemuan lain termasuk reuni itu sendiri.
Tak berapa lama, bertambah satu orang kawan, mengendarai sebuah sedan tua elegan. Saya langsung terbayang anggota Triad mafia di Hongkong dalam film-film mandarin.

Misteri Kejadian

Kawan yang mengendarai sedan itu datang bersama keluarganya, satu istri dan dua anak laki-laki. Dua anaknya terlihat aktif dan sehat, entah kalau istrinya (siapa tahu tertekan mendampingi kawan saya ini).
Begini, kawan saya ini, dengan panggilan julukan ‘murdog’, jika dulu beberapa orang termasuk guru ditanya bagaimana masa depannya termasuk dalam hal perjodohan, hampir semua akan menjawab : suram.
Tetapi anda tahu? Kini dia sudah beristri satu (entah kalau ternyata dua), beranak dua sehat-sehat (untung saja cakep semua tak seperti bapaknya), dan mempunyai kehidupan serta penghidupan lebih dari cukup. Pekerjaannya sebagai kontraktor signal engineering provider telepon seluler, mengantarnya menjadi anomali terbesar perihal hubungan pelajaran sekolah dengan pekerjaan.

Bukankah kejadian, apalagi pada masa kedepan, bahkan sepersekian detik yang akan datang, adalah misteri?

Berselang hampir setengah jam kemudian, datang lagi kawan saya yang lain. Seorang tukang insinyur, arsitek sukses, berotak brilian namun dengan kemampuan ingatan level KW-21. Dulu sewaktu masih bersekolah, kawan yang sekarang arsitek sukses ini saya benci hampir setengah hidup. Bagaimana tidak, bersama kawan empunya acara tadi malam, dan dua atau tiga orang kawan lain di dalam kelas, mereka memonopoli otak dan kemampuan belajar kami satu kelas. Mereka berlima atau berenam saja yang mempunyai otak brilian, sedang sisanya pas-pasan, saya sendiri berotak tiarap tak karuan.

Kini kami berenam, dan obrolan mulai beranjak dari saling bertukar kabar. ‘Ape’, kawan yang semenjak saya datang dan mencari tempat parkir sudah tak asing di pandangan, sudah tak terlihat bermuka pucat seperti ketika masih bersekolah dulu. Dulu, dia mempunyai roman muka pucat layaknya vampir kekurangan kasih sayang darah, karena suatu gangguan pada sel-sel darahnya. Tetapi kini ia sudah sembuh, entah dengan metode pengobatan yang bagaimana. Semasa SMA, kelainan sel darahnya menjadi semacam tiket bolos bagi kami kawan-kawan dekatnya. Dengan beralasan mengantarnya berobat, atau pulang karena Ape merasa tak enak badan, kami bisa mendapat surat ijin resmi untuk pulang sekolah sebelum waktunya. Tentu saja alasan-alasan itu hanya dibuat-buat. Bahkan terkadang Ape juga sehat-sehat saja, dan kami membolos dengan ijin resmi, untuk bermain PS dirumahnya.
Ape, sekarang adalah seorang juragan kain sukses. Tokonya tersebar di kota Wates dan sekitarnya. Yaa, padahal dia dulu mbolosan.

Tak berapa lama kemudian, bertambah lagi kawan yang datang, ‘Othe’, kawan karib saya dalam acara bolos membolos dan merokok. Tak ada yang jauh berubah dari gestur, tubuh, maupun mukanya. Bahkan ketika dia masih berada diseberang jalan sebelum masuk Warmo, saya sudah mengenalinya meski kami tak bertemu juga lebih dari enam tahun. Othe kini adalah pekerja media dengan konten kreatif.

Kopi, mendhoan, dan kentang goreng berpindah dari tempatnya menuju mulut dan perut masing-masing penyantapnya. Warmo bertambah ramai, sedang kami juga tak ingin kalah ramai. Teriak saja, mengganggu atau tidak urusan belakang.

Sebuah Nissan Evalia Serena berwarna hitam terlihat memasuki parkiran, berhenti tepat disebelah kami duduk. Pengemudi turun, dan…itu adalah kawan saya yang lain, Bokir. Juragan film bokep semasa SMA itu kini sudah berhijrah dan menjadi pendukung garis lurus dari gerakan 212. Salah satu kawan karib saya bahkan setelah kami sama-sama lulus SMA. Salah satu kawan yang banyak memberikan kepada saya referensi perihal lagu-lagu Tarzan X dari Dewa 19, Dewa, dan semua lagu dari Ahmad Dhani. Kini kawan saya itu juga sudah menjadi juragan. Selain juragan kontrakan, kos-kosan, dia juga distributor beberapa merk telepon pintar seperti Oppo dan Vivo.

Kawan saya yang terakhir datang malam tadi, adalah seorang polisi yang bertugas di Mapolda DIY. Dia bertugas di Direktorat Reserse Kriminal, bagian tindak pidana untuk kasus khusus dan spesifik seperti pengawasan obat dan makanan, hak cipta, persaingan usaha, dan lain-lain. Rumit bukan?
Padahal dulu, kawan saya itu termasuk dalam gerbong rombongan penghuni ranking sepuluh terakhir di kelas bersama-sama juga dengan saya.
Sungguh, betapa hidup dan perjalanannya adalah misteri yang serupa konon dan cerita-cerita mitos serta legenda. Sulit dipercaya, namun mengacak-acak nalar serta logika.

Sungguh saya berbahagia tadi malam bisa bertemu dengan mereka. Kawan-kawan yang mengubah pandangan dan stigma perihal kenakalan remaja di masa itu. Senyatanya, kini mereka adalah orang-orang hebat dan sukses dalam bidangnya masing-masing.

Dihadapan mereka, saya hanya merasa seperti buih sisa cucian piring atau pakaian.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

7 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *